Senin, 4 Mei 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Hari Pahlawan

Profil Bung Tomo, Pahlawan Pembangkit Semangat Rakyat Indonesia pada Pertempuran 10 November 1945

Sutomo, Bung Tomo mengemban tugas dan berperan penting saat perjuangan rakyat Indonesia pada pertempuran 10 November 1945.

Tayang:
Penulis: Frandi Piring | Editor: Frandi Piring
Kolase Foto: pahlawancenter.com/Tribunnews.com
Profil Sutomo (Bung Tomo) - Pahlawan Nasional - Pembangkit Semangat Rakyat Pertempuran 10 November 1945. 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Profil Sutomo (Bung Tomo), salah satu Pahlawan Nasional, pembangkit semangat rakyat untuk mengusir para penjajah Inggris pada pertempuran 10 November 1945.  

Bung Tomo dikenal sabagai sosok berpengaruh dalam sejarah kemerdekaan Republik Indonesia melawan para penjajah bangsa Inggris. 

Sutomo, Bung Tomo mengemban tugas dan berperan penting saat perjuangan rakyat Indonesia pada pertempuran 10 November 1945

Tepatnya, pertempuran di Surabaya 10 November 1945 yang menjadi tempat penyerangan para penjajah pada masa itu.

Dengan perjuangan rakyat Indonesia yang tak ada hentinya melawan penjajah, 10 November ditetapkan sebagai hari Pahlawan.

Sutomo atau Bung Tomo lahir di Surabaya, Jawa Timur, 3 Oktober 1920. 

Bung Tomo
Bung Tomo (Warta Kota)

Dikenal sebagai Bung Tomo, beliau adalah pahlawan yang terkenal karena peranannya dalam membangkitkan semangat rakyat untuk melawan kembalinya penjajah Belanda melalui tentara NICA,

yang berakhir dengan pertempuran 10 November 1945 yang hingga kini diperingati sebagai Hari Pahlawan

Melansir Wikipedia, Bung Tomo dilahirkan di Kampung Blauran, terletak di pusat kota Surabaya. 

Ayahnya bernama Kartawan Tjiptowidjojo, yang adalah seorang kepala keluarga dari kelas menengah.

Karir Ayah Bung Tomo dalam dunia pekerjaan, ia pernah bekerja sebagai pegawai pemerintahan, sebagai staf pribadi di sebuah perusahaan swasta, sebagai asisten di kantor pajak pemerintah, dan pegawai kecil di perusahan ekspor-impor Belanda.

Bahkan, ia mengaku mempunyai pertalian darah dengan beberapa pendamping dekat Pangeran Diponegoro yang dikebumikan di Malang.

Sedangkan, Ibunya berdarah campuran Jawa Tengah, Sunda, dan Madura. Ia pernah bekerja sebagai polisi di kotapraja, dan pernah pula menjadi anggota Sarekat Islam, sebelum ia pindah ke Surabaya dan menjadi distributor lokal untuk perusahaan mesin jahit Singer.

Sutomo Bung Tomo dibesarkan di rumah yang sangat menghargai pendidikan. Ia berbicara dengan terus terang dan penuh semangat.

Ia suka bekerja keras untuk memperbaiki keadaan. Pada usia 12 tahun, ketika ia terpaksa meninggalkan pendidikannya di MULO, Sutomo melakukan berbagai pekerjaan kecil-kecilan untuk mengatasi dampak depresi yang melanda dunia saat itu.

Sumber: Tribun Manado
Halaman 1/4
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved