Sejarah Indonesia
Tan Malaka Bapak Republik Indonesia, Pernah Diminta Bacakan Proklamasi Oleh Soekarno Tapi Menolak
Tan Malaka adalah tokoh pejuang pemikir yang sosoknya menjadi misteri tersendiri dalam sejarah kemerdekaan indonesia.
TRIBUNMANADO.CO.ID - Tan Malaka adalah tokoh pejuang pemikir yang sosoknya menjadi misteri tersendiri dalam sejarah kemerdekaan indonesia.
Ia cerdas, dari kepalanya bentuk Republik di negara Indonesia itu lahir. Dia dinobatkan sebagai Bapak Republik Indonesia.
Bertahun-tehun sebelum Indonesia merdeka, Tan telah menulis buku Naar de Republiek Indonesia: Menuju Indonesia Merdeka.
Tan betul-betul seorang pejuang. Nyaris tak pernah merasakan kenyamanan hidup.
Ia sering kali berpindah dari satu negara ke negara lainnya, menghindar dari buruan segala orang yang memusuhi jalan pikirnya.
Itu sebanya ia sangat sulit ditemui.
Kerap kali dirinya hadir secara diam-diam dalam acara penting jelang kemerdekaan, namun menggunakan nama samaran.
Padahal, Sutan Sjahrir lebih memilih Tan Malaka yang membacakan teks proklamasi, bukan Soekarno.
Berita Populer
Baca: Gaji PNS, TNI/Polri Naik 2020? Ini Isi Lengkap Pidato RAPBN 2020 dan Nota Keuangan Presiden Jokowi
Baca: 6 Selebritis ini Tega Permalukan Mantannya Sendiri, Mulai dari Air Susu hingga Syahwat
Baca: Intip Penampilan Luna Maya di Pernikahan Putra Raam Punjabi, Sempat Dikira Salah Kostum
Bahkan, Soekarno sendiri sempat meminta Tan Malaka untuk menjadi 'cadangan'pembaca teks proklamasi.
Sebab, Bung Karnot takut terjadi sesuatu pada dirinya atau Bung Hatta.
Sebuah permintaan yang dibalas Tan Malaka dengan sebuah kalimat yang benar-benar menunjukkan kenegarawanan dirinya.
Berikut ini kisah lengkapnya.
Kala itu Juli 1945, Sutan Sjahrir mencari Tan Malaka karena dianggap sebagai tokoh yang paling layak membacakan teks proklamasi.
Meskipun dikenal juga sebagai tokoh gerakan bawah tanah menentang Jepang, Sjahrir bukanlah sosok yang pantas, karena dia dianggap kurang begitu populer di kalangan masyarakat.
Sedangkan Sukarno-Hatta adalah kolaborator Jepang.
Rudolf Mrazek dalam bukunya, Sjahrir: Politik dan Pengasingan di Indonesia, menceritakan bahwa berbagai upaya telah dilakukan Sjahrir untuk mencari Tan yang 20 tahun berada dalam pelarian.
Setelah beberapa kali mencari, Sjharir akhirnya berhasil bertemu dengan Tan.
Tapi upaya Sjahrir gagal, Tan merasa tidak siap untuk membacakan teks proklamasi.
Sebenarnya sangat disayangkan, ketika proklamasi dikumandangkan, tidak ada sosok Tan Malaka di sana.
Apalagi mengingat bahwa konseptor pertama Republik Indonesia adalah Tan, ini tertuang dalam salah satu opus magnum-nya, Naar de Republiek Indonesia, yang ia susun tahun 1925 saat masih di Belanda.
Buku itu selanjutnya menjadi pegangan wajib tokoh-tokoh pergerakan nasional waktu itu, termasuk juga Sukarno.
Berita Terkait
Baca: Mengapa Proklamasi Kemerdekaan RI Dibacakan Pertama Kali di Cirebon Oleh Seorang Dokter? Ini Alasan
Baca: Arti Tulisan Tangan Bung Karno yang Luar Biasa, Percaya Diri, Teks Proklamasi untuk Masa Depan
Baca: Peristiwa Rengasdengklok sebelum Proklamasi RI 17 Agustus 1945: Penculikan Soekarno & Moh Hatta
Tidak bisa hadir saat proklamasi bisa jadi menjadi penyesalan terbesar bagi tokoh sekaliber Tan Malaka.
Meski demikian, bukan berarti dia tidak mempunyai peran penting.
Beberapa literatur mengatakan, bahwa tokoh yang menggerakkan Sukarni dan rekan-rekannya, adalah Tan Malaka.
Waktu itu, 6 Agustus 1945, Tan datang ke rumah Sukarni menggunakan nama Ilyas Husain.
Beberapa tokoh pemuda juga datang. Tak hanya sekali, 14 Agustus, untuk kali kedua Tan datang ke rumah Sukarni, lagi-lagi membicarakan masalah nasib bangsa.
Meski demikian, Tan Malaka tidak bisa seenaknya keluar menampakkan diri, karena dia masih dalam status buron pemerintah militer Jepang.
Sekira tiga minggu selepas proklamasi, Sukarno menyuruh Sayuti Melik mencari Tan Malaka.
Sukarno ingin bertemu karena ia mendengar bahwa Tan tengah berada di Jakarta.
Sebagai bagian dari golongan muda, Sayuti cukup tahu di mana Tan berada. Pertemuan pun diatur sedemikian rupa.
Dalam kesaksiannya yang pernah dimuat di Sinar Harapa 1976, Sayuti mengatakan bahwa Sukarno berpesan kepada Tan untuk mengganti posisi Sukarno jika ada sesuatu terjadi dengan dirinya dan Hatta.
Amanah Sukarno ditanggapi dengan biasa oleh Tan. Itu tertulis dalam memoarnya, Dari Penjara ke Penjara, Tan mengatakan:
“saya sudah cukup senang bertemu Presiden Republik Indonesia, republik yang sudah lama saya idamkan.”
Kemerdekaan tidak menjadikan hidup Tan merdeka, ia tetap menjadi tokoh yang dikejar-kejar, bahkan oleh negara yang dicita-citakannya sendiri.
1949 Tan meninggal di ujung bedil tentara republik di seputaran Kediri, Jawa Timur.
Dan sampai mati, Tan tetaplah Bapak Revolusi yang sunyi.
(Moh Habib Asyhad)
Sport dan Kesehatan
Baca: Tim Yamaha Pilih Tetap Berjuang, Andalkan Rossi dan Vinales
Baca: Penyebab Sakit Kepala dan Cara Menghilangkannya, Periksa Jadwal Tidurmu
Baca: Cerita Pilu Suarez di Barcelona, Dibuang Pelatih, Tak Diterima Messi
Artikel ini telah tayang di tribunjabar.id dengan judul Tan Malaka Rupanya Pernah Diberi Peran oleh Soekarno Bacakan Teks Proklamasi, Tapi Menolak.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/tan-malaka_20180925_135641.jpg)