Selasa, 28 April 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Pahlawan Nasional

Sosok AA Maramis, Perumus Pancasila, Diamanatkan Jabatan Presiden Saat Bung Karno dan Hatta Ditahan

Alexander Andries Maramis, atau dalam setiap penulisan narasi sejarah di Indonesia sering disingkat AA Maramis, adalah tokoh penting

Penulis: Rizali Posumah | Editor: Rizali Posumah
Istimewa
AA Maramis Si Perumus Pancasila, Layak Dianugerahi Pahlawan Nasional 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Alexander Andries Maramis, atau dalam setiap penulisan narasi sejarah di Indonesia sering disingkat AA Maramis, adalah tokoh penting di masa-masa perjuangan mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia. 

Ia termasuk tokoh yang merumuskan dasar negara Republik Indonesia bersama dalam Panitia Sembilan anggota Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan (BPUPK), yang dibentuk tanggal 1 Maret 1945.

Kala itu, Maramis bersama delapan dari Panitia Sembilan ditugaskan untuk merumuskan dasar negara dengan berusaha menghimpun nilai-nilai utama dari prinsip ideologis Pancasila yang digariskan oleh Soekarno dalam pidatonya pada tanggal 1 Juni 1945.

Rumusan ini dikenal dengan nama Piagam Jakarta.

Maramis mengusulkan perubahan butir pertama Pancasila kepada Drs. Mohammad Hatta setelah berkonsultasi dengan Teuku Muhammad Hassan, Kasman Singodimedjo dan Ki Bagus Hadikusumo.

Pada tanggal 11 Juli 1945 dalam salah satu rapat pleno BPUPK, Maramis ditunjuk sebagai anggota Panitia Perancang Undang-Undang Dasar yang ditugaskan untuk membuat perubahan-perubahan tertentu sebelum disetujui oleh semua anggota BPUPK.

Pada tahun 1976 bersama Hatta, A.G. Pringgodigdo, Sunario Sastrowardoyo, dan Soebardjo, Maramis termasuk dalam "Panitia Lima" yang ditugaskan Presiden Suharto untuk mendokumentasikan perumusan Pancasila.

Profil Angely Emitasari, Pedangdut yang Jadi Kepala Desa, Usia 28 Tahun dan Masih Lajang

Profil AA Maramis

AA Maramis, adalah putra asli Sulawesi Utara. Dia lahir pada 20 Juni 1897 di Desa Paniki Bawah. AA Maramis masih punya pertalian darah dengan pahlawan Sulut lainnya yaitu Maria Walanda Maramis.

Ia menamatkan pendidikan dasarnya pada tahun 1911 di sekolah elit Belanda di Manado, yakni Europeesche Lagere School (ELS).

Sekolah tersebut terletak di pusat Kota Manado, yang sekarang menjadi SD N 4 Manado.

Selesai menamatkan pendidikan dasarnya, keluarga berembuk untuk menyekolahkan AA Maramis ke pendidikan sekolah yang lebih tinggi di Batavia yakni Hogere Burger School (HBS) , mengingat saat itu Manado hanya salah satu wilayah keresidenen Ternate.

Pada tahun 1918 keluarga lalu mengirim AA Maramis ke HBS di Jalan Matraman.

Sejak bersekolah di Batavia, Maramis bertemua dengan teman-teman sebangsanya dari daerah berbeda. Di antanya Achmad Soebardjo beretnis Jawa dan Datuk Natsir Pamuntjak dari Sumatera.

Ketiganya sahabat karib ini studi di Universitas Leiden, Belanda. Ketiganya mendapat beasiswa dari pemerintah Hindia Belanda selama enam tahun. 

Semasa kuliah AA Maramis bertemu pemuda dari seluruh Indonesia yang kuliah di kampus yang sama. Pertemuan itu mengubah pandangan politiknya.

Sumber: Tribun Manado
Halaman 1/4
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved