SBY Minta Maaf ke Jokowi, Ruhut Sitompul: Akhir-akhir Ini Pernyataan Kader-kadernya Tak Akurat

Mantan anggota DPR RI ini mengungkapkan kesedihannya melihat mantan partai tempatnya bernaung itu.

SBY Minta Maaf ke Jokowi, Ruhut Sitompul: Akhir-akhir Ini Pernyataan Kader-kadernya Tak Akurat
TRIBUNNEWS/HERUDIN
Ruhut Sitompul 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Mantan kader Partai Demokrat, Ruhut Sitompul menanggapi permohonan maaf Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Hl tersebut tampak dari kicauan Twitter @ruhutsitompul yang diunggah pada Sabtu (29/9/2018).

Mantan anggota DPR RI ini mengungkapkan kesedihannya melihat mantan partai tempatnya bernaung itu.

Hal tersebut, kata Ruhut, bahkan sampai membuat SBY meminta maaf ke Jokowi dan Jaksa Agung.

"Aku sedih melihat Partai Demokrat semenjak Aku tinggalkan, sekarang ini Kader2nya pada Tdk Akurat Pernyataan2nya Akhir2 ini,

'Sampai Ketua Umumnya yg Aku Hormati Bapak SBY hrs menyampaikan Permohonan Ma’af Kepada Yth Bapak Joko Widodo Presiden RI ke 7 & Jaksa Agung RI' MERDEKA," tulis Ruhut Sitompul.

Postingan Ruhut Sitompul mengenai permohonan maaf SBY ke Jokowi, Sabtu (29/9/2018)
Postingan Ruhut Sitompul mengenai permohonan maaf SBY ke Jokowi, Sabtu (29/9/2018) (Capture/Twitter)

Permohonan Maaf SBY

SBY menuliskan permintaan maaf atas pernyataan Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) Partai Demokrat Andi Arief terkait alasan Ketua DPD Demokrat Sulawesi Utara Vicky Lumentut yang membelot menjadi kader Partai NasDem.

Hal itu disampaikan SBY melalui laman Twitternya, @SBYudhoyono, pada Jumat (28/9/2018).

SBY dalam kicauannya menyampaikan permintaan maaf kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Jaksa Agung Muhammad Prasetyo atas kicauan Andi Arief.

SBY juga menyebutkan bahwa pernyataan Andi Arief berlebihan dan keras.

Namun, SBY mengungkapkan bahwa pernyataan Andi Arief itu adalah perwakilan dari perasaan kader Demokrat lainnya yang tidak terima karena partai dan pemimpinnya dilecehkan Partai Nasdem.

Berikut kicauan lengkap SBY mengenai hal tersebut.

"Saya minta maaf kpd Presiden Jokowi & Jaksa Agung atas "tweet" Bung Andi Arief (AA), kader Demokrat, yg terlalu keras *SBY*

Pernyataan spontan AA tsb mungkin berlebihan & membuat tak nyaman Pak Jokowi & Pak Prasetyo *SBY*

Saya tahu AA mewakili perasaan jutaan kader Demokrat yg tidak terima partai & pemimpinnya dilecehkan oleh Partai Nasdem *SBY*

Penjaketan Ketua DPD PD Sulut Vicky Lumentut (jadi kader Nasdem) secara demonstratif tadi malam memang sangat melukai *SBY*

Meskipun saya yakin Pak Jokowi tidak tahu-menahu, beliau pasti bisa rasakan perasaan kader Demokrat. Semoga dapat dipetik hikmahnya *SBY*

Saya juga yakin Presiden Jokowi ingin pemilu ini berlangsung secara damai & tak ada perilaku politik yg melampaui batasnya *SBY*," tulis SBY.

Kicauan Ketua Umum Partai Demokrat yang juga merupakan Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) berisi permintaan maaf kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Kejaksaan Agung atas cuitan kader Demokrat Andi Arief, Jumat (28/9/2018).
Kicauan Ketua Umum Partai Demokrat yang juga merupakan Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) berisi permintaan maaf kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Kejaksaan Agung atas cuitan kader Demokrat Andi Arief, Jumat (28/9/2018). (Twitter @SBYudhoyono)

Tudingan Wasekjen Partai Demokrat Andi Arief

Diketahui, Andi Arief melalui laman Twitter @AndiArief__ pada  Jumat (28/9/2018), menuding Kejaksaan Agung sebagai alat politik Partai Nasdem.

Andi menuding bahwa Kejaksaan Agung menggunakan kekuasaannya sebagai lembaga penegak hukum untuk kepentingan politik.

Selain itu, Andi Arief juga menuding bahwa Presiden Jokowi mengetahui dan terlibat dalam hal tersebut.

"Jokowi ini tahu apa pura2 gak tahu atau malah terlibat dalam urusan abuse of power jaksa agung yang menjadi ketua DPD Nasdem propinsi kejaksaan?

Kalau Jokowi memang terlibat dalam skandal jaksa agung jadi alat politik Nasdem, saya menyerukan #2018gantipresiden.

Kejaksaan jadi alat politik Nasdem, lebih baik #2018gantipresiden dan pemilu dipercepat.

Jokowi, kejaksaan dan Nasdem apa harus menunggu SBY menyerukan rakyat turun ke jalan untuk mengakhiri kebobrokan hukum yang digunakan untuk politik?" tulis Andi Arief.

Kicauan Andi Arief yang berisi Tudingan kepada Kejaksaan Agung sebagai alat politik Partai Nasdem, Jumat (28/9/2018).
Kicauan Andi Arief yang berisi Tudingan kepada Kejaksaan Agung sebagai alat politik Partai Nasdem, Jumat (28/9/2018). (Twitter @AndiArief__)

Tanggapan Nasdem

Di sisi lain, Nasdem melalui Johnny G. Plate selaku Sekretaris Jenderal (Sekjen) mengatakan apabila beralihnya kader dari partai satu ke partai lainnya tidak menjadi ranah presiden.

Oleh karena itu, Plate mengatakan jika permasalahan ini terlalu kecil jika sampai dibawa ke tingkat orang nomor satu RI.

"Itu terlalu kecil masalah itu untuk dibawa ke tingkat presiden. Itu bukan masalahnya presiden. Kalau perpindahan satu ke partai lain, caleg partai satu ke caleg partai lain itu urusan parpol," ujar Plate di Posko Cemara, Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (28/9/2018)," dikutip Kompas.com.

Lebih lanjut, Plate mengaku enggan menanggapi lebih jauh tudingan Andi Arief.

Menurutnya hal itu justru akan menghabiskan energinya.

“Saya terus terang tidak menanggapi komentar Andi Arief di Twitter karena kalau semua komentar di Twitter dikomentari habislah energi kita, waktu kita. Yang pasti NasDem berpolitik jalan lurus untuk peningkatan demokrasi kita,” kata Plate.

Meski begitu, Plate menyatakan jika cuitan Andi Arief harus diseriusi lantaran menyinggung tagar ganti presiden.

Ia mengatakan apabila pergantian presiden telah diatur dalam konstitusi.

“Nah itu mekanismenya sudah diatur melalui UU dimana prosesnya akan berjalan melalui proses impeachment di DPR RI, MK, dan sidang MPR. Di luar itu namanya kudeta dan tidak sesuai amanat konstitusi,” imbuhnya. (TribunWow.com/Lailatun Niqmah)

Editor: Valdy Suak
Sumber: TribunWow.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved