Kabinet Jokowi
Amerika Undang Prabowo sebagai Menhan, Pengamat Nilai Jokowi Merasa Terancam
Masuknya Prabowo Subianto di Kabinet Joko Widodo dengan menjadi Menteri Pertahanan, memberikan banyak keuntungan bagi Ketum Partai Gerindra.
TRIBUNMANADO.CO.ID, JAKARTA - Masuknya Prabowo Subianto di Kabinet Joko Widodo dengan menjadi Menteri Pertahanan, memberikan banyak keuntungan bagi Ketua Umum Partai Gerindra. Satu di antaranya Prabowo yang sempat tak memperoleh izin ke Amerika Serikat.
Pasca menjadi Menteri Pertahanan, Amerika Serikat mulai melunak dengan mengundang mantan menantu Soeharto tersebut.
Wakil Ketua umum Gerindra Sufmi Dasco Ahmad mengatakan bahwa sejak Prabowo Subianto menjadi Menteri Pertahanan terdapat sejumlah negara yang hendak bersilaturahmi, termasuk dari Amerika Serikat.
Mereka silaturahmi sekaligus menyampaikan undangan kepada Prabowo.
"Jadi begini memang sejak jadi Menhan ada beberapa dari negara yang kemudian bersilahturahmi kepada pak Prabowo termasuk dari tim Amerika Serikat. Kemudian dalam silaturahmi itu juga menyampaikan undangan-undangan untuk berkunjung," kata Dasco di Kompleks Parlemen, Senayan Jakarta, Selasa, (29/10/2019).
• FOTO AMING Bersama Wanita Berkaus Hitam, Dirangkul hingga Tulis Suka Banget Tapi
• Gaya Marshanda Curi Perhatian saat Berbalut Mini Dress Bahan Kulit dengan Desain Pundak Terbuka
• Messi Puji Ronaldo: Dia Adalah yang Terbaik
Namun menurut Dasco undangan tersebut belum bisa ditindaklanjuti Prabowo.
Kesalahan Transfer Pegawai BNI Rp 3,6 Miliar, Nasabah Dinyatakan Harus Bayar Denda Rp 4 Miliar
Karena Mantan Danjen Kopassus itu masih merancang sejumlah kebijakan pada bidang pertahanan.
"Namun karena kesibukan pak Prabowo yang masih menata mempelajari dan kemudian membuat rencana-rencana untuk departemen pertahanan sehingga rencana keluar negeri itu termasuk ke Amerika belum terjadwalkan," katanya.
Untuk diketahui, dengan undangan tersebut Prabowo diperbolehkan ke Amerika.
Pasca reformasi 1998, Prabowo dan sejumlah petinggi militer Indonesia sempat ditolak masuk negara adidaya tersebut.
Sebuah laporan harian New York Times mengatakan, tahun 2000, Departemen Luar Negeri AS menolak visa Prabowo Subianto yang pangkat terakhirnya di militer adalah letnan jenderal, untuk menghadiri wisuda anaknya di Boston.
Namun, pihak AS tidak pernah menjelaskan mengapa permohonan visa Prabowo ditolak.
Prabowo mengatakan kepada Reuters pada 2012 bahwa ia masih ditolak untuk mendapatkan visa AS karena tuduhan bahwa dirinya menghasut kerusuhan yang menewaskan ratusan orang setelah penggulingan Soeharto.
Dia membantah telah melakukan kesalahan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/prabowo-subianto-saat-dikawal-pengawal-pribadinya.jpg)