PTPN V Ingin Laba Lebih Tinggi Tahun Ini
PT Perkebunan Nusantara V (Persero) alias PTPN V terus memacu produktivitas perkebunan sawit dan karet. Perusahaan pelat merah dengan wilayah
Penulis: Tim Tribun Manado | Editor: Lodie_Tombeg
TRIBUNMANADO.CO.ID, PEKANBARU - PT Perkebunan Nusantara V (Persero) alias PTPN V terus memacu produktivitas perkebunan sawit dan karet. Perusahaan pelat merah dengan wilayah kerja di Provinsi Riau itu berharap bisa mencatatkan pertumbuhan laba bersih di 2019.
Mengintip informasi di situs resmi Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN), tahun lalu PTPN V menorehkan pendapatan kotor sebesar Rp 1,04 triliun dan laba bersih setelah pajak Rp 240,21 miliar. Realisasi laba bersih tersebut melampaui target awal yakni Rp 201,7 miliar.
Berkaca rapor 2018, manajemen PTPN V berharap kinerja tahun ini kembali terangkat, meskipun produktivitas kebun selama Januari hingga Maret 2019 masih menurun. "Tetapi April sudah mulai terlihat bangkit lagi sehingga kami berharap jarak dengan target tahun ini semakin kecil," ungkap Jatmiko Krisna Santosa, Direktur Jenderal PT Perkebunan Nusantara V, secara khusus ditemui KONTAN di Pekanbaru Riau, Rabu (10/4) pekan lalu.
Kebun plasma PTPN V tersebar di lima kabupaten dalam area Provinsi Riau. Kelima kabupaten itu meliputi Kampar, Rokan Hulu, Rokan Hilir, Siak serta Indra Giri Hulu. Total luas kebun plasma mencapai 74.526 hektare (ha). Perinciannya, seluas 56.665 ha kebun sawit dan 17.861 ha kebun karet.
Demi mengejar target tahun ini, PTPN V memperkuat kemitraan dengan petani plasma sawit melalui program "BUMN untuk Sawit Rakyat". Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS), Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) dan pemerintah kabupaten juga terlibat dalam program tersebut.
Sejak awal tahun hingga bulan ini, misalnya, PTPN V telah meremajakan 725 ha kebun sawit kelolaan KUD Makarti Jaya di Rokan Hulu. Total biaya yang mereka keluarkan mencapai Rp 42,7 miliar dan bersumber dari dana hibah BPDPKS dan Bank Negara Indonesia (BNI).
Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Soemarno meminta PTPN V konsisten membina dan mengawasi petani plasma sawit dalam jangka tiga tahun hingga lima tahun ke depan. "Jika target tak tercapai, PTPN V harus nombok karena tujuannya agar mereka komit terhadap target," tandas Rini di Rokan Hulu, Riau, Kamis (11/4).
WOOD Prediksi Tren Harga Kayu Tahun Ini Landai
PT Integra Indocabinet Tbk memprediksikan tren harga kayu sepanjang tahun ini bakal relatif stabil. Makanya, mereka tidak mematok target kenaikan penjualan secara agresif untuk lini usaha kehutanan.
Padahal sepanjang 2018, lini usaha kehutanan mencatatkan pertumbuhan tertinggi dibandingkan lini usaha manufaktur maupun perdagangan. Kalau dihitung, pendapatan kehutanan bertambah sekitar 2,5 kali lipat menjadi Rp 333,39 miliar. Meski demikian, kontribusi pendapatan kehutanan memang masih jauh di bawah lini usaha manufaktur yang mencapai Rp 1,72 triliun.
Namun secara keseluruhan, Integra Indocabinet tetap berupaya mengejar pertumbuhan pendapatan 2019. Prospek ekspor furnitur masih sangat menjanjikan. Permintaan terbesar berasal dari Amerika Serikat. "Tahun ini kami harus meningkatkan volume untuk menyuplai permintaan yang ada," ujar Wang Sutrisno, Direktur Keuangan PT Integra Indocabinet Tbk saat dihubungi KONTAN, Kamis (11/4) pekan lalu.
Tak cuma ekspor, peluang pasar furnitur domestik juga terbuka lebar. Salah satunya dari proyek pemerintah. Integra Indocabinet atau yang tercatat dengan kode saham WOOD di Bursa Efek Indonesia (BEI) mengaku pada tahun lalu mengantongi tender e-catalogue bangku sekolah senilai Rp 100 miliar.
Dalam catatan KONTAN, tahun ini Integra Indocabinet menganggarkan dana belanja modal alias capital expenditure (capex) sebesar Rp 200 miliar. Mereka akan menggunakan dana tersebut untuk meningkatkan kapasitas produksi dan menambah produk baru. (Agung Hidayat/Amalia Nur Fitri)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/merek-walini.jpg)