Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Musim Kemarau

Kami Menantikan Hujan, Tapi Ternyata Hanya Mendung

"Wah kami menantikan hujan, tapi ternyata hanya mendung," kata Amir petani dari Lolak.

Penulis: Arthur_Rompis | Editor: Maickel Karundeng
artur rompis/tribun manado
Kami Menantikan Hujan, Tapi Ternyata Hanya Mendung 

TRIBUN MANADO.CO.ID - Dua hari berturut turut, Sabtu dan Minggu sore, langit di Lolak mendung.

Dari kejauhan terdengar samar samar bunyi gemuruh.

Kabar baik terdengar di Kotamobagu.

Hujan deras disana. Warga Lolak menanti hal yang sama.

Sayang yang dinanti tidak datang.

Hanya satu dua butir air yang jatuh dalam tempo yang tak lama pula.

"Wah kami menantikan hujan, tapi ternyata hanya mendung," kata Amir petani dari Lolak.

Kemarau menyebabkan siksaaan bertubi tubi baginya.

Tanamannya mati, sulit air serta seorang anaknya sakit ispa.

Minggu malam dari sebuah hajatan terdengar seruan seorang pemuka agama Islam minta salat hujan.

"Kekeringan disini menyiksa, di beberapa tempat sudah digelar salat minta hujan, disinipun harus digelar salat hujan, kita minta kepala Allah untuk turunkan hujan, hanya kepadanya kita minta pertolongan," kata dia yang diiyakan jemaah yang hadir.

Kemarau panjang memang menimbulkan kesulitan bagi warga Bolmong.

Karhutla sering terjadi, menyebabkan 80 hektare hutan dan lahan terbakar.

Sejumlah petugas pemadam api jatuh sakit gara gara kelelahan memadamkan api.

Ratusan hektare lahan petani gagal panen.

Sumber: Tribun Manado
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved