Minggu, 24 Mei 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Ternyata Ada Gua Jepang di Lotta, Ini Sejarah Awalnya

Di Wisma Lorenzo Lotta, di samping kiri Amphiteater Immanuel Catholic Youth Center Lotta terdapat sebuah gua.

Tayang:
Penulis: | Editor: Indry Panigoro
Di Wisma Lorenzo Lotta, di samping kiri Amphiteater Immanuel Catholic Youth Center Lotta terdapat sebuah gua. 

Laporan Wartawan Tribun Manado David Manewus

TRIBUNMANADO.CO.ID, TONDANO - Di Wisma Lorenzo Lotta, di samping kiri Amphiteater Immanuel Catholic Youth Center Lotta terdapat sebuah gua.

Gua yang sudah dipercantik itu merupakan Gua Jepang.

Menurut catatan Pastor Jan Van Paasen MSC yang dibukukan Pastor Albertus Sujoko, dosen Sekolah Tinggi Filsafat Seminari Pineleng (STFSP) pada jaman kependudukan Jepang di Manado, 1942-1945 didirikan oleh Jepang sebuah Rumah Sakit Angkatan Laut Jepang dengan paksaan di tanah milik Keuskupan Manado itu. Namanya Kaigun Byoin.

"Rumah sakit ini letaknya di Kompleks Wisma Lorenzo, di sekitar gua Jepang di Lotta. Ketika itu yang menjabat direktur RS adalah Dokter Nobumori dari Jepang " kata Pastor Joko, sapaan akrab Pastor Albertus Sujoko mengutip Pastor Van Paasen.

Rupanya lokasi Lotta ini dipilih oleh Jepang oleh karena cukup jauh dari Manado, aman dan juga agak segar. Tempat ini saat itu juga gampang ditempuh, pun dengan kendaraan beroda empat dan keadaan jalan cukup rata dan bagus, walaupun ketika itu belum diaspal.

"Cukup sering pada jam 07.00 pagi sirene mulai berbunyi, tanda bahwa ada pesawat musuh yang mendekati Manado dan sekitarnya. Orang Jepang pada umumnya sangat takut akan pesawat para sekutu dan pada saat bunyi sirene kedengaran, para orang sakit terburu-buru dibawa masuk ke dalam goa untuk menghindari pemboman," ujarnya.

Pemboman itu sering pada setengah tahun terakhir dari Perang Dunia itu, antara Januari dan Agustus 1945, Tentara Sekutu sudah mampu memukul mundur angkatan bersenjata Jepang dari Samudera Pasifik sampai di Morotai, Halmahera Utara.

Baca: ISKA Sulut Rencananya Akan Buat Seminar Tentang Lingkungan

"Dan dari basis Morotai itu saban hari naik pesawat pembom USA dan Australia untuk menyerang target-target militer di Indonesia, di Filipina, malah sampai di Jepang. Amat sering kota Manado juga diserang, dari udara dan pada akhir perang itu, 15 Agustus, hampir tiada lagi gedung-gedung utuh di Manado," ujarnya.

Sejak jam 09.00 pagi, tidak boleh ada asap untuk tidak mempermudah navigasi pesawar Sekutu itu. Rupanya dari udara Rumah Sakit ini hampir tidak kelihatan, karena orang Jepang memang pandai membuat kamuflase di atas atap-atap gedung mereka yang cukup tersembunyi di bawah banyak pohon kelapa dan durian.

"Syukurlah tak ada pernah ada bom yang kena Kaigun Byoin, namun sudah pernah ada yang jatuh tidak jauh dari tempat ini. Di dalam gua ada suasana tegang sementara pemboman di Manado, namun untunglah nasib orang di dalam gua itu sedikit diringankan karena ada diesel yang membangkitkan listrik bagi lampu dan kipas angin," katanya.

Baca: Ini Hasil Pertemuan Kedua Bridge di Rumah dan Sekolah Betzata ABD Leilem Minahasa

Ia mengatakan di dalam gua tidak pernah disimpan senjata atau bahan meledak. Juga obat atau bahan makanan tidak disimpan di sana dan gua memang hanya dipakai sebagai tempat perlindungan manusia.

"Kebaktian Kristen tak pernah dibuat di dalam gua tetapi di dalam rumah penolong Pandi. Kalau ada pasien yang meninggal di dalam gua atau di dalam barak-barak, jenasahnya dibakar di dekat sungai lalu abunya dibawa ke kantor Jepang di Manado dan lalu diterbangkan pulang ke Jepang," katanya.

Di sana terdapat Poli Bedah.

Rumah Sakit ini dipimpin oleh Dr. Kisman dari Jawa, ia dibantu oleh seorang perawat, Bapak Piyoh.

Sumber: Tribun Manado
Halaman 1/2
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved