Tren Bersolek Kerek Bisnis Personal Care

Penjualan produk kosmetik dan perawatan tubuh masih moncer hingga akhir September tahun ini.

Tren Bersolek Kerek Bisnis Personal Care
Ilustrasi Kosmetik 

TRIBUNMANADO.CO.ID, JAKARTA - Penjualan produk kosmetik dan perawatan tubuh masih moncer hingga akhir September tahun ini. Tren bersolek penduduk Indonesia yang meningkat turut memacu penjualan produk konsumer tersebut.

BKN Ulur Waktu Pendaftaran CPNS: Situs BKN Buka Dini Hari

Ketua Persatuan Perusahaan Kosmetika Indonesia (Perkosmi), Sancoyo Antarikso, mengatakan kondisi perekonomian nasional masih terbilang kondusif untuk menunjang penjualan produk kosmetik dan perawatan tubuh.

“Prospek penjualan produk kosmetik dan personal care di Indonesia cukup baik mengingat jumlah penduduk, jumlah kelas menengah yang meningkat dan konsumsi per kapita yang masih rendah,” ujar dia kepada KONTAN.

Sejumlah produsen produk kosmetik dan perawatan tubuh masih mencatatkan pertumbuhan kinerja hingga akhir kuartal ketiga tahun ini. PT Kino Indonesia Tbk (KINO), misalnya, mencatatkan penjualan Rp 3,48 triliun per 30 September 2019, tumbuh 35% year on year (yoy). Pemilik merek Ovale, Eskulin, Master, Sleek Baby, B&B Kids, ini pun mampu mengantongi laba Rp 447,09 miliar, menanjak 325% yoy (lihat tabel).

Direktur Keuangan sekaligus Sekretaris Perusahaan PT Kino Indonesia Tbk, Budi Muljono, menjelaskan industri kosmetik di pengujung tahun ini tumbuh karena ditopang gaya hidup masyarakat dan tren kurs yang stabil. "Kesadaran merawat diri cukup tinggi karena merupakan kebutuhan pokok. Adapun tren ini juga cukup gencar dibagikan di media sosial dan dunia digital," jelas dia kepada KONTAN, Jumat (8/10).

Surya Paloh Lantik Diri Sendiri

Terbukti, penjualan produk perawatan tubuh KINO berkontribusi terbesar, yakni mencapai Rp 1,64 triliun, naik 29%. Penjualan terbesar kedua berasal dari produk minuman senilai Rp 1,31 triliun, tumbuh 19,09% yoy.

Budi mengklaim konsumen segmen personal care memiliki loyalitas cukup tinggi sehingga lebih tahan terhadap perubahan consumer behaviour. Hal ini turut mendorong penjualan produk perawatan tubuh.

Selain gaya hidup, Budi merasakan tren kurs yang stabil berpengaruh terhadap daya beli bahan baku. Stabilitas itu juga menjadikan Kino Indonesia tak perlu mengurangi pembelian bahan baku hingga akhir tahun nanti.

Tren pertumbuhan segmen perawatan tubuh berpotensi berlanjut karena kecenderungan segmen kosmetik dan personal care lebih tahan banting. "Menurut riset Nielsen, sektor ini akan lebih baik dibandingkan sektor seperti beverage," ucap Budi.

Hingga akhir 2019, Budi optimistis KINO bisa meraih pertumbuhan penjualan hingga 50%. Pada kuartal akhir ini akan ada pendorong penjualan, yakni perayaan Natal.

Sekretaris Perusahaan PT Mandom Indonesia Tbk (TCID), Alia Dewi menyatakan tren pemakaian kosmetik sedang baik. "Salah satu pendukungnya karena banyak beauty influencer sehingga semakin banyak orang mau mencoba produk kosmetik. Oleh karenanya, varian jenis kosmetik juga semakin beragam di pasaran," ujar Alia.

Menkumham Minta Anak Tak Penuhi Panggilan KPK

Lihat saja, penjualan Mandom untuk produk wanita mencapai Rp 1,23 triliun, naik 33,70%. Adapun penjualan untuk produk pria turun dari Rp 1,07 triliun menjadi 904,74 miliar.

Namun laba TCID menyusut 11% menjadi Rp 134 miliar. Terkait penurunan laba, Alia bilang hal itu karena strategi menggandeng influencer turut meningkatkan beban iklan dan promosi sebesar 29,20% menjadi Rp 65,62 miliar.

Selain itu, laba tergerus beban peluncuran produk-produk baru Mandom Indonesia yang semakin banyak. Beberapa produk baru harus meningkatkan beban royalti dari Rp 90,84 miliar menjadi Rp 94,27 miliar.

Namun perusahaan yang mengusung merek antara lain Gatsby, dan Pixy ini optimistis kinerja akan meningkat hingga akhir tahun nanti. (Arfyana Citra Rahayu/M Krishna Prana Julian)      

Penulis: reporter_tm_cetak
Editor: Lodie_Tombeg
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved