Kisah Sufi
Si Pengembala Unta yang Ternyata Adalah Gurunya Guru Sufi
Khazanah dalam dunia islam amatlah luas. Mutiara pengetahuan darinya juga berlimpah. Salah satunya adalah kisah para penempuh jalan sufi.
TRIBUNMANADO.CO.ID - Sebagaimana agama yang lain, khazanah dalam dunia Islam amatlah luas. Mutiara hikmah darinya juga berlimpah.
Ada banyak kisah-kisah menarik yang sarat dengan kebajikan dan kebaikan dari mutiara-mutiara hikmat tersebut. Salah satu yang sering diceritakan adalah kisah para sufi.
Sufi adalah sebutan bagi mereka yang menempuh jalan keruhanian. Mereka yang mendedikasikan seumur hidupnya demi mencapai hakekat cinta dan kebenaran yang tertinggi.
Biasanya, para sufi ini adalah orang-orang yang mendalami ilmu tasawuf, yakni ilmu untuk mengetahui bagaimana cara menyucikan jiwa, menjernihan akhlaq, membangun dhahir dan batin serta untuk memperoleh kebahagian yang abadi.
Berikut ada satu kisah sufi yang tribunmanado.co.id lansir dari laman NUOnline.
Dalam satu riwayat para sufi, dikisahkan ada seorang yang berminat kepada tasawuf. Dari seorang teman dia mendengar tentang adanya guru sufi yang agung.
Tergeraklah hatinya untuk menemui sang guru agung tersebut dengan cara menyewa seekor unta dari seorang penggembala.
Singkat cerita, setelah menempuh perjalanan yang berat dan lama, akhirnya sampailah dia ke rumah sang guru.
Ternyata, orang yang akan dijadikan gurunya itu justru bersikap sangat hormat kepada si penggembala unta, sampai-sampai si penyewa unta itu terheran-heran.
“Saya datang untuk berguru kepada Anda, tetapi sikap Anda kepada penggembala unta layaknya kepada seorang guru saja,” kata si penyewa unta itu tanpa menutupi kekesalannya.
Sang guru, yakni si tuan rumah itu, menjelaskan bahwa si penggembala unta itu memang tidak lain adalah gurunya sendiri.
Cerita seperti itu banyak sekali di dalam tasawuf. Tetapi sebetulnya bukan monopoli tradisi sufisme, sebab hampir semua budaya mengarah ke situ.
Dalam pepatah Melayu, misalnya, dikatakan, “Makin berisi, padi makin merunduk.” Idenya ialah tentang sikap rendah hati, seperti ditampakkan oleh si penggembala unta dalam cerita di atas, yang ternyata adalah gurunya guru sufi.
Di kalangan ulama ada pandangan bahwa tidak ada yang tahu seorang wali kecuali wali.
Maka kalau kita mengatakan bahwa seseorang itu wali, maka efeknya seolah- olah kita mengklaim diri kita sendiri sebagai wali (orang suci).
Dalam hal ini, ungkapan Ali ibn Abi Thalib sangat bagus ketika menggambarkan kesucian, “Sebaik-baik kesucian adalah menyembunyikan kesucian itu.”
Dalam paham keagamaan sehari-hari, kita juga mengenal ada yang disebut sebagai orang-orang yang suci, tempat-tempat yang suci, dan waktu-waktu yang suci.
Secara implisit, konsep kesucian itu juga sering kali dikaitkan dengan sejumlah ritual dalam Islam, misalnya zakat, sedekah, wudhu, dan lain-lain; konsep ini juga terkait dengan istilah-istilah seperti subh, quds, mash, dan lain-lain.
Baca: Info 62% Hangat Diperdebatkan, Penyesat 02, Demokrat: Logika Kalah di Jawa, Tidak Mungkin Menang
Baca: Awal Bulan Puasa, Syahrini Layani Reino Barack, Luna Maya Ngapain?
Baca: #2019GantiPresiden Ditiadakan Sang Penutur, Senior: Sakit Perut dan Mengadu Domba Pihak 02
Baca: Kisah Hurrem, Wanita Cerdas Asal Polandia yang Membuat Sultan Ottoman Terpukau
Baca: Terekam & Transparan, Kubu 01: Tidak Mungkin Tindak Kebaikan Berlandaskan Hal Keburukan
Sumber: http://www.nu.or.id/post/read/79683/kisah-penggembala-unta-dan-pencari-guru-sufi
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/gambar-seorang-sufi-tengah-menari-sembari-melafadzkan-kidung-kidung-cinta.jpg)