Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Prediksi Rupiah: Akibat Data Ciamik AS

Data ekonomi Amerika Serikat (AS) yang ciamik menyeret turun rupiah. Rabu (6/3), kurs spot rupiah melemah 0,11% ke Rp 14.143

Penulis: Tim Tribun Manado | Editor: Lodie_Tombeg
kontan
Rupiah 

TRIBUNMANADO.CO.ID, JAKARTA - Data ekonomi Amerika Serikat (AS) yang ciamik menyeret turun rupiah. Rabu (6/3), kurs spot rupiah melemah 0,11% ke Rp 14.143 per dollar AS. Tapi, kurs tengah rupiah Bank Indonesia masih naik 0,12% ke Rp 14.129 per dollar AS.

Analis Monex Investindo Futures Ahmad Yudiawan menjelaskan, sejumlah data ekonomi AS yang dirilis awal pekan ini cukup positif. Salah satunya adalah indeks komposit PMI sektor non manufaktur Februari yang meningkat ke level 59,7.

Selain itu, penjualan rumah baru di Negeri Paman Sam juga naik dari 599.000 unit di November 2018 menjadi 621.000 unit di Desember 2018. "Hasil positif ekonomi AS tidak mampu diimbangi oleh rupiah yang belum memiliki data ekonomi baru," ungkap Yudi.

Ekonom Bank Permata Josua Pardede menambahkan, pernyataan dua pejabat The Federal Reserve yang menyebut kenaikan suku bunga acuan mungkin berlanjut turut menopang dollar AS.

Untuk pergerakan hari ini, Josua memperkirakan rupiah berpotensi menguat terbatas. Pasalnya, pelaku pasar masih cenderung bersikap wait and see sambil menanti hasil negosiasi perang dagang.

Josua menganalisa rupiah akan bergerak dalam rentang Rp 14.100–Rp 14.175 per dollar AS hari ini. Sedangkan Yudi memprediksi, mata uang Garuda akan bergerak dalam kisaran Rp 13.950–Rp 14.250 per dollar AS.

PPRE Getol Ikuti Tender Bernilai Kecil

PT PP Presisi Tbk (PPRE) bakal rajin mengikuti tender proyek pemerintah. Perusahaan ini mengincar perolehan kontrak baru Rp 6 triliun di tahun 2019 ini.

Setidaknya, ada tiga strategi yang akan dilakukan PRRE untuk mendorong perolehan kontrak. Pertama, mengikuti secara langsung tender yang dilakukan baik oleh badan usaha milik negara (BUMN) maupun pemerintah.

Namun, PPRE hanya akan mengikuti tender langsung proyek dengan nilai di bawah Rp 200 miliar. "Proyek bernilai di atas itu akan diikuti PTPP," kata Benny Pidakso, Direktur Keuangan PPRE, Rabu (6/3).

Cara ini sudah dilakukan untuk beberapa proyek, seperti proyek pembangunan runway Bandara Minangkabau di Padang dari Angkasa Pura, serta proyek pengerjaan jalan di Jawa Timur untuk Kementerian PUPR.

Strategi kedua, mengoptimalkan kontrak dari PTPP. Dalam hitungan Benny, jika bisa memperoleh 5%-10% saja dari total nilai kontrak baru yang diperoleh PTPP, yang jumlahnya hampir mencapai Rp 50 triliun, PPPRE akan memperoleh tambahan kontrak baru sekitar Rp 5 triliun.

Ketiga, mendongkrak perolehan kontrak di entitas anak. Salah satunya, mendorong PT Lancarjaya Mandiri Abadi (LMA) untuk menggarap bisnis jasa pertambangan dengan menyasar pangsa pasar usaha mikro kecil dan menengah (UMKM).

Tahun ini, PPRE mengincar pertumbuhan bisnis 20%-30%, baik untuk pendapatan maupun laba. Segmen pekerjaan infrastruktur berkontribusi hampir 60% terhadap total pendapatan perseroan ini.

Adapun proyek infrastruktur yang sedang dikerjakan PPRE antara lain jalan tol Manado-Bitung jalan tol di Dumai dan jalan tol Pandaan-Malang. Proyek ini diharapkan selesai tahun ini.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved