Kamis, 30 April 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Biaya Ongkir Ekspedisi Naik 'Pukul' Pelaku UMKM di Manado

Yudi yang biasa menggunakan jasa ekspedisi 'port to port' untuk pengiriman bahan baku kaos dan kemeja mengaku merugi.

Tayang:
Penulis: Fernando_Lumowa | Editor: Nielton Durado
TRIBUN MANADO/ANDREAS RUAUW
Beberapa patung yang terbuat dari benalu kayu dengan model pahatan berbentuk hewan milik I Nyoman Soma (42) saat dipamerkan pada pameran SulutFest 2018 yang berlangsung di Mantos Tiga, Manado, Sulawesi Utara, Sabtu (24/11/2018). Nyoman merupakan satu dari ratusan UMKM binaan Bank Indonesia (BI). 

Tribunmanado.co.id, Manado - Kenaikan tarif kargo udara diikuti biaya jasa pengiriman barang oleh perusahaan ekspedisi berimbas ke pelaku usaha mikro kecil menengah (UMKM) di Manado.

Kenaikan biaya ongkir memaksa pelaku usaha yang selalu berhubungan dengan ekspedisi putar otak.

Baca: Bocah 12 Tahun Lakukan Pembunuhan di Minut, Kepsek dan Polisi Ungkap Kelakuan Siswa Kelas 5 SD itu

Baca: Bocah 12 Tahun di Warukapas Membunuh, Kapolsek: Track Record-nya Anak Nakal

Baca: Penikam Novel Masih Kelas 5 SD, Kepsek: Anak Ini Cepat Emosi kalau Ada yang Menatap ‘Miring’

Yudiawan Nugraha, pengusaha desain dan sablon kaos di Manado mengakui kenaikan tarif ekspedisi menambah biaya produksi.

Yudi yang biasa menggunakan jasa ekspedisi 'port to port' untuk pengiriman bahan baku kaos dan kemeja mengaku merugi.

Pasalnya ia biasa membayar Rp 32 ribu per kilogram (kg) untuk kiriman yang diambil di kargo Bandara Sam Ratulangi Manado.

Baca: Ini Tujuan Kapal Layar Motor Pinisi Pusaka Indonesia Mampir di Manado

Baca: 58 Pejabat Perebutkan 18 Jabatan Tinggi Pratama Pemkab Bolmong

Baca: Najwa Shihab Diusulkan jadi Moderator Debat Pilpres, Begini Reaksi dari Sejumlah Pihak

"Sekarang jadi Rp 51 ribu. Ada lebih murah tapi butuh 2-3 hari kerja, lebih rugi," ujar Yudi kepada Tribun Manado, Rabu ( 23/1/2019).

Menurutnya, kenaikan biaya ekspedisi bervariasi 30-60 persen tergantung paket dan jenis layanan.

Ia terpaksa menambah biaya untuk pengiriman karena terlanjur menerima order kerja dengan menggunakan harga  lama. "Pesanan tahun lalu kebanyakan dan dikerjakan awal tahun ini," ujarnya.

Agar tak rugi besar, Yudi terpaksa mengerek harga jual sekitar 7-10 persen. Itupun masih belum menutup margin kenaikan biaya ekspedisi.

"Masih berat karena tak mungkin harga langsung naik Rp 4-6 ribu per kaos. Misalnya lalu Rp 65 ribu per kaos, nanti jadi Rp 70 ribu mungkin," kata Yudi yang mengaku agak segan menaikkan harga jual kaos desainnya.

Baca: Liga Italia - Link Live Streaming Lazio vs Juventus, Senin 28 Januari 2019, Pukul 03.30 Wita

Baca: Resmi Bercerai, Gisel Ungkap Percakapan dengan Gading Marten: Awas Ya Jatuh Cinta Lagi Sama Gue

Baca: Natal dan Temu Kangen Alumando, Olly : Merawat Persaudaraan Dalam Kebhinekaan

Lain lagi dengan Didi Lumalente, pemilik usaha rumahan abon Roa. Katanya, kenaikan biaya ongkos kirim tak terlalu berpengaruh besar.

Alasan Didi, biasanya ongkir dibayar sekaligus oleh pembeli. Selain itu, tak semua paket pengiriman mengalami kenaikan tarif.

"Selama ini memang ongkir sekaligus dengan harga barang dibayar pemesan," kata pemilik produk Abon Didi Roa.

Pengusaha abon Roa lainnya, Jenis Tangkilisan mengatakan, kenaikan ongkir membuat konsumen mengeluh.

Pemilik usaha Abon Roa Manado Taste 88 itu mengakui konsumennya mengeluh.

"Ada beberapa sih karena kaget. Semoga tidak mempengaruhi minat mereka memesan abon Roa saya," ujar Jeje, sapaannya.(ndo)

Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved