Bom Bunuh Diri

Begini Persiapan Pelaku Bom Bunuh Diri, Sebelum Memilih ''Bersama 7 Bidadari di Surga''

Keyakinan para pelaku bom bunuh diri atau disebut bomer bahwa jika mereka melakukan bunuh diri, ''berjihad'' akan mendapat hadiah

Begini Persiapan Pelaku Bom Bunuh Diri, Sebelum Memilih ''Bersama 7 Bidadari di Surga''
TRIBUN MEDAN/M ANDIMAZ KAHFI
Kapolda Sumatera Utara Irjen Pol Agus Andrianto saat ditemui di RS Bhayangkara Medan. 

TRIBUNMANADO.CO.ID, MEDAN - Keyakinan para pelaku bom bunuh diri atau disebut bomer bahwa jika mereka melakukan bunuh diri, ''berjihad'' akan mendapat hadiah tujuh bidadari di surga. Kepercayaan inilah yang menjadi doktrin para pelaku bom bunuh diri. 

Rudi Suharto (52) merasa sedih tiga anaknya terkait bom bunuh diri di Mapolrestabes Medan pada Rabu pagi (13/11/2019). Ketiganya yakni Aris (28), Andri (25) dan Fadli (23). Saat ini Andri melarikan diri.
Rudi Suharto (52) merasa sedih tiga anaknya terkait bom bunuh diri di Mapolrestabes Medan pada Rabu pagi (13/11/2019). Ketiganya yakni Aris (28), Andri (25) dan Fadli (23). Saat ini Andri melarikan diri. (KOMPAS.com/DEWANTORO)

Terkait hal ini, Kapolda Sumatera Utara Irjen Pol Agus Andrianto mengungkapkan bahwa aksi bom bunuh diri di Mapolrestabes Medan sudah direncanakan dengan matang.

Jaringan kelompok yang diduga berafiliasi dengan ISIS ini, juga sempat melakukan pelatihan sebelum menjalankan aksi mereka di Mapolrestabes Medan.

Kelompok ini sudah mempersiapkan secara matang. Karena dari racikan bahan peledak dan bahan yang ditemukan di TKP, ada bahan senpi rakitan dan ada senjata tajam, panah dan senapan angin.

"Sebelumnya mereka para terduga teroris sempat menjalani pelatihan. Mereka melakukan pelatihan di suatu tempat di daerah Tanah Karo," kata Agus di RS Bhayangkara Medan, Senin (18/11/2019).

"Jadi artinya mereka memang benar-benar berlatih untuk mempersiapkan aksi tersebut," sambungnya.

Jalan menuju gubuk di sebuah tambak di Canang, yang diduga sebagai tempat para pelaku merakit bom bunuh diri di Polrestabes Medan.
Jalan menuju gubuk di sebuah tambak di Canang, yang diduga sebagai tempat para pelaku merakit bom bunuh diri di Polrestabes Medan. (TRIBUN MEDAN/M ANDIMAZ KAHFI (Tribun Medan/M Andimaz Kahfi))

Agus menjelaskan dalam menyebarkan paham, kelompok ini memanfaatkan perkembangan teknologi.

Karena perkembangan teknologi sangat luar biasa. Jadi sekarang ini tidak mesti belajar dari imam-imam di Indonesia.

Tapi juga langsung belajar dari media sosial.

"Tentunya ini menjadi PR kita bersama, apakah kita ini merasa ancaman bersama yang membahayakan kita, keluarga kita dan lingkungan kita," jelasnya.

Halaman
123
Editor: Aswin_Lumintang
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved