Kamis, 30 April 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Beredar Desas-desus Lewat WhatsApp tentang Penculikan Anak, Paman dan Keponakan Dibakar Massa

Rumor tersebut tidak benar, tetapi segerombolan orang membakar mati dua pria sebelum seorangpun memeriksa kebenarannya.

Tayang:
Editor: Aldi Ponge
ENFOQUE via BBC
Penduduk mengacungkan telepon genggam untuk merekam saat Ricardo dan Alberto dibakar. 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Desas-desus tentang penculik anak menyebar lewat WhatsApp di sebuah kota kecil di Meksiko.

Rumor tersebut tidak benar, tetapi segerombolan orang membakar mati dua pria sebelum seorangpun memeriksa kebenarannya.

Pada tanggal 29 Agustus, tidak lama setelah tengah hari, Maura Cordero, pemilik sebuah toko seni dan kerjainan tangan di sebuah kota kecil Acatlán, negara bagian Puebla, Meksiko tengah, melihat sekumpulan orang berkumpul di luar kantor polisi di sebelah tokonya.

Baca: Inilah 6 Fakta Pembunuhan Satu Keluarga di Bekasi, Korban Sempat Marah saat Telepon

Cordero, 75 tahun, mendekati pintu dan melihat ke luar.

Puluhan orang berada di luar pos polisi di Reforma Street, di pusat kota dan kerumunan orang terus bertambah.

Tidak lama kemudian jumlahnya menjadi lebih dari 100 orang.

Cordero tidak ingat apakah dia pernah melihat kerumunan orang seperti itu di Acatlán, kecuali saat peringatan peristiwa tertentu.

Dia melihat sebuah mobil polisi melintas tokonya, membawa dua pria ke penjara kecil.

Mobil tersebut diikuti lebih banyak lagi orang dan semakin terdengar teriakan mereka menuduh kedua pria yang dibawa ke penjara tersebut sebagai penculik anak.

Dari balik pagar besi pintu masuk pos, polisi mengatakan kedua pria tersebut bukanlah penculik anak tetapi pelanggar hukum ringan.

Baca: Klasemen Sementara Piala AFF 2018 Grup B, Indonesia Naik Posisi Kedua

 Polisi mengulangi perkataan tersebut berkali-kali, sementara kerumunan terus bertambah.

Ricardo Flores, 21 tahun, duduk di dalam kantor polisi.

Dia tumbuh di luar Acatlán tetapi kemudian pindah ke Xalapa, kota sejauh 250 km arah timur laut, untuk mempelajari ilmu hukum.

Pamannya, Alberto Flores, seorang petani yang berumur 43 tahun, telah tinggal berpuluh-puluh tahun tinggal di sebuah masyarakat kecil di luar Acatlán.

Ricardo baru saja kembali ke Acatlán untuk mengunjungi keluarganya.

Sumber: Tribunnews
Halaman 1/4
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved