Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

NEWS

Pesan Mengerikan Dibalik Riasan Wajah Berwarna Kuning di Papua Nugini

Orang Huli terkenal karena sifatnya yang suka berperang, agresif, dan hiasan wajahnya serta kostum yang dekoratif selama pertempuran.

Editor: Indry Panigoro
ichcourier.ichcap.org
Inilah Manusia Huli 'Berwajah Kuning' dari Papua Nugini 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Menghias tubuh adalah elemen intrinsik dari budaya Papua Nugini.

Ada simbol dan makna yang mendasari budaya tertentu kelompok etnis.

Solidaritas kelompok, dan identitas, juga sering diekspresikan melalui hiasan tubuh.

Papua Nugini adalah salah satu negara dengan budaya paling beragam di dunia.

Yakni dengan 750 bahasa yang mewakili 750 kelompok etnis.

Papua Nugini terdiri dari 24 pemerintah provinsi, dan negara ini dibagi menjadi empat wilayah yang dikenal sebagai Momase, Dataran Tinggi, Kepulauan New Guinea, dan Wilayah Selatan.

Hal itu memanglah hal yang lazim di kalangan masyarakat di wilayah Selatan dan Dataran Tinggi.

Namun, menghias tubuh tampaknya lebih menonjol di kalangan masyarakat di dataran tinggi

Baca: Ketahuan Selingkuh, Satpam Bank Habisi Istrinya di Depan Siswi SD: Sudah Pa Kasihan Mama

Baca: Ingin Nikahi Kakak Ipar, Suami Bunuh Istri di Dekat Anak, Sebelum Tewas Korban Ucap Aku Mencintaimu

Baca: Pria 48 Tahun Cabul1 Dua Putri Kandungnya, Berawal dari Masalah Jodoh

Inilah Manusia Huli 'Berwajah Kuning' dari Papua Nugini
Inilah Manusia Huli 'Berwajah Kuning' dari Papua Nugini (ichcourier.ichcap.org)
 

Dari kelompok budaya dan etnis yang unik, ada penduduk asli bernama Huli di Dataran Tinggi yang terkenal.

Orang Huli terkenal karena sifatnya yang suka berperang, agresif, dan hiasan wajahnya serta kostum yang dekoratif selama pertempuran.

Selama lebih dari seribu tahun, orang Huli hanya membangun rumah jauh di dari Dataran Tinggi Selatan di Distrik Tari, Koroba, Magarima, dan Komo.

 Suku Huli
Suku Huli (gudmundurfridrikssonblog.com)

Selama keberadaan mereka, sebagian besar sejarah dan budaya mereka telah ditransmisikan secara lisan dari generasi ke generasi.

Bahkan sampai akhir 1936, keberadaan mereka tidak dikenal di dunia luar.

Pemerintahan kolonial pun belum melakukan kontak dengan Huli sampai tahun 1951.

Bagi Huli, seperti halnya bagi banyak suku dan budaya yang dapat ditelusuri kembali ke jaman dahulu, seni wajah dan tubuh memainkan peran penting dalam ritual dan festival.

Halaman
12
Sumber: Bangka Pos
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved