Senin, 13 April 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Healthy

Natarini Setianingsih Sembuh Dari Kanker Darah, Bagaimana Caranya?

Setiap orang punya semangat untuk sembuh dari penyakit yang diderita, sama halnya dengan Natarini Setianingsih (27), berusaha untuk sembuh dari kanker

Editor:
tribunnews
Foto istimewa Natarini Setianingsih 

TRIBUNMANADO.CO.ID-Setiap orang punya semangat untuk sembuh dari penyakit yang diderita, sama halnya dengan Natarini Setianingsih (27), berusaha untuk sembuh dari kanker darah yang diderita sejak SMP.

Kini, perempuan lajang ini giat berbagi pengalaman dan semangat pada para pasien kanker anak dan orangtuanya lewat komunitas yang didirikannya bersama empat temannya sesama survivor.

Simak tulisan Hasuna Daylailatu, Natarini Setianingsih; “Aku Sembuh dari Leukemia”, yang pernah dimuat di Tabloid NOVA edisi 1465 tahun 2016 berikut ini. 

Dulu, sewaktu aku masih duduk di kelas enam SD, ada salah satu murid ibuku yang menjadi pasien kanker leukemia di Pandeglang, kota tempat tinggalku.

Waktu itu, penyakit kanker jarang diderita warga Pandeglang, sehingga ketika ada yang menderita penyakit ini, bisa dibilang hampir seisi kota akan tahu dan merasa iba.

Ibuku yang berprofesi sebagai guru SD mengajakku menjenguk muridnya itu bersama guru-guru lain.

Memang benar, kondisi anak itu sangat menyedihkan sehingga membuatku iba. Seminggu sekali dia menjalani transfusi darah, Belum lagi, gusinya mengalami perdarahan dan rambutnya rontok.

Tak lama setelah kami jenguk, anak itu meninggal karena tak kuat melawan penyakitnya.

Aku ingat, sejak SD aku sudah sibuk. Setelah pulang sekolah, pukul 14.00 aku berangkat ke sekolah agama sampai pukul 17.00. Setahun kemudian, setelah masuk SMP, aku yang merupakan anak sulung dari dua bersaudara, sibuk dengan kegiatan Masa Orientasi Siswa (MOS) dan kegiatan sekolah lainnya.

Mungkin karena inilah, aku yang waktu itu baru berusia 12 tahun kecapekan dan mulai terserang batuk, pilek, demam, dan pucat pertengahan catur wulan pertama.

Sebenarnya, sakitku ini seperti yang dialami orang lain. Kondisiku drop, di sekolah pun sulit berkonsentrasi. Rasanya sungguh tidak nyaman.

Aku jadi sering tidak masuk karena sakit. Meski sudah diperiksakan ke dokter dan minum obat, sakitku kembali datang begitu obat habis.

Kondisi ini terus berulang, meski berkali-kali diperiksa dokter yang berbeda, mulai dari dokter umum sampai dokter anak. Dokter yang satu mendiagnosa aku terkena tipus, dokter lainnya mengatakan aku menderita liver karena melihat wajahku pucat, dan dokter satu lagi mendiagnosa aku kena malaria.

Titik balik hidupku tiba bersama diagnosa yang menakutkan dari dokter spesialis penyakit dalam yang kami datangi setelah dua bulan sakitku tak kunjung sembuh. Oktober 1996 itu, aku diminta melakukan tes darah lengkap, dan hasilnya seakan dunia berhenti berputar. Aku didiagnosa leukemia!

Tak Kembali ke Rumah

Sumber: Tribunnews
Halaman 1/4
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved