Fakta soal Pengemis yang Katanya Punya Harta Rp 1 Miliar
Perolehan Rp 695 ribu itu pun dinilai tak sebanyak biasanya oleh pengemis tersebut.
Legiman juga menunjukkan KTP model lama (bukan e-KTP) diterbitkan oleh Dispendukcapil Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat.
Baca: Pria yang Dibaptis Paus Fransiskus ini Bukan Orang Sembarangan, Dulunya Pengemis, Kini Pahlawan
Dalam KTP yang telah habis masa berlakunya tersebut, diterangkan bahwa Legiman lahir di Pati pada April 1960. Kemudian ia menunjukkan tas hitam berisi uang kertas dan koin.
“Dari Pasar Tayu,” ucapnya. Ia kemudian berkata, “Kecekel(tertangkap) Pol PP… Alun-alun… sesok(besok) Pasar Tayu. Kecekel Pindo," sebutnya.
Dia hidup sendiri di kontrakan itu. Setahun bayar Rp 4 juta untuk biaya kontrak rumah. Hampir tiap hari adiknya antar jemput Legiman.
Terkumpul Fakta Baru
Tribunjateng.com pun melakukan investigasi lebih lanjut. Terungkap fakta baru yang didapatkan dari berbagai pihak.
Keterangan Kades Ngawen
Tribunjateng.com menemui Kepala Desa Ngawen, Sunarto, Selasa (15/1/2019) pagi guna memperoleh informasi lebih mendalam mengenai Legiman. Namun, Sunarto membantah keterangan bahwa Legiman merupakan warga Desa Ngawen.
“Saya sudah mengkonfirmasi ke semua perangkat desa. Pengemis yang diberitakan tersebut bukan warga kami. Dia bukan warga Ngawen,” tegas Sunarto.
Sunarto menjelaskan, kemungkinan perumahan yang dimaksud ialah Perumahan Gunung Bedah. Meski letaknya berdekatan dengan Desa Ngawen, namun perumahan tersebut masuk ke dalam teritori Desa Pegandan.
Keterangan Warga Perumahan Gunung Bedah
Tribunjateng.com kemudian menanyai Farida, bukan nama sebenarnya, seorang warga Perumahan Gunung Bedah.
Rumah Farida berada sekira 70 meter dari gapura perumahan. Menurut Farida, karena letaknya sangat dekat dengan gapura Desa Ngawen, banyak orang memang menyebut Perumahan Gunung Bedah sebagai Perumahan Ngawen.
Ketika Tribunjateng.com menunjukkan foto Legiman, Farida menjawab, “Saya enggak tahu orang ini. Sepertinya bukan warga sini. Tapi mungkin dia di wilayah perumahan yang masuk Desa Sokokulon. Soalnya perumahan ini terbagi ke dua desa, yakni Desa Pegandan dan Sokokulon.”
Tribunjateng.com kemudian menuju ujung barat perumahan yang merupakan bagian dari wilayah Sokokulon. Di sana, Sundari, bukan nama sebenarnya, seorang pemilik warung sembako mengaku mengenali Legiman.