Breaking News:

Pengebom Pegang Cucu Saya Lalu Ledakkan Diri, Korban Tewas 310 Orang di Sri Lanka

Jumlah korban jiwa akibat teror biadap yang meledakkan bom di delapan lokasi di Sri Langka, Minggu lalu, bertambah menjadi 310 orang.

AP
Petugas kepolisian Sri Lanka nampak tengah sibuk membuka jalan untuk ambulans. 

Terkait kewarganegaraan pelaku, Iqbal memastikan Insan tidak memegang kewarganegaraan Indonesia. "(Insan Seelawan) WN Sri Lanka," ucapnya.

Tangkap 40 Orang

Pemerintah Sri Lanka mengumumkan adanya penambahan angka korban tewas ledakan bom yang terjadi di delapan tempat seantero negeri. Juru bicara kepolisian Ruwan Gunasekera dalam keterangan tertulis menyatakan korban tewas saat ini mencapai 310 orang dari sebelumnya dilaporkan 290 orang.

"Ada sejumlah korban yang meninggal ketika mendapat perawatan di rumah sakit," terang Gunasekera seperti dikutip kantor berita AFP Selasa (23/4). Kemudian jumlah korban luka berada di angka 500 orang.

Gunasekera juga berkata kepolisian telah menangkap 40 orang yang dianggap berhubungan dalam ledakan tersebut. Pemerintah Sri Lanka menyalahkan kelompok ekstremis lokal, National Thawheeth Jamaath (NJT), organisasi yang diduga terafiliasi ogranisasi teroris --Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS), sebagai pihak yang paling bertanggung jawab atas insiden itu.

Serangan 8 bom yang terjadi pada Minggu pagi waktu setempat itu menyasar gereja karena bertepatan dengan peringatan Minggu Paskah, serta hotel mewah.

Terdapat kabar bahwa aparat keamanan sebenarnya sudah mendapat peringatan akan adanya serangan dari dinas intelijen asing pada 4 April, lebih dari dua pekan sebelumnya. Perdana Menteri Ranil Wickremesinghe menyatakan bakal menggelar penyelidikan untuk mengungkap bagaimana bisa peringatan tersebut tidak ditindaklanjuti.

Juru bicara pemerintah Rajitha Senaratne menyatakan pemerintahan Wickremesinghe tidak mendapat pemberitahuan buntut perseteruannya dengan Presiden Maithripala Sirisena. Wickremesinghe sempat dipecat dari jabatannya pada Oktober 2018. Namun dimasukkan kembali setelah Sirisena ditekan mahkamah agung Sri Lanka. Meski begitu, Sirisena masih menjauhkan Wickremesinghe dari dewan pada Desember 2018 yang membuatnya tidak bisa menerima informasi rahasia soal keamanan negara.

Bahkan setelah serangan, Senaratne berkata anggota dewan keamanan tidak bersedia untuk memenuhi panggilan Wickremesinghe dan membahas kejadian tersebut. "Saya pikir, mungkin hanya inilah satu-satunya negara di dunia di mana anggota keamanannya tidak suka dipanggil oleh perdana menteri," sindir Senaratne.

Bantuan Interpol

Halaman
1234
Penulis: Tim Tribun Manado
Editor: Lodie_Tombeg
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved