Berita Bolmong
Isak Tangis Iringi Pemakaman Pasutri Korban Kecelakaan Maut Popontolen Marten dan Pdt Neitji
Suasana rumah duka pasutri kecelakaan maut di Popontolen Minsel, di Desa Mongkoinit Barat, Kecamatan Lolak, Bolmong, dibanjiri tetesan air mata.
Penulis: Maickel Karundeng | Editor: Alexander Pattyranie
Kehadiran ratusan warga menandakan kedua almarhum tersebut sangat dikasihi dan dicintai warga.
Pendeta yang memimpin ibadah pemakaman membacakan ayat Alkitab pada kitab Mazmur 27 ayat 4 dan 10.
Amatan Tribunmanado.co.id, tenda yang berukuran kurang lebih 20x40 meter terisi penuh dengan warga, bahkan di luar tenda juga dipadati warga.
Abdul, satu di antara sahabat sekolah Almarhum Martin mengaku sangat sedih dan kaget atas kejadian tersebut.
"Saya ketemu dengan almarhum terakhir bulan lalu dan sempat bertegur sapa," katanya.

Ia mengingat saat masih bersekolah di SMP, kalau bercanda dan almarhum dengan penuh canda tawa.
Pasutri ini memang dikenal sangat ramah oleh jemaat serta warga.
Almarhum Martin Luther Lumender berprofesi sebagai petani.
Ia dikenal penuh semangat dan jiwa bertani seperti menanam jagung yang sebentar lagi akan dipanen dan sudah membeli kebun cengkih.
Sementara, Almarhumah Neitji Salasa adalah seorang pendeta yang berasal dari Manado Tua, Kota Manado, Sulawesi Utara.
Satu di antara anggota keluarga korban, Pdt Otniel Mokodaser menceritakan bahwa keduanya sangat baik dan rajin.
"Kalau Ibu pendeta sudah sejak 10 tahun lebih melayani di Desa Sang, Kabupaten Bolmut. Jemaat di sana begitu terpukul dengan kejadian tersebut," katanya.
Ia menambahkan, kalau butuh ikan laut pasti pergi di Desa Sang untuk membeli di sana dan diberi dengan harga murah.
"Nah, Almarhumah Ibu Pdt dan Suami yang memfasilitasi kalau membeli ikan sebab mereka juga memiliki kelompok nelayan," ungkap Pdt Otniel.
Untuk sekarang yang harus dipikirkan adalah anak-anak mereka yang sudah jadi yatim-piatu.