Kasihan Nasir Djamil: Ini yang Dilakukan Gubernur Nonaktif Aceh

Gubernur nonaktif Nanggroe Aceh Darussalam, Irwandi Yusuf, merasa kasihan dengan anggota DPR RI dari PKS asal dapil Aceh, Muhammad Nasir

Kasihan Nasir Djamil: Ini yang Dilakukan Gubernur Nonaktif Aceh
Internet
Gubernur Aceh Irwandi Yusuf 

TRIBUNMANADO.CO.ID, JAKARTA - Gubernur nonaktif Nanggroe Aceh Darussalam, Irwandi Yusuf, merasa kasihan dengan anggota DPR RI dari PKS asal dapil Aceh, Muhammad Nasir Djamil, yang namanya disebut saksi dalam persidangan kasus dugaan suap dirinya.

Irwandi mensinyalir ada mantan asisten atau anak buah Nasir Djamil yang sengaja mencatut nama Nasir Djamil untuk mengambil keuntungan atau tindak pidana. "Waduh kasihan Nasir Djamil. Mudah-mudahan dia tak terlibat langsung. Mungkin anak buahnya jual nama," kata Irwandi, saat ditemui di sela persidangan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta, Senin (18/2).

Menurut Irwandi, dugaan mencatutu atau 'menjual' nama atasan berdasarkan pengalaman dirinya sebagai korbannya. "Anak buahku juga banyak jual nama. Kalau sampai orang-orang dekat aku disadap semua jual nama," kata dia.

Pernyataan itu menanggapi penyebutan nama Nasir di persidangan yang menjerat terdakwa Gubernur Nanggroe Aceh Darussalam nonaktif, Irwandi Yusuf, Teuku Saiful Bahri dan Hendri Yuzal.

Disebutkannya nama politikus Nasir Djamil disampaikan oleh Direktur PT Kenpura Alam Nangro, Dedi Mulyadi, saat menjadi saksi sidang kasus suap pengalokasian Dana Otonomi Khusus Aceh (DOKA) 2018, di Pengadilan Tipikor Jakarta, Senin, 11 Februari 2019. Irwandi Yusuf, Teuku Saiful Bahri dan Hendri Yuzal menjadi terdakwa dalam sidang tersebut.

Dalam kesaksiannya, Dedi Mulyadi mengaku pernah menyerahkan uang Rp 1 Miliar kepada anggota DPR RI Nasir Djamil. Namun, uang tersebut ditujukan untuk asisten Nasir Djamil, Rizal selaku orang yang menawarkannya pekerjaan proyek.

Menurut Dedi, perusahaan PT Kenpura Alam Nangro miliknya yang bergerak di bidang jasa konstruksi ditawarkan untuk mengerjakan proyek di bawah Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).

Dedi mengatakan, pekerjaan itu ditawarkan oleh seseorang bernama Rizal.

"Dia anggota DPR RI. Tapi dia (Nasir Djamil,-red) tidak tahu apa-apa, yang menawarkan kerjaan si Rizal. Uang diserahkan ke Rizal. Rizal ini orang dekatnya Pak Nasir Djamil," kata Dedi dalam kesaksian di persidangan.

Hal itu terungkap saat jaksa KPK menanyakan pada Dedi tentang barang bukti yang didapat dari penggeledahan salah satu lokasi atas nama Mamik Riswanti (Komisaris PT Kenpura Alam Nanggroe yang juga istri Dedi). Barang bukti itu disebut jaksa berupa catatan bertuliskan 'kewajiban' untuk orang lain.

Dedi memaparkan bila catatan itu berisi aliran uang berkaitan dengan proyek yang dikerjakan perusahaannya.  Kode 'kewajiban' diakuinya sebagai commitment fee atas proyek.

Dalam perkara ini, Irwandi didakwa menerima suap Rp 1 miliar dari Bupati Bener Meriah Ahmadi. Uang tersebut, disebut jaksa, dimaksudkan agar Irwandi menyetujui program pembangunan dari DOKA tahun 2018. Irwandi menerima uang tersebut melalui Hendri Yuzal dan Saiful Bahri.

Selain itu, Irwandi didakwa menerima gratifikasi Rp 41,7 miliar selama menjabat Gubernur Aceh. Irwandi menjabat Gubernur Aceh periode 2007-2012 dan periode 2017-2022.  (tribun network/gle)

Penulis: reporter_tm_cetak
Editor: Lodie_Tombeg
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved