Istri Bowo Sidik Menangis Rumah Digeledah KPK
Tim penyidik KPK menggeledah sejumlah tempat pasca-anggota Komisi VI DPR RI, Bowo Sidik Pangarso, terjaring operasi tangkap tangan (OTT).
Penulis: Tim Tribun Manado | Editor: Lodie_Tombeg
TRIBUNMANADO.CO.ID, JAKARTA - Tim penyidik KPK menggeledah sejumlah tempat pasca-anggota Komisi VI DPR RI, Bowo Sidik Pangarso, terjaring operasi tangkap tangan (OTT) karena dugaan penerimaan suap terkait kerja sama penggunaan kapal PT Humpuss Transportasi Kimia (HTK) untuk distribusi pupuk PT Pupuk Indonesia Logistik.
Setelah kantor PT Inersia, tim KPK menggeledah empat tempat lain pada Sabtu (30/3), termasuk rumah Bowo Sidik di Jalan Bakti, Cilandak Timur, Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Kantor PT Inersia merupakan tempat ditemukannya 400 ribu amplop berisi uang dengan total Rp 8 miliar,
Ketua RT tempat Bowo tinggal, Kulyadi, turut diminta petugas KPK untuk menyaksikan proses penggeledahan rumah Bowo Sidik. Ia mengungkapkan, istri Bowo Sidik berada di rumah saat tim penyidik melakukan penggeledahan. Ia melihat istri Bowo Sidik terus menangis saat memasuki satu per satu ruangan di rumah untuk mencari barang bukti.
"Saya kasihan, dia nangis terus-terusan. Anak-anaknya saya enggak lihat. Penyidik enggak hanya geledah ruangan Pak Bowo, ruangan lain juga. Mobil yang diparkir di depan juga digeledah. Ya mungkin untuk mencari barang bukti," ujar Kulyadi saat ditemui di kediamannya, Cilandak Timur, Pasar Minggu, Senin (1/4).
Seingat Kulyadi, saat itu ada sekitar tujuh petugas KPK dengan menaiki dua mobil yang mendatangi rumah Bowo Sidik. Mereka menggeledah sejumlah ruangan di dalam rumah Bowo Sidik sejak pukul 9.00 WIB hingga pukul 13.00 WIB.
Beberapa penyidik KPK terlihat membawa kertas diduga dokumen dan memo saat meninggalkan rumah Bowo Sidik. "Ada dokumen-dokumenlah, terus ada benda kecil mirip memo atau apa saya kurang paham," katanya.
Kulyadi tak menyana jika Bowo Sidik yang selama ini dikenalnya sebagai orang baik dan royal justru harus berurusan dengan pihak KPK. "Kalau untuk dana 17-an atau apa ya pasti menyumbang. Beliau disodori proposal untuk ini-itu misalnya, pasti menyumbang. Makanya saya kasihan sama keluarganya karena beliau kena kasus ini. Beliau saya lihat baik sebagai warga sini," ujarnya.
Ia menambahkan, dirinya dan para warga tidak mengetahui perihal 400 ribu amplop berisii uang Rp 8 miliar yang diduga disiapkan untuk 'serangan fajar' Bowo Sidik selaku calon anggota DPR periode 2019-2024 pada 17 April mendatang. Diketahui, Bowo Sidik akan kembali maju sebagai calon anggota DPR dari Daerah Pemilihan (dapil) Jawa Tengah II.
"Itu kan untuk di Jawa Tengah, Dapilnya beliau. Kalau itu saya enggak tahu, dan saya pribadi enggak pernah menerima, kan memang beliau enggak nyaleg di Jakarta," tukasnya.
Pantuan Tribun, rumah Bowo Sidik tampak sepi pada Senin siang hingga sore kemarin. Hanya tampak satu unit mobil hitam terparkir di halaman rumah. Tak seorang pun merespon saat bel di gerbang rumah dibunyikan.
Berbeda saat Tribun mendatangi rumah Bowo Sidik pada Kamis (28/3). Saat itu, ada dua anak dari Bowo Sidik dan seorang asisten rumah tangga perempuan yang melakukan kegiatan di depan rumah.
Juru bicara KPK, Febri Diansyah mengatakan, selain rumah Bowo Sidik, tiga tempat lain juga digeledah oleh tim penyidik KPK pada sabtu kemarin. Yakni, kantor PT Pupuk Indonesia di Gedung Pusri di Jakarta Barat, kantor PT Humpuss Transportasi Kimia (PT HTK) di Gedung Granadi, Jakarta Selatan, dan ruang kerja anggota DPR Bowo Sidik Pangarso, ruang 1321, di Gedung Nusantara I komplek DPR/DPD/MPR RI, Senayan, Jakarta Pusat.
"Dalam proses penggeledahan tersebut, disita sejumlah dokumen-dokumen terkait dengan kerjasama pengapalan produk Pupuk Indonesia," ujar Febri.
Kasus dugaan korupsi yang melibatkan anggota DPR Bowo Sidik Pangarso berawal dari OTT terhadap orang kepercayaan Bowo Sidik bernama Indung dan Marketing Manager PT Humpuss Transportasi Kimia, Asty Winasti di kantor PT HTK di Gedung Granadi, Kuningan, Jakarta Selatan, pada Rabu (27/3) sampai Kamis (28/3) dini hari.
Saat itu, keduanya dibekuk oleh tim KPK usai melakukan transaksi dugaan suap dengan barang bukti uang sebesar Rp 89,4 juta. Uang tersebut diduga transaksi ketujuh kalinya sebagai fee atas bantuan Bowo Sidik kepada PT HTK mendapatkan kembali kerja sama pengangkutan distribusi pupuk PT Pupuk Indonesia.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/bowo-sidik-pangarso-1.jpg)