Gempa Palu

Bantu Korban Gempa Palu, Caritas PSE Manado Bersama Jaringan Karitas Dunia Bangun Huntara dan Rumbuh

Masih begitu banyak masyarakat penyintas gempa yang tinggal di tenda-tenda pengungsian dan tinggal di rumah yang tidak layak huni.

Bantu Korban Gempa Palu, Caritas PSE Manado Bersama Jaringan Karitas Dunia Bangun Huntara dan Rumbuh
ISTIMEWA
Pembangunan hunian sementara korban bencana gempa dan tsunami di Palu, Sulawesi Tengah, Selasa (18/06/2019). 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Sembilan bulan berlalu setelah gempa bumi yang disertai tsunami dan likuefaksi meluluhlantakkan Kota Palu, Kabupaten Sigi dan Donggala, Provinsi Sulawesi Tengah, kabar bantuan bagi para korban sudah jarang terdengar.

Namun, hal itu tak berarti niat sejumlah pihak untuk membantu warga di sana berhenti.

Baru-baru ini Gereja Katolik memberikan bantuan untuk para korban bencana Sulawesi Tengah.

Dari donasi yang sudah terkumpul, Caritas PSE Keuskupan Manado didukung oleh Caritas Regio Jawa (Caritas Bandung, Caritas Surabaya, Caritas Bogor, Caritas Malang), mulai membangun 52 hunian sementara (huntara) di lokasi pengungsian Pombewe, Kabupaten Sigi, ditandai dengan peletakan batu pertama pembangunan, Selasa (18/06/2019).

Pastor Joy Derry, Ketua Komisi Pengembangan Sosial Ekonomi (PSE) Keuskupan Manado juga Caritas PSE Keuskupan Manado, Rabu (19/06/2019), mengatakan, Caritas PSE Manado sebagai lembaga gerejani ditugaskan oleh Uskup Manado untuk menjalankan pelayanan kemanusiaan di tengah pergumulan masyarakat di bidang sosial ekonomi dan kebencanaan.

PSE bersama para mitra menggulirkan program pembangunan huntara dan rumah tumbuh (rumbuh) pada masa rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana Palu 28 September 2018.

Ia menyebut, program huntara dan rumbuh lahir dari keprihatinan melihat masih begitu banyak masyarakat penyintas yang tinggal di tenda-tenda pengungsian dan tinggal di rumah yang tidak layak huni.

Baca: 9 Bulan Pasca Kejadian, 6 Jenazah Korban Likuifaksi Palu Ditemukan Tim Penyelamat Damkar

Baca: Viral Video, Warga Dapat Uang Hasil Gali Tanah, Diduga Milik korban Bencana Palu, Jumlahnya Segini

Baca: Ini Laporan Respon Keuskupan Manado Pasca-gempa dan Tsunami di Sulteng

“Bencana gempa bumi, tsunami dan likuefaksi pada 28 September 2018 telah menimbulkan kerusakan pada perumahan dan permukiman yang mengakibatkan hilangnya tempat tinggal bagi ratusan ribu penduduk dan hilangnya lingkungan bagi masyarakat untuk bermukim,” kata dia.

"Sampai sekarang masih banyak penyintas tinggal di tenda-tenda pengungsi dan di rumah yang tidak layak huni. Secara finansial kerusakan akibat gempa mencapai Rp 227,49 miliar dan kerugian mencapai Rp 1,305 triliun," jelasnya.

Caritas PSE Manado, kata dia, didukung oleh jaringan Karitas Indonesia dan Karitas Internasional telah, sedang dan akan membangun huntara dan rumbuh sekitar 390 unit.

"Tujuannya agar warga penyintas yang tinggal di tenda pengungsian dan di rumah yang tidak layak huni karena rumah hilang dan atau rusak berat segera menempati hunian yang lebih baik dan aman. Warga penyintas yang rumahnya hilang dan rusak berat bisa menempati hunian sementara dengan rasa aman. Juga warga penyintas yang rumahnya rusak dan sudah tidak layak huni bisa menempati rumah tumbuh dengan rasa aman," katanya.

Tim pelaksana ialah tim Caritas PSE Manado. Sumber dana dari Keuskupan Manado, Tarekat Putri Kasih, Karitas Italian dan Karitas Regio Jawa. (*)

Baca: Main Ponsel Hingga 15 Jam Perhari, Picu Kanker Otak

Baca: 3 Birokrat Sulut Bidik Pilkada Minsel, Pengamat Politik: Lihat Saja Pilkada Minahasa dan Sitaro

Baca: Bos Chelsea Miliki Kapal Super Mewah Berbandrol Rp 6 Triliun

Penulis: David_Manewus
Editor: maximus conterius
Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved