News
Bible Camp Sekami Paroki MRD, Defy Beri Katakese Sakramen Pengurapan Orang Sakit
Dalam kegiatan mulai Jumat (4/10/2019) sampai Minggu (6/10/2019), ia memberikan katakese soal itu.
Penulis: | Editor: Maickel Karundeng
TRIBUNMANADO.CO.ID - Defy Rasuh memberikan materi Sakramen Pengurapan Orang Sakit dalam Bible Camp Serikat Kepausan Anak Misioner (Sekami) Paroki Maria Ratu Damai (MRD) Tomohon, Sabtu (5/10/2019) malam.
Dalam kegiatan mulai Jumat (4/10/2019) sampai Minggu (6/10/2019), ia memberikan katakese soal itu.
"Gereja mengadakan sakramen pengurapan orang sakit karena gereja mau hadir pada saat-saat manusia mengalami penderitaan.
Kita harus memandang sakit dan penyakit sebagai sarana yang bisa membuat manusia lebih matang, lebih dewasa dalam iman, dalam sikap hidup terhadap kesehatan dan dapat membuat manusia lebih dekat pada Tuhan," katanya.
Ia mengatakan sakramen ini disebut sakramen pengurapan orang sakit karena sakramen ini diberikan dengan cara mengurapi/mengoleskan minyak pada orang yang sakit. Disebut sakramen perminyakan atau minyak suci karena benda atau bahan yang dipakai dalam pemberian sakramen pengurapan orang sakit adalah minyak yang sudah diberkati (karena itu disebut minyak suci) oleh uskup pada saat misa krisma.
Sakramen ini sering juga disebut sebagai sakramen terakhir karena sakramen ini diberikan kepada orang yang sungguh sakit berat, sehingga jika ia memang meninggal, maka sakramen ini merupakan sakramen terakhir yang ia terima.
"Banyak orang Katolik menghindari atau menunda penerimaan sakramen ini karena mereka takut menerima sakramen ini karena mereka berpikir bahwa kalau sudah menerima sakramen ini berarti kematian sudah dekat," tuturnya.
Ia mengatakan dalam kitab suci Perjanjian Lama, penyakit, penderitaan bahkan kematian selalu dihubungkan dengan dosa dan perbuatan jahat yang dilakukan oleh orang yang sakit atau keluarganya, yang dianggap sebagai perbuatan yang melanggar kesetiaan kepada Allah. Karena itu sakit dan penyakit dilihat sebagai hukuman.
"Dalam perjanjian baru, penyakit tidak lagi dilihat sebagai akibat dari dosa, sebagai hukuman, bandingkan Lukas 13: 1-5. Yesus merubah pandangan tersebut. Yesus datang untuk memperlihatkan kasih Allah kepada orang yang sakit," ujarnya.
Ia mengatakan ada berapa teks Kitab Suci yang menjadi dasar utama sakramen pengurapan orang sakit. Pertama Yakobus 5:14-15 (Kalau ada seorang di antara kamu yang sakit, baiklah ia memanggil para penatua jemaat, supaya mereka mendoakan dia serta mengolesnya dengan minyak).
"Kemudian Markus 6:13 (dan mereka mengusir banyak setan, dan mengoles banyak orang sakit dengan minyak dan menyembuhkan mereka)," ungkapnya.
Ia mengatakan menurut Katekismus Gereja Katolik No 1499 tentang Pengurapan orang sakit dikatakan: “Melalui pengurapan suci orang sakit dan doa para imam, seluruh gereja menyerahkan mereka yang sakit kepada Tuhan yang bersengsara dan telah dimuliakan, supaya Ia menyembuhkan dan menyelamatkan mereka; bahkan gereja mendorong mereka untuk secara bebas menggabungkan diri dengan sengsara dan wafat Kristus, dan dengan demikian memberi sumbangan bagi kesejahteraan Umat .
"Santo Yohanes Chrisostomus tentang pengurapan orang sakit mengayajan sakramen pengurapan orang sakit membebaskan seseorang dari dosa. Pengurapan orang sakit sudah lazim dipraktekkan sejak awal kekristenan dan ditetapkan sebagai sakramen pada Konsili Trente tahun 1545-1563," terangnya.
"Dapat diberikan dimana saja orang sakit itu berada. Jika dirayakan dalam perayaan ekaristi di gereja (misalnya dalam rangka merayakan hari orang sakit) maka dapat didahului dengan penerimaan sakramen tobat bagi yang akan menerima pengurapan orang sakit," katanya
Yang berhak memberikan pelayanan sakramen pengurapan orang sakit ”hanya imam dan uskup”. Hanya imam dan uskup yang boleh memberikan sakramen pengurapan orang sakit karena Sakramen pengurapan orang sakit berhubungan erat dengan sakramen rekonsiliasi yang hanya dapat diberikan oleh imam dan Uskup dan karena buah-buah rahmat yang diterima dari sakramen pengurapan orang sakit berkaitan erat dengan sakramen imamat.
"Yang boleh menerima sakramen pengurapan orang sakit ialah orang beriman yang sudah dapat menggunakan akal budi, orang yang menghadapi ajal, orang yang mengalami sakit berat, orang yang sudah lanjut usia, orang yang akan menghadapi operasi besar dan orang yang dalam keadaan sakit dan tidak sadar lagi. Yang tidak boleh menerima sakramen pengurapan orang sakit ialah orang yang membandel dalam dosa berat yang nyata (Kanon 1007). Yang dimaksud dengan membandel dalam dosa berat adalah orang yang tidak memperlihatkan sikap pertobatan atas dosa berat. Tidak ada perasaan menyesal atas dosa yang telah ia lakukan," ujarnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/satu-di-antara-kegiatan-bible-camp-5451.jpg)