Emiten Kontraktor Batubara Menahan Ekspansi
Euforia membaiknya industri batubara sepertinya mulai berakhir. Ini tercermin dari rencana bisnis sejumlah emiten pendukung sektor
Penulis: Tim Tribun Manado | Editor: Lodie_Tombeg
TRIBUNMANADO.CO.ID, JAKARTA - Euforia membaiknya industri batubara sepertinya mulai berakhir. Ini tercermin dari rencana bisnis sejumlah emiten pendukung sektor tahun ini.
PT United Tractors Tbk (UNTR) salah satunya. Anak usaha PT Astra International Tbk (UNTR) tersebut hanya menyiapkan belanja modal atau capital expenditure (capex) yang relatif sama seperti tahun lalu, yakni sebesar US$ 700 juta – US$ 800 juta.
Sebesar 80% capex dialokasikan untuk kebutuhan pembaruan alat berat. Sisanya dialokasikan untuk keperluan di bisnis lainnya. "Belum ada kontrak baru dan rencana ekspansi sementara ini," ujar Sekretaris Perusahaan UNTR Sara K. Loebis, kepada KONTAN belum lama ini.
Sara menambahkan, manajemen UNTR menargetkan produksi batubara sekitar 125 juta–127 juta ton dan pengupasan tanah sekitar 950 juta–980 juta bank cubic meter (bcm). Target ini masih berada di rentang yang sama seperti realisasi tahun lalu.
Sepanjang 2019, fokus UNTR adalah mempertahankan layanan dan keunggulan operasional yang efektif dan efisien. Sehingga, hal ini turut dapat mendukung bisnis pelanggan.
"Tujuannya agar dalam kondisi harga komoditas yang mungkin tidak sebaik tahun lalu, baik kami dan pelanggan memiliki ketahanan yang baik dan tetap produktif," imbuh Sara.
PT Darma Henwa Tbk (DEWA) sedikit lebih optimistis. Perusahaan ini memprediksi produksi batubara tahun ini naik 30% menjadi 17 juta ton. Ini dengan asumsi jika produksi tahun lalu sebesar 13,3 juta ton.
"Kami akan fokus pada penguatan fundamental operasi untuk tahun ini," kata Corporate Secretary DEWA Mukson Arif Rosyidi.
JPFA Mencetak Pertumbuhan Laba 132%
Kinerja PT Japfa Comfeed Tbk (JPFA) moncer. Perusahaan ini mencatatkan laba bersih Rp 2,17 triliun tahun lalu. Artinya, laba bersih tahun lalu naik 132%.
Berdasarkan laporan keuangan yang dirilis Jumat (1/3), pertumbuhan pendapatan JPFA sejatinya tak semoncer laba bersihnya. Pendapatan hanya tumbuh sekitar 15% menjadi Rp 34,01 triliun.
Namun, manajemen Japfa Limited menuturkan, rata-rata harga jual atau average selling price segmen poultry di Indonesia sedang apik. Ini karena suplai day old chicken (DOC) rendah. "Kondisi tersebut mempengaruhi laba usaha JPFA," tulis manajemen induk JPFA tersebut, seperti dikutip dari keterbukaan informasi di Bursa Efek Singapura, Jumat (1/3).
Asal tahu saja, laba usaha JPFA sepanjang tahun lalu sebesar Rp 3,84 triliun, naik 71% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Kenaikan ini turut mengerek laba bersih perusahaan naik hingga ratusan persen.
Victor Stefano, analis Danareksa Sekuritas, menuturkan, tingginya ASP ayam potong dan DOC membuat laba bersih JPFA di kuartal keempat tahun lalu melesat 236% menjadi Rp 496 miliar. "Kenaikan ASP tersebut turut mengkompensasi harga jagung," tulis Victor dalam riset 1 Maret.