Update Terkini: 1.235 Orang Meninggal Dunia
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat 1.234 orang meninggal dunia pasca bumi bermagnitudo 7,4 skala richter,
Penulis: Tim Tribun Manado | Editor: Lodie_Tombeg
TRIBUNMANADO.CO.ID, JAKARTA - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat 1.234 orang meninggal dunia pasca bumi bermagnitudo 7,4 skala richter, Jumat 28/9) lalu.
Gempa tersebut kemudian mengakibatkan tsunami setinggi hingga 2 meter yang menyebabkan ribuan korban tewas semakin banyak karena mereka tidak hanya tertimpa reruntuhan bangunan, namun juga tersapu derasnya air laut.
Sembilan kabupaten dan kota terdampak. Empat diantaranya, terdampak paling parah, yaitu Kota Palu, Kabupaten Donggala, Kabupaten Sigi, dan Kabupaten Parigi Moutong.
"1234 meninggal dunia. Tersebar di 109 titik. Data resmi 1234 proses identifikasi.Kami menerima jenazah langsung dibawa-bawa ke rumah sakit. Korban dipilah-pilah (asal daerah,-red)," Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho menjelaskan, Selasa (2/10).
Dia mengaku tidak dapat mengklasifikasikan asal daerah para korban bencana alam tersebut. Dia hanya memastikan korban berasa dari kota/kabupaten yang terdampak bencana alam.
Untuk jumlah korban jiwa itu, kemungkinan akan bertambah mengingat sejumlah daerah terkena dampak bencana alam masih kesulitan untuk diakses.
Sutopo juga menjelaskan terkait laporan yang disampaikan oleh masyarakat setempat. 152 orang dikabarkan tertimbun dan 62 ribu mengungsi di ratusan titik lokasi pengungsian "Korban tertimbun yang berdasarkan laporan masyarakat ada 152 orang. Sementara pengungsi (diketahui sebanyak) 61.867 jiwa yang tersebar di 109 titik.
Kerusakan rumah dialami lebih dari 65 ribu unit. Rumah rusak 65.733 unit dan kerusakan ini belum kita klasifikasikan, (apakah) rusak berat, rusak sedang, rusak ringan," ujar Sutopo.
Selain 1234 korban yang ditemukan meninggal dunia, 799 orang mengalami luka berat, serta 99 orang dinyatakan hilang. Hingga kemarin, proses evakuasi, pengiriman bantuan logistik dan tim relawan juga masih dilakukan untuk memasuki lokasi yang masih terisolir.
Sudah ada 26 negara yang menawarkan bantuan untuk penanganan korban gempa di provinsi itu dan tawaran itu pun disambut baik oleh pemerintah Indonesia.
Sutopo menjelaskan status bencana daerah berbeda dengan bencana nasional. Status bencana nasional diberikan apabila terjadi kehancuran di daerah itu, seperti ketika gempabumi dan tsunami terjadi di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam pada 2004.
Sedangkan di Provinsi Sulawesi Tengah, dia menjelaskan, pemerintahan di provinsi itu masih dapat berjalan. Sehingga, kata dia, itu menjadi alasan mengapa status adalah bencana daerah.
Status bencana daerah itu sama seperti terjadi gempabumi Yogyakarta pada 2006, erupsi Gunung Merapi pada 2008, dan gempa di Padang, Sumatera Barat pada 2009. "Yang penting bukan pernyataan status, tetapi penanganan. Pemerintah Indonesia masih sanggup menangani," tambahnya.
Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto memastikan pasukannya akan melakukan pengawalan ketat terhadap kendaraan yang membawa logistik bantuan untuk korban gempa bumi dan tsunami di Palu dan Donggala, Sulawesi Tengah. Hadi mengatakan, anggota TNI akan melakukan pengawalan secara maksimal terhadap bantuan yang akan disalurkan kepada para korban.
Hal ini mengingat, informasi yang beredar di media sosial, beberapa video menunjukan adanya pencegatan dari orang-orang terhadap kendaraan yang membawa logistik. "Menjaga distribusi untk jalan darat dari Parigi kami kawal sampai masuk, sampai aman, kemudian dari selatan dari Mamuju juga kami kawal pasukan," kata Hadi Tjahjanto di Mabes TNI, Cilangkap kemarin.
