Minggu, 12 April 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Pangdam XIII/Merdeka Silaturahmi Dengan FKUB dan Stakeholder Sulut

Panglima Kodam (Pangdam) XIII Merdeka Mayjen Tiopan Aritonang menerima kunjungan silaturahmi Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB)

Penulis: Handhika Dawangi | Editor: David_Kusuma
Istimewa
Panglima Kodam (Pangdam) XIII Merdeka Mayjen Tiopan Aritonang menerima kunjungan silaturahmi Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) dan Stakeholder Sulut, Selasa (23/10/2018) pukul 09.00 Wita di Koridor Makodam XIII/Merdeka. 

TRIBUNMANADO.CO.ID, MANADO - Panglima Kodam (Pangdam) XIII Merdeka Mayjen Tiopan Aritonang menerima kunjungan silaturahmi Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) dan Stakeholder Sulut, Selasa (23/10/2018) pukul 09.00 Wita di Koridor Makodam XIII/Merdeka.

Dalam sambutannya, Pangdam XIII/Merdeka mengatakan sebagai Pangdam XIII/Merdeka dan pribadi, mengucapkan selamat datang di Markas Kodam XIII/Merdeka dan terima kasih atas kesediaan hadirin sekalian untuk meluangkan waktu dan hadir memenuhi undangan kami.

Pangdam mengatakan beberapa waktu yang lalu, Sulawesi Utara yang sering dikatakan orang sebagai barometer dan kiblat toleransi kerukunan antar-umat beragama mengalami sedikit ujian.

"Kita semua tentunya patut bersyukur bahwa situasi yang sempat memanas tersebut masih terkendali sehingga tidak berkembang menjadi anarkis," ujar Pangdam.

Baca: Pangdam XIII/Merdeka dan Wakapolda Sulut Kawal Demo di Jalan Martadinata

Pangdam mengatakan yang sangat urgen sekarang ini adalah bagaimana kita menyikapi dan mengambil hikmah dari peristiwa tersebut.

Harus diakui bahwa potensi konflik antar-umat beragama di Sulawesi Utara ini memang benar-benar ada. Hal ini harus menjadi perhatian kita semua, sehingga potensi konflik tersebut dapat direduksi sedikit demi sedikit agar tidak mudah disulut.

"Jargon “Sulut Sulit Disulut” harus bisa kita buktikan. Memang tidak mudah mengimplementasikannya. Namun dengan tekad dan kemauan untuk berbuat yang terbaik demi negara dan bangsa, kita pasti bisa,” ujarnya.

“Apapun bentuknya, yang namanya konflik antar umat beragama tidak ada baiknya, bahkan bertentangan dengan semangat ajaran dan jiwa dari setiap agama yang ada di dunia ini," ujar Pangdam lagi.

Lanjut Pangdam, pelajaran penting lain yang juga dapat kita petik adalah bahwa hoaks atau berita bohong sangat berbahaya bagi kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Era keterbukaan dan kemajuan teknologi informasi yang sangat pesat telah membuka Kotak Pandora dunia maya, khususnya melalui Medsos.

Begitu mudahnya setiap orang membuat dan mengakses berita lintas daerah, bahkan lintas negara, tanpa diikuti oleh kemampuan literasi media yang memadai, telah membuat bermacammacam berita berseliweran tanpa diketahui mana yang benar dan mana yang hoaks.

Virus hoaks menggerogoti jiwa persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia. Bangsa Indonesia yang jati dirinya adalah bangsa yang sopan, ramah, tepa selira, dan selalu menghormati orang lain sekarang tampak garang, arogan, intoleran dan sering melontarkan ujaran kebencian.

Baca: Pangdam XIII/Merdeka Pimpin Pemakaman Massal Korban Gempa dan Tsunami Palu

"Sadar atau tidak, banyak dari kita yang sudah terpedaya oleh kehebatan gawai (gadget) masa kini. Bukannya memanfaatkan Android untuk memudahkan kita bekerja dan bersosialisasi, namun justru kita yang dimanfaatkan untuk menyebar hoaks," ujar Pangdam.

Jika dulu ada pepatah lidah lebih tajam dari pedang, maka sekarang ini dua ibu jari kita bahkan lebih tajam dari lidah. Kenapa? Hanya dengan men-share berita-berita bohong atau hoaks dengan mengoperasikan 2 ibu jari kita di Android masing-masing, sudah cukup untuk membuat suatu opini publik yang buruk dan bahkan memecah-belah persatuan dan kesatuan bangsa.

Pangdam mengatakan, hal ini tentunya sangat berbahaya. Bagaimanapun juga, massif dan viralnya hoaks akhir-akhir ini untuk menyebar fitnah dan menghujat orang atau kelompok tertentu telah menyebabkan perpecahan di antara sesama anak bangsa dan membahayakan persatuan dan kesatuan, kebhinekaan, serta mendorong tumbuhnya radikalisme dan konflik horizontal.

Halaman 1/2
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved