Transaksi Repo Perbankan Masih Terbatas

Perbankan belum banyak memanfaatkan transaksi repurchase agreement (repo). Padahal OJK telah mengeluarkan aturan GMRA.

Transaksi Repo Perbankan Masih Terbatas
Kompas.com
Bank Indonesia 

TRIBUNMANADO.CO.ID- Perbankan belum banyak memanfaatkan transaksi repurchase agreement (repo). Padahal, sejak tahun 2015 Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah mengeluarkan aturan mengenai global master repo agreement (GMRA). Beleid ini mengatur standar penggunaan dokumen GMRA dalam pelaksanaan repo.

Darmawan Junaidi, Direktur Treasury dan Institutional Banking Bank Mandiri mengatakan, penggunaan repo lebih dilakukan jika ada kebutuhan untuk menutup likuiditas jangka pendek di perbankan. Sementara saat ini likuiditas Bank Mandiri masih memadai sehingga tidak dalam posisi repo.

Jan Hendra Sekretaris Perusahaan Bank Central Asia (BCA) juga mengatakan, saat ini BCA juga tidak melakukan transaksi repo karena likuiditas masih mencukupi kebutuhan. "Ini karena pertumbuhan dana murah tabungan dan giro cukup bagus," ujar Jan, Senin (22/10).

Bahkan Andreas Basuki, Sekretaris Perusahaan Bank CCB Indonesia mengaku saat ini Bank CCB Indonesia masih dalam kondisi kelebihan likuiditas.

Berdasarkan data Bank Indonesia (BI) sampai Agustus 2018, transaksi repo perbankan sebesar Rp 731 miliar atau turun 36 persen year on year (yoy) dibandingkan periode sama 2017 sebesar Rp 1,1 triliun. Transaksi repo yang cukup aktif hanya pada tenor satu minggu. Sedangkan tenor overnight dan satu bulan belum cukup aktif.

BI juga mencatat, pada pekan lalu transaksi repo menurun. Jika pertengahan 2018, transaksi repo bisa mencapai Rp 2 triliun per hari, pada pekan lalu transaksi repo di bawah Rp 1 triliun.

Nanang Hendarsah, Kepala Departemen Pengelolan Moneter BI mengatakan, penurunan tersebut karena ada keharusan mark to market. Dalam kondisi likuiditas di pasar longgar, bank pada umumnya tidak berminat melakukan transaksi repo.Adhi Brahmantya, Direktur Bank Bukopin menjelaskan, semakin banyak uang yang beredar di pasar maka aktivitas transaksi repo kurang diminati. Sebab, bank dapat dengan mudah memperoleh dana di pasar tanpa perlu mengagunkan surat berharga yag dimilikinya.

Menurut Nanang, semestinya bank semakin meninggalkan transaksi pinjam meminjam melalui PUAB dan beralih ke repo sehingga dalam kondisi likuiditas seperti akan memperkuat stabilitas sistem keuangan.(ktn)

Editor:
Sumber: Kontan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved