Breaking News
Jumat, 8 Mei 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Berita Terkini

Warisan BJ Habibie, Teori Crack Paling Berharga di Industri Dirgantara, Ini Penjelasannya

BJ Habibie bisa dibilang simbol sosok anak negeri yang memiliki kecerdasan luar biasa yang karyanya dikenal di seantero dunia.

Tayang:
Editor: Rhendi Umar
(KOMPAS.com/TOTOK WIJAYANTO)
Rangkaian prosesi pemakaman BJ Habibie digelar Kamis (12/9/2019) siang ini pukul 14.00 WIB, orang pertama yang turunkan jenazah hingga dimakamkan di samping Ainun. 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Presiden ke-3 Indonesia Bacharuddin Jusuf (BJ) Habibie meninggal dunia pada Rabu (11/9/2010), pukul 18.05 WIB.

Adapun bapak teknologi itu menghembuskan nafas terakhirnya dalam usia 83 tahun di RSPAD Gatot Soebroto.

Wafatnya pria asal Parepare ini tentu saja menjadi kehilangan besar bagi bangsa ini. 

BJ Habibie bisa dibilang simbol sosok anak negeri yang memiliki kecerdasan luar biasa yang karyanya dikenal di seantero dunia. 

Selama hidupnya, BJ Habibie memiliki lebih dari 45 hak paten, utamanya di industri dirgantara.

Salah satu penemuan paling fenomenal Habibie adalah Teori Keretakan atau sering disebut juga Faktor Habibie.

Baca: Presiden Pertama Timor Leste Cium Kening Habibie, Tanda Ucapan Terima Kasih Peristiwa 20 Tahun Lalu?

Baca: Rahasia di Balik Sosok Thareq Kemal Pakai Penutup Mata, Putra Kedua BJ Habibie yang Curi Perhatian

Baca: Makam BJ Habibie Jadi Tempat Berswafoto Warga, Nisan Sampai Miring, Ibu Awas, Hati-hati dong

Sampai saat ini, Teori Keretakan tersebut masih digunakan dunia penerbangan sampai sekarang.

Saking fenomenalnya penemuan ini, Habibie mendapat julukan 'Mr Crack'.

Atasi Kecelakaan

Teori Crack ditemukan oleh Habibie pada 1960-an, ketika teknologi pesawat terbang belum secanggih sekarang.

Melalui teori ini, Habibie dapat mengkalkulasi keretakan pada badan pesawat yang disebabkan kelelahan atau fatique.

Biasanya, titik rawan kelelahan pada bodi pesawat ini terjadi pada sambungan antara sayap dan badan pesawat terbang, atau antara sayap dan dudukan mesin.

Hal itu disebabkan bagian inilah yang secara terus-menerus mengalami guncangan keras, baik ketika sedang take off maupun landing.

Ketika pesawat melakukan take off, sambungannya akan menerima tekanan udara atau uplift yang besar.

Sumber: Tribun Manado
Halaman 1/2
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved