Selasa, 28 April 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Pesona Indonesia - Tas Noken, Maha Karya Mama Papua yang Mendunia

tas Noken sudah menjadi trend selalu dipakai anak-anak muda Indonesia sebagai salah satu cara mencintai produk budaya bangsa.

Editor: Indry Panigoro
Tabloid Nova - Grid.ID
Pesona Indonesia - Tas Noken, Maha Karya Mama Papua yang Mendunia 

Tajuk Tamu oleh: Moliu Mom

Mahasiswa Program Studi Akuntansi, Fakultas Ekonomi, Universitas Katolik De La Salle Manado

TRIBUNMANADO.CO.ID, MANADO - Diantara kita mungkin masih banyak yang belum tahu apa itu tas noken, tetapi jika melihat dari bentuk dan karya seninya, maka sebagian besar orang Indonesia menyebutnya sebagai "Tas Papua" karena asalnya dari Papua.

Sebenarnya sah-sah saja, namun harus kita ketahui bahwa tas Noken ternyata telah ditetapkan sebagai warisan budaya dunia Tak Benda oleh UNESCO.

Tepatnya tanggal 04 Desember 2012 di Prancis yang disahkan oleh ArleyGill sebagai Ketua Komite.

UNESCO menetapkan tas Noken sebagai warisan budaya dunia tak benda karena keunikan dan ciri khasnya yang dipakai di kepala, selain juga bertujuan untuk melindungi dan menggali kebudayaan tersebut.

Baca: Manado Masih Kota Paling Toleran

Maka dari itu, kita patut bangga dengan salah satu produk lokal asal Papua tersebut. Tas yang terbuat dari serat kulit kayu ini biasa digunakan untuk membawa barang-barang kebutuhan sehari-hari.

Masyarakat Papua biasanya menggunakannya untuk membawa hasil-hasil pertanian seperti sayuran, umbi-umbian dan juga untuk membawa barang-barang dagangan ke pasar.

Namun sekarang ini, tas Noken sudah menjadi trend selalu dipakai anak-anak muda Indonesia sebagai salah satu cara mencintai produk budaya bangsa.

Asal Pembuatan Tas Noken 

Tas Noken terbuat dari bahan baku kayu pohon Manduam, pohon Nawa atau Anggrek
hutan.

Masyarakat Papua biasanya menggunakan Noken untuk bermacam kegiatan, Noken
yang berukuran besar dipakai untuk membawa barang seperti kayu bakar, tanaman hasil
panen, barang-barang belanjaan, atau bahkan digunakan untuk menggendong anak.

Sedangkan yang berukuran kecil digunakan untuk membawa barang-barang pribadi.

Keunikan Noken juga difungsikan sebagai hadiah kenang-kenangan untuk tamu dan dipakai
dalam upacara.Membuat Noken cukup rumit karena tidak menggunakan mesin.

Kayu tersebut diolah, dikeringkan dan kemudian dipintal menjadi benang. Variasi warna pada
Noken dibuat dari pewarna alami.

Baca: Ruhut Sitompul: Saya Suka Sama Semua Timses Prabowo-Sandi

Proses pembuatannya bisa mencapai 1-2 minggu, untuk Noken dengan ukuran besar, bisa mencapai 3 minggu.

Di Daerah Sauwadarek, Papua, masih bisa kita temukan pembuatan Noken secara langsung. Harga Noken disana relatif murah, antara Rp 25.000-Rp 50.000 per buah tergantung jenis dan ukurannya.

Tas Noken ini sendiri memiliki ukuran yang bervariasi, bahkan ada yang berukuran besar
yang biasa dipakai oleh mama-mama yang bekerja sebagai petani dan mampu mengankat
bahan hasil bumi yang cukup berat dengan menggunakan tas noken ini, dan uniknya lagi ini
digunakan dengan memakai jidat atau bagian depan kepala mereka dengan mengalungkannya
ke arah belakang punggung mereka, dan untuk tas noken yang berukuran kecil biasa
dipergunakan oleh siswa-siswa pelajar asli putra-putri daerah Papua untuk dipergunakan
sebagai tempat buku dan keperluan belajar di bangku sekolah maupun di kampus.

Baca: Jems Tuuk Panen Aspirasi Warga Dumoga

Tas Noken Yang Penuh dengan Filosofis

Tas Noken merupakan buatan asli mama-mama di Papua. Tas tradisional Noken memiliki
simbol kehidupan yang baik, perdamaian, dan kesuburan bagi masyarakat di tanah Papua
terutama kebanyakan di daerah Pegunungan Tengah Papua seperti suku Mee/Ekari, Darmal,
Suku Yali, Dani, Lani, dan Bauzi.

Yang menarik dari Noken ini adalah hanya orang Papua saja yang boleh membuat
Noken.

Konon, pada jaman dahulu, pembuatan tas noken ini melambangkan kedewasaan
karakter perempuan.

Karena jika perempuan Papua belum bisa membuat Noken, maka dia belum dianggap dewasa dan itu juga merupakan syarat untuk menikah.

Jika ingin menikah, maka syaratnya harus bisa membuat tas Noken.

Namun, semakin berkembangnya jaman dan teknologi, para perempuan di Papua sudah jarang yang bisa membuat Noken, tetapi dengan kesadaran akan tradisi jaman dahulu, para orang tua si perempuan Papua mau tidak mau harus memaksa anaknya agar bisa membuat tas Noken walaupun memiliki kesibukan di pendidikan ataupun karir.

Baca: Daftar Pemenang Panasonic Gobel Awards 2018: ILC Karni Ilyas Jawara, Sus Salamun Penghargaan Khusus

Sampai saat ini, peminat tas Noken melambung tinggi, khususnya pengiriman ke luar Negeri, diantaranya negara Asean, Jepang, Australia, bakan sampai ke Amerika Serikat.

Di Indonesia sendiri, tas Noken masih dijadikan trend anak muda mulai dari pelajar sampai mahasiswa.

http://googleweblight.com
www.strbiztv.com
www.strategi dan bisnis.com

Kesimpulan:

1) Setiap suku di suatu daerah pasti memiliki ciri khas kebudayaannya strategik manajemen
masing – masing.

Ciri-ciri membedakan satu suku dengan suku lainnya. Hal ini yang sama juga terlihat pada suku Dani.

Dari hasil artikel strategik manajeman di atas, penulis menyimpulkan bahwa suku Dani memiliki strategik kekayaan etnografi yang bernilai tinggi.

Semuanya nampak jelas dalam berbagi segi kehidupan masyarakatnya, misalnya dalam strategik bidang pertania. Sejak dulu masyarakat Dani sudah mengenal cara berkebun yang maju dan suku lain daerah pengunungan tengah Papua cara berkebun
sangat maju.

Hal ini di buktikan lewat pembuatan bendeng-bendeng yang dilengkapi dengan parit –parit di pinggirnya untuk mempermudahkan irigasi.

Hal ini lain bisa terlihat dari cara mereka membuat rumah yang diatur sedemikan rupa sehingga membentuk kompleks pemukiman yang rapi.

2) Ketika berhadapan dengan Modernisasi, suku Dani tetap berusaha mempertahankan ciri
khasnya budayanya, Meskipun terjadi banyak perubahan dalam seluruh kehidupan.

Perubahan yang dimaksud menyebabkan terjadinya Asimilasi, Inkultrasi dan konfrontasi
dengan strategik manajemen budaya setempat.

Jika dilihat secara sepintas maka kehidupan suku Dani yang sekarang sudah mulai berbeda dari kehidupan geberasi suku

Dani terdahulu. Meskipun demikian, ada tradisi-tradisi tertentu yang masih dilaksanakan dan dipertahankan keasliannya.

Saran:

1. Bagi Pemerintah
Dalam meningkatkan dan mengangkat strategik budaya daerah diantaranya budaya suku
Dani hendaklah pemerintah mempertahankan dan memperhatikan keradaan budaya di
tersebut dengan memperkenalkan dalam pertunjukkan nasional baik Seni Tari maupun
Seni Pahat Patung sebagai aneka ragam budaya Indonesia yang dikenal di manca negara
dan salah satu penghasil Devisa Negara.

2.  Bagi Dosen
Dengan adanya Strategik Keanekaragaman budaya daerah diharapkan dapat memiliki
manfaat langsung maupun tidak langsung untuk memperkaya bahan kajian dalam proses
pendidikan dan dapat mengkontruksi pengetahuan melalui pengalaman belajar yang tepat.

3. Untuk Mahasiswa
Memberikan Nuansa baru dalam menambah wawasan pengetahuan yang memungkinkan mahasiswa berkesempatan untuk memperbaiki cara dan sikap dalam memahami budaya daerah yang beraneka ragam sebagai budaya Nasional dan menumbuh rasa persatuan berbangsa dab kebangsaan.

Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved