Breaking News
Rabu, 6 Mei 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Kisah Inspirasi

SEJARAH - Mat Kanon Teringat Kesukaan Soekarno, Diajak Bung Karno Menari di Luar Negeri

Ternyata dulu Presiden Soekarno suka dengan tarian dan memiliki penari yang selalu diajak sang founding father hingga luar negeri.

Tayang:
Editor: Aswin_Lumintang
Kompas.com
Rahmat Basroil alias Mat Kanon, penari sepuh yang masih melatih menari tari Jawa Klasik di Sawangan Kabupaten Magelang, Jumat (21/9/2018). 

TRIBUNMANADO.CO.ID, MATARAM - Ternyata dulu Presiden Soekarno suka dengan tarian dan memiliki penari yang selalu diajak sang founding father hingga luar negeri. Di antara para penari itu ada Mat Kanon atau Rahmat Basroil, penari kesayangan Soekarno, yang masih menari meski usia telah senja.

Rahmat Basroil alias Mat Kanon, penari sepuh yang masih melatih menari tari Jawa Klasik di Sawangan Kabupaten Magelang, Jumat (21/9/2018).
Rahmat Basroil alias Mat Kanon, penari sepuh yang masih melatih menari tari Jawa Klasik di Sawangan Kabupaten Magelang, Jumat (21/9/2018). (KOMPAS.com/IKA FITRIANA)

Mat Kanon masih terus menari hingga kini meski usianya telah senja, penari kesayangan Soekarno ini pun mengenang masa mudanya yang berjaya.

"Seperti pesan Bung Karno, saya masih ingin melihat anak-anak sekarang tidak lupa dengan budayanya sendiri.

Negara ini akan dihormati dunia kalau rakyatnya masih menjunjung tinggi budayanya," ungkap Mat Kanon, seorang petani yang pernah menjadi penari kepercayaan Bung Karno.

Mat Kanon atau Rahmat Basroil saat masih muda sering ikut lawatan Bung Karno keluar negeri untuk membawa misi kebudayaan.

Dia dan kawan-kawannya menari Jawa Klasik hingga Wayang Orang.

Kepada Kompas.com, Jumat (21/9/2019), Mat Kanon mengaku mengingat pesan yang disampaikan langsung oleh Presiden pertama RI, Soekarno, kepadanya sekitar tahun 1964 silam.

Pesan tersebut adalah "Kuncaraning bangsa dumunung haneng luhuring budaya."
Rahmat Basroil alias Mat Kanon, penari sepuh yang masih melatih menari tari Jawa Klasik di Sawangan Kabupaten Magelang, Jumat (21/9/2018).(KOMPAS.com/IKA FITRIANA ) ( )
Ungkapan bahasa Jawa itu kurang lebih bermakna "tingginya derajat bangsa terletak pada budayanya".

Belajar tari sejak SR dan kaki terkena granat

Mat Kanon menggeluti seni tari sejak Sekolah Rakyat (SR) setara SD.

Baca: Ini Perbedaan Gaya Bung Karno dan Jokowi saat Pimpin Upacara HUT Kemerdekaan RI

Baca: Iriana Jokowi Kenakan Baju Adat Simalungun di HUT Kemerdekaan, Banyak Netizen Fokus di Tas

Baca: Sulut Diwakili Alim Arsa dan Eugenia Rondonuwu, Salma Dipercaya Pembawa Baki Bendera Merah Putih

Kala itu, dia sering melihat pertunjukan wayang orang di kampung-kampung.

Ia kemudian belajar sendiri hingga bertemu dengan guru tari dan ikut menari dari kampung ke kampung.

Namun, kemauan Mat Kanon untuk menari ditentang keras oleh kakeknya yang religius.

Sang kakek ingin cucunya belajar agama ke pesantren.

Ia menolak dan tetap menekuni seni tari.

Halaman 1/3
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved