Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Penguatan Dolar Menekan Pergerakan Rupiah

Kurs rupiah berpotensi bergerak melemah terhadap dollar Amerika Serikat pada perdagangan Jumat (5/10).

Editor: Lodie_Tombeg
kontan
Mata uang dolar AS 

 
TRIBUNMANADO.CO.ID.CO.ID, JAKARTA - Kurs rupiah berpotensi bergerak melemah terhadap dollar Amerika Serikat pada perdagangan Jumat (5/10). Hal ini akibat kenaikan imbal hasil US Treasury dan pengaruh dari krisis yang terjadi di Italia.

Ekonom Samuel Sekuritas Indonesia, Ahmad Mikail mengatakan, indeks dollar AS diperkirakan bergerak stabil ke level 95,7—95,9. Kurs dollar AS juga berpeluang menguat terhadap beberapa mata uang utama dunia lainnya.

Keputusan Italia untuk menjaga defisit anggarannya di bawah 3% mencegah pelemahan lebih lanjut mata uang euro terhadap dollar AS.

Kenaikan data factory orders di AS sebesar 2,3% (mom) di bulan Agustus atau lebih tinggi dari konsesus sebesar 2,1% (mom) semakin memperkuat kepercayaan investor bahwa ekonomi AS kian membaik.

Alhasil, hal tersebut menjadi kaltalis positif bagi The Federal Reserves untuk melanjutkan kenaikan suku bunga acuan AS. “Perbaikan data ekonomi AS selama dua hari terakhir juga mendorong naiknya imbal hasil US Treasury dan memperkuat dollar AS,” kata Mikail, dalam riset hari ini.

Dengan hasil ini, rupiah diproyeksikan kembali tertekan terhadap dollar AS. Mikail pun meramal rupiah akan bergerak melemah di kisaran Rp 15.100—Rp 15.200 per dollar AS.

Pada pukul 10.54 WIB pagi ini, nilai tukar rupiah di pasar spot berada di Rp 15.185 per dollar AS. Tadi pagi, rupiah sempat melemah hingga level Rp 15.194 per dollar AS.

Rupiah Masih Loyo, Imbal Hasil SUN Berpotensi Naik Lagi

Imbal hasil Surat Utang Negara (SUN) diperkirakan bergerak naik pada perdagangan Jumat (5/10). Kenaikan ini didorong oleh potensi pelemahan rupiah dan peningkatan tajam pada imbal hasil US Treasury.

Ekonom Samuel Sekuritas Indonesia, Ahmad Mikail menyampaikan, imbal hasil US Treasury jangka menengah (10 tahun) dan jangka panjang (30 tahun) pada Rabu malam masing-masing naik 1 bps ke level 3,20% dan 3,35%.

“Naiknya imbal hasil US Treasury disebabkan kuatnya data tenaga kerja AS di bulan September 2018 serta ekspektasi bahwa The Fed akan terus melanjutkan kebijakan kenaikan suku bunga acuan,” ungkapnya dalam riset, Jumat (5/10).

Di sisi lain, pergerakan harga minyak mentah dan gas alam dunia menahan kenaikan imbal hasil US Treasury. Kemarin malam, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) turun 2,7% ke level US$ 74,17 per barel sedangkan harga gas alam turun 0,31% ke level US$ 3,18 per MMBtu.

Faktor-faktor ini yang membuat imbal hasil SUN berpotensi besar kembali mengalami kenaikan. Mikail memprediksi, imbal hasil SUN seri acuan 10 tahun akan bergerak di kisaran 8,42%--8,50% pada perdagangan hari ini. Di saat yang sama, ia merekomendasikan seri FR0031, FR0034, FR0053, dan FR0061.

Rupiah
Rupiah (kontan)

Rupiah Spot Melemah Tipis ke Level Rp 15.183 per Dollar AS

 
Kurs rupiah terhadap dollar Amerika Serikat kembali melemah di awal perdagangan akhir pekan atau Jumat (5/10). Mengutip Bloomberg pukul 09.55 WIB, rupiah melemah tipis 0,03% ke level Rp 15.183 per dollar AS.

Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) hari ini pun melemah ke level Rp 15.182 per dollar AS. Jisdor melemah 0,32% dari posisi kemarin pada Rp 15.133 per dollar AS.

Sumber: Kontan
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved