Risiko Rendah, Bank Daerah Menggenjot Kredit Payroll
Bank Pembangunan Daerah (BPD) semakin giat menyalurkan kredit atau pembiayaan berbasis payroll. Kredit yang juga populer
Penulis: Tim Tribun Manado | Editor: Lodie_Tombeg
TRIBUNMANADO.CO.ID, JAKARTA - Bank Pembangunan Daerah (BPD) semakin giat menyalurkan kredit atau pembiayaan berbasis payroll. Kredit yang juga populer disebut kredit tanpa agunan ini dinilai memiliki risiko rendah karena memiliki jaminan berupa gaji yang diterima debitur.
PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah (Bank Jateng) misalnya, hingga Januari 2019 telah berhasil menyalurkan Rp 27,19 triliun kredit payroll.Nilai tersebut mencapai 96% kredit konsumsi yang disalurkan perseroan tersebut.
"Hingga Januari 2019, Bank Jateng telah menyalurkan kredit konsumer hingga Rp 28,29 triliun tumbuh 3,01% dari tahun lalu yang mencapai Rp. 27,47 triliun," kata Direktur Bisnis Ritel dan Unit Usaha Syariah Bank Jateng Hanawijaya kepada KONTAN.
Bank Jateng masih akan terus menggenjot penyaluran kredit payroll karena rasio kredit bermasalah untuk segmen ini cukup rendah. Per akhir Januari non performing loan (NPL) kredit konsumsi Bank Jateng hanya 0,61%. "Payroll loan masih akan tetap menjadi tumpuan utama, di samping kami juga akan lebih serius menggarap kredit pensiunan," kata Hanawijaya.
PT Bank NTB Syariah juga terus berupaya menggaet debitur yang berstatus Aparatur Sipil Negara (ASN) alias pegawai negeri sipil di daerah. "Strategi untuk akuisisi debitur tetap ditekankan pada layanan BPD sebagai bank pengelola payroll ASN," kata Direktur Utama Bank NTB Syariah Kukuh Raharjo kepada KONTAN, Senin (25/2).
Kukuh sepakat, pembiayaan segmen ini memang memiliki risiko yang cukup rendah. Sebab dari total outstanding kredit senilai Rp 4 triliun, rasio non performing finance (NPF) hanya 0,5%.
Sementara PT Bank BPD DIY tidak cuma menyasar kalangan ASN, melainkan juga para pegawai swasta. Direktur Pemasaran BPD DIY Agus Trimurjanto mengatakan, outstanding kredit segmen ini telah mencapai Rp 3,2 triliun dengan rasio NPL hanya 0,2%.
Adapun Direktur Utama Bank Banten Fahmi Bagus Mahesa mengaku, pada Januari 2019 saja, telah berhasil menyalurkan kredit payroll Rp 23,9 miliar.
POLL Mematok Penjualan Fleksibel
PT Pollux Properti Indonesia Tbk menargetkan marketing sales atau pendapatan pra penjualan sebesar Rp 3 triliun sepanjang 2019. Menurut catatan internal mereka, target tahun ini tumbuh 10% ketimbang realisasi marketing sales tahun lalu.
Demi mengejar target pendapatan pra penjualan, Pollux Properti akan meluncurkan dua proyek baru. Salah satunya yakni menara apartemen di Batam, Kepulauan Riau. Hunian bertingkat dengan nama Tower A5 tersebut akan melengkapi beberapa menara yang sudah lebih dahulu dijajakan di sana.
Tower A5 terdiri dari 363 unit kamar. Ada empat piligan tipe, meliputi studio, satu kamar tidur, dua kamar tidur dan tiga kamar tidur. Rentang harga jualnya sekitar Rp 400 juta-Rp 2 miliar per unit. Pollux Properti berencana memasarkan proyek tersebut mulai akhir April 2019.
Satu proyek lain berupa gedung perkantoran di Mega Kuningan, Jakarta. Sedianya proyek tersebut berisi 93 unit ruangan dengan harga jual mulai dari Rp 2,5 miliar per unit. Jadwal pemasarannya mulai kuartal III 2019.
Pollux Properti mengaku, peluncuran proyek baru pada tahun ini penuh perhitungan. Terus terang, perusahaan berkode saham POLL di Bursa Efek Indonesia (BEI) tersebut mengaku berhati-hati menambah portofolio produk.
Pasalnya, Pollux Properti mengkhawatirkan potensi sentimen negatif dari perhelatan pemilihan umum (pemilu). "Tahun ini kan tahun politik, jadi situasi market kurang mendukung sehingga kami sangat memilih proyek yang akan diluncurkan," ujar Michael Tanuwijaya, Direktur PT Pollux Properti Indonesia Tbk saat dihubungi KONTAN Senin (25/2).
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/bank-sulutgo_20181106_200443.jpg)