Organ Islam
Mapaba Akbar PMII: Islam Rahmatan Lil Alamin dan Nasionalisme Sebagai Kesadaran Sejarah
Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Komisariaat IAIN cabang metro Manado mencatat sejarah baru organisasi mereka di Sulawesi Utara.
TRIBUNMANADO.CO.ID - Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Komisariaat IAIN cabang metro Manado menggelar kaderisasi formal Masa Penerimaan Anggota Baru (Mapaba) Akbar.
Kegiatan ini bertempat di Wisma Haji Tuminting, 30 Agustus 2019.
Untuk Mapaba kali ini, PMII berhasil menjaring 200 lebih calon peserta.
"Mapaba kali ini adalah sejarah baru bagi PMII di Sulawesi Utara yang berhasil menjaring 200 lebih calon peserta," terang Ketua komisariat, sahabat Farid Mamonto.
Dalam sambutannya, Farid kembali mempertegas tema besar yang diusung oleh sahabat-sahabat PMII Komisariat IAIN Manado, yakni Revitalisasi PMII: Islam Rahmatan Lil Alamin dan Nasionalisme Sebagai Kesadaran Sejarah.
Farid mengatakan, Islam adalah agama yang membawa konsep perdamaian bagi seluruh alam.
Hal itu bisa dilihat dari makna kata Islam itu sendiri yang berarti "kedamaian" atau "keselamatan".
Berita Populer
Baca: Tak Tahu Kapan Menjemput Ajal, 5 Artis Ini Telah Siapkan Perlengkapan Kematian
Baca: Nagita Slavina Kompak Berenang Bareng Syahnaz, Pakaian Off Shouldernya Jadi Sorotan
Baca: Beredar 6 Foto Jadul Artis Saat Masih Sekolah, Terungkap Perubahan Syahrini Hingga Dian Sastro
Hanya saja, kata Farid, belakangna di ruang publik Islam selalu saja ditarik oleh oknum-oknum tak bertanggungjawab untuk memecah belah bangsa.
"Oleh ulah sekelompok orang yang melakukan mobilisasi masa besar-besaran mengatas namakan islam untuk merampas bahkan melakukan penghakiman kepada kelompok lain yang berbeda (paham) dengan mereka," jelasnya.
Selain menjelaskan tentang posisi Islam sebagai pembawa kedamaian, Farid juga mempertanyakan nasionalisme para mahasiswa hari ini yang terkesan hanya semacam simbol monumental belaka.
"hanya menjadi simbolisasi monumental ketika ada hari besar nasional, semisal hari kemerdekaan kemarin," ujarnya.
"Namun dalam laku hidup sehari-hari kita justru jauh dari itu semua," sambung Farid lagi.
Farid juga mengomentari tindakan rasial yang dialami mahasiswa asal Papua. Menurutnya, apa yang dialami mahasiswa Papua cukup mencoreng momen hari kemerdekaan.
"Ada tindakan yang jauh dari rasa persatuan atas nama nasionalisme," tegasnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/pmii-komisariat-iain-manado-metro-manado.jpg)