Jumat, 24 April 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Pulau Sebesi Tertutup Abu Anak Krakatau: Warga Dengar Dentuman Keras Tiap Hari

Sekitar seribuan warga Pulau Sebesi dan Pulau Sebuku di Lampung Selatan dievakuasi ke daratan menyusul meningkatnya

Penulis: Tim Tribun Manado | Editor: Lodie_Tombeg
antara
Erupsi gunung Anak Krakatau Sabtu (22/12/2018). 

TRIBUNMANADO.CO.ID, JAKARTA - Sekitar seribuan warga Pulau Sebesi dan Pulau Sebuku di Lampung Selatan dievakuasi ke daratan menyusul meningkatnya aktivitas Gunung Anak Krakatau yang menyemburkan lava pijar dan debu abu vulkanik. Kedua pulau tersebut menjadi pulau berpenghuni yang lokasinya paling dekat dengan Gunung Anak Krakatau setelah melihat tendensi peningkatan aktivitas Gunung Anak Krakatau  dalam sepekan ini.

Pada Kamis (27/12) pukul 06.00 WIB, status Gunung Anak Krakatau ditingkatkan menjadi level III atau siaga, dari sebelumnya pada level II atau waspada Seorang warga Pulau Sebesi, Suganda mengungkapkan, Gunung Anak Krakatau mengeluarkan suara dentuman sepanjang hari.

Selain itu, debu dari Gunung Anak Krakatau telah menyelimuti Pulau Sebesi, sejak akhir pekan lalu. Hal tersebut membuat seluruh aktivitas warga di pulau terhenti. "Sekarang, debu GAK menyelimuti pulau. Dan, suara letusannya semakin kuat. Karena itu, kami minta dievakuasi karena khawatir dengan aktivitas GAK," ujar seorang warga bernama Suganda.

Seorang warga Pulau Sebesi lainnya, Abduraham menerangkan, suara dentuman yang terdengar selalu diikuti kilatan yang menakutkan. Kejadian seperti itu, kata dia, sebelumnya tidak terjadi, meski aktivitas GAK meningkat. "Kondisinya sangat mencekam. Debu GAK mulai menyelimuti Pulau Sebesi. Suara gelegar letusan juga sangat kuat," kata dia.

Proses evakuasi sekitar 1.300-an warga Pulau Sebesi dan Pulau Sebuku menggunakan tiga kapal laut. Proses evakuasi berlangsung sejak pagi hingga sore hari. Pagi hari, 1.000 warga diangkut menggunakan KMP Jatra III.

Mereka tiba di dermaga 5 Pelabuhan Bakauheni pada sekitar pukul 11.45 WIB. Selanjutnya pada siang hari, lebih dari 200 warga diangkut menggunakan Kapal KN Trisula, dan sisanya diangkut dengan KN Sabuk Nusantara. Warga disambut langsung oleh Plt Bupati Lampung Selatan, Nanang Ermanto dan Sekkab Lamsel, Fredy SM. Beberapa warga yang sakit langsung dibawa ke puskesmas rawat inap Bakauheni.

Sementara, warga lainnya dibawa ke penampungan di lapangan tenis indoor Kalianda. "Kita sudah menyiapkan dapur umum khusus di lapangan tenis indoor untuk melayani warga dari Pulau Sebesi yang dievakuasi," kata Nanang Ermanto. Meski begitu, ada sekitar 600 warga Pulau Sebesi yang masih bertahan tinggal di pulau.

Mereka mengungsi di bukit. "Warga ini masih mengungsi di tenda-tenda. Masih ada wanita dan anak-anak," kata Ardy, relawan dari pegiat literasi Perahu Pustaka yang juga warga setempat. Untuk mereka yang masih mengungsi di bukit, Nanang Ermanto mengatakan, pihaknya akan mengirimkan bantuan sembako. Namun ia berharap, para warga itu bisa segera mengungsi ke daratan menggunakan kapal-kapal nelayan dan tradisional yang ada.

Tsunami Susulan

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengimbau masyarakat untuk menghindari wilayah pantai untuk mengantisipasi kemungkinan tsunami susulan. Sebelumnya, status Gunung Anak Krakatau (GAK) berada di level II atau waspada. Perubahan status GAK seiring meningkatnya aktivitas GAK.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho menyebut, peningkatan status Gunung Anak Krakatau tersebut lantaran masih berlangsung erupsi di kawah gunung. Pada Kamis (27/12) dini hari terdengar suara dentuman. Menurut Sutopo, ada beberapa imbauan yang harus diketahui masyarakat terkait peningkatan status GAK.

Satu diantaranya adalah dari PVMBG Badan Gelologi Kementerian ESDM, yang merekomendasikan warga dan wisatawan dilarang melakukan aktivitas, di dalam radius 5 kilometer (km) dari puncak kawah."Karena berbahaya terkena dampak erupsi berupa lontaran batu pijar, awan panas, dan abu vulkanik pekat. Di dalam radius 5 kilometer tersebut, tidak ada permukiman," kata Sutopo.

Meningkatnya aktivitas Gunung Anak Krakatau juga dikhawatirkan menimbulkan longsoran bawah laut dan memicu tsunami sebagaimana yang terjadi pada Sabtu (22/12) lalu. BMKG mengimbau masyarakat dan wisatawan untuk menjauhi area pantai. "Masyarakat agar tidak melakukan aktivitas di pantai pada radius 500 meter hingga 1 kilometer dari pantai, untuk mengantisipasi adanya tsunami susulan," ujar Sutopo.

Sutopo juga mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan meningkatkan kewaspadaannya. Ia menyarankan untuk tidak percaya informasi yang belum jelas kecuali yang bersumber PVMBG untuk peringatan dini gunung api, dan BMKG terkait peringatan dini tsunami selaku institusi yang resmi. "Jangan percaya dari informasi yang  menyesatkan yang sumbernya tidak dapat dipertanggungjawabkan," pungkas dia.

Sementara itu Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Dwikorita Karnawati melakukan koordinasi dengan Kepala BNPB, Bupati Pandeglang, Basarnas, TNI/Polri, dan berbagai pihak terkait lainnya. Dwikorita juga mengingatkan kepada masyarakat untuk menjauhi pantai di Selat Sunda lantaran erupsi Gunung Anak Krakatau sampai saat ini berada pada level Siaga.

Halaman 1/3
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved