Breaking News
Senin, 18 Mei 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Bagus Muljadi, Lulus S1 Hanya Dengan IPK 2,69 dan Kini Menjadi Ilmuwan Kelas Dunia

Bagus Muljadi, ilmuwan diaspora sekaligus dosen termuda di Nottingham University, Inggris membagikan pengalamannya

Tayang:
Editor: Finneke Wolajan
Instagram Bagus Muljadi
Bagus Muljadi 

Di tahun sama dirinya diterima sebagai post-doctoral dengan disiplin berbeda yaitu Departemen Ilmu Bumi dan Teknik Petroleum di Imperial College London.

Latar belakang lintas disiplin yang unik justru membuat dirinya terpilih sebagai peneliti yang memiliki sudut pandang keilmuan beragam.

Pihak kampus menghargai Bagus yang memiliki independensi dalam melakukan penelitian.

Memiliki gelar keilmuan beragam tidak semata-mata mudah didapatkan.

Awalnya Bagus menilainya sebagai bentuk awal ‘keras’nya hidup sekaligus pembelajaran atas ketidakdewasaan dirinya saat berkuliah di S1.

Dalam perjalanan akademisnya, Bagus mengalami beragam beban; negara baru, lingkungan baru, bahasa baru, dan studi tanpa beasiswa.

Memulai track record akademik kurang memuaskan juga membentuk Bagus menjadi sosok adaptif.

Ke”pasrah”annya justru membuat dirinya menekuni ragam lintas disiplin, dan menjadi berkat bagi dirinya.

Pekerjaannya saat ini sebagai anggota permanen di University of Nottingham tentu buah dari perjuangannya yang berbentuk dari portofolio riset interdisipliner.

"Pendidikan di luar negeri sangat menghargai peneliti atau ilmuwan yang memiliki pengalaman lintas keilmuan atau interdisipliner. Mereka biasanya memiliki pandangan yang lebih lengkap ketika dihadapkan dalam satu pemecahan masalah," ujar Bagus.

Perbedaan budaya akademis

Bagus menilai Iklim dan budaya akademis Indonesia perlahan namun pasti sudah mulai mengalami perubahan ke arah yang lebih baik.

Bagus menyeritakan ketika melanjutkan studi ke Taiwan tahun 2006, tidak banyak orang mengenal dan melakukan riset maupun jurnal ilmiah.

"Berbeda dengan situasi saat ini. Ilmuwan dan akademisi tua-muda di Indonesia saat ini sudah mulai vokal dan berani kritis akan situasi di Indonesia melalui media, dan ingin menjadi agent of change," ujarnya.

Ia menambahkan pengisi kursi pemerintahan dan masyarakat yang berkontribusi dalam membuat kebijakan juga pada saat ini tidak lagi terpaku pada satu keilmuan, namun mulai melek dalam beragam perspektif sains.

Sumber: Kompas.com
Halaman 3/4
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved