Jumat, 22 Mei 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

AA Maramis Dianugerahi Gelar Pahlawan Nasional, Ini Kiprah dan Jasanya Bagi Bangsa

Gubernur Olly Dondokambey dan Wagub Steven Kandouw punya andil besar mengusulkan nama AA Maramis

Tayang:
Penulis: Ryo_Noor | Editor: Maickel Karundeng
Istimewa
AA Maramis Dianugerahi Gelar Pahlawan Nasional, Ini Kiprah dan Jasanya Terhadap Bangsa 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Tokoh nasional asal Sulawesi Utara Alexander Andries Maramis atau lebih dikenal dengan AA Maramis akhirnya dianugerahi sebagai Pahlawan Nasional jelang Hari Pahlawan 10 November 2019.

Gubernur Olly Dondokambey dan Wagub Steven Kandouw punya andil besar mengusulkan nama AA Maramis sehingga dianugerahi gelar Pahlawan Nasional.

Kementerian Sosial RI pun mengundang Gubernur Olly Dondokambey hadir dalam penganugerahan pahlawan nasional itu di Istana Negara, Jumat (8/11/2019)

Adapun, keputusan itu hasil pertemuan Dewan Gelar, Tanda Jasa dan Tanda Kehormatan dengan Pres,iden RI pada tanggal 6 November 2019 dan surat Menteri Sosial RI tanggal 9 September 2019 perihal usulan calon Pahlawan Nasional tahun 2019.

Usulan itu pun mendapatkan persetujuan untuk dianugerahi Gelar Pahlawan Nasional Tahun 2019, atas nama Almarhum Mr Alexander Andries Maramis.

Gubernur diundang hadir bersama ahli waris AA Maramis

Siapakah gerangan Alexander Andries Maramis ini?

AA Maramis, putra asli Minahasa, kelahiran 20 Juni 1897 di Desa Paniki Bawah. Dulunya desa ini masih masuk daerah administratif Minahasa, sebelum otonomi daerah dan menjadi bagian dari Kota Manado. AA Maramis adalah salah seorang founding father atau pendiri bangsa Indonesia. Ia menjadi anggota BPUPKI, panitia 9.

Selain itu, dari catatan sejarah, 20 prestasi menonjol AA Maramis, selain founding father yakni menjadi anggota Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP), Menteri Negara dan Wakil Menteri Keuangan, 19 Agustus 1945 - 25 September 1945 Menteri Keuangan, Menteri Keuangan ke-1 (presidentil), Menteri Keuangan Kabinet A Syarifudin ke-1, Menteri Keuangan Kabinet A Syarifudin ke-2, Menteri Keuangan Kabinet Presidentil ke-11 (Moh Hatta).

Wakil Ketua PMI Januari 1947, Pimpinan Delegasi Indonesia ke Konferensi Asia di New Delhi (20-23 Januari 1949), Pendiri Pemerintahan RI dalam pengasingan (in exile) di India, Menlu Pemerintahan Darutat RI, Dubes Istimewa pengawas semua semua perwakilan RI d luar negeri, Penasehat Konferensi Meja Bundar di Belanda, Dubes Jerman Barat, Kepala Direktorat Asia Pasifik Deparlu, Dubes di Moskow dan Finlandia, Anggota Panitia 5 Kesatuan Tafsir Pancasila saat usia 78 tahun.

AA Maramis kecil menamatkan pendidikan dasarnya pada tahun 1911 di sebuah sekolah elit Belanda di Manado, yakni Europeesche Lagere School (ELS). Sekolah tersebut terletak di pusat Kota Manado, yang sekarang menjadi SD N 4 Manado. Selesai menamatkan pendidikan dasarnya, keluarga berembuk untuk menyekolahkan AA Maramis ke pendidikan sekolah yang lebih tinggi di Batavia yakni Hogere Burger School (HBS) , mengingat saat itu Manado hanya salah satu wilayah keresidenen Ternate.

Pada tahun 1918 keluarga lalu mengirim AA Maramis ke HBS di Jalan Matraman.

Sejak bersekolah di Batavia, Maramis bertemua dengan teman-teman sebangsanya dari daerah berbeda. Di antanya Achmad Soebardjo dan Datuk Natsir Pamuntjak. Ketiganya yang dari Sulawesi, Jawa dan Sumatera lalu melanjutkan sekolah di Universitas Leiden Belanda. Ketiganya mendapat beasiswa dari pemerintah Hindia Belanda sekana enam tahun. Mereka yang studi di Ilmu Hukum harus menguasai bahasa Yunani dan Latin.

Semasa kuliah AA Maramis bertemu pemuda dari seluruh Indonesia yang kuliah di kampus yang sama. Pertemuan itu mengubah pandangan politiknya. Dari pengamatannya ada kelompok pemuda Islam yang dipengaruhi organisasi Sarekat Islam yang di Indonesia berkembang menjadi kekuatan anti kolonial. Begitu pula pemuda beraliran sosialis yang telah mendapat pendidikan Marxisme Leninisme mereka berafiliasi dengan sarekat pekerja untuk memerangi imperialisme. AA Maramis dikenal mahasiswa cerdas.

Pada Juni 1924 AA Maramis berhasil menyelesaikan studi dan mendapat gelar Meester in de Rechten atau ahli hukum. Zaman itu tak banyak orang yang mendapat gelar tersebut. AA Maramis kembali ke tanah air pada Juli 1924.

Sumber: Tribun Manado
Halaman 1/2
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved