Bakrie Capital Melepas BNBR
Saham Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) kembali masuk ke zona saham gocap. Pada saat yang bersamaan, PT Bakrie Capital
Penulis: Tim Tribun Manado | Editor: Lodie_Tombeg
TRIBUNMANADO.CO.ID, JAKARTA - Saham Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) kembali masuk ke zona saham gocap. Pada saat yang bersamaan, PT Bakrie Capital Indonesia mengambil posisi jual BNBR.
Dalam laporan kepemilikan saham di KSEI, Bakrie Capital memiliki 7,59% saham BNBR per 14 September. Aksi jual terus dilakukan hingga porsi kepemilikan Bakrie Capital saat ini tersisa 5,8%.
Padahal, per 13 September, Bakrie Capital masih memiliki 7,61% saham BNBR. Porsi kepemilikan ini tercapai setelah Bakrie Capital mengakumulasi saham BNBR sejak akhir Juli. Pada akhir Juli tersebut, kepemilikan Bakrie Capital masih sekitar 5,66%.
Chief Financial Officer (CFO) BNBR Amri Aswono Putro mengaku tak mengetahui alasan di balik aktivitas itu. "Pemegang saham tidak perlu minta izin untuk melakukan transaksi itu," ujar dia kepada KONTAN, Senin (24/9).
Saham Pendatang Baru Menjadi Jawara
Sejumlah saham dengan kapitalisasi pasar menengah dan kecil berhasil menjadi jawara di kuartal ketiga ini. Sebagian besar saham dengan performa moncer itu n adalah pendatang baru.
Saham Transcoal Pacific (TCPI), yang baru listing di BEI pada Juli 2018, menjadi saham dengan kenaikan tertinggi di kuartal III-2018. Hingga Senin (24/9), TCPI sudah melonjak 2.168%.
Di urutan berikutnya ada Andira Agro (ANDI) dengan kenaikan 725% dan Pratama Abadi Nusa (PANI) yang melesat 340,74%. Keduanya juga emiten baru.
Pendiri LBP Institute Lucky Bayu Purnomo mengatakan, koreksi IHSG yang sudah berlangsung lama mendorong kenaikan saham-saham kapitalisasi menengah dan kecil. Pelaku pasar enggan membeli saham kapitalisasi besar.
"Sehingga di tengah koreksi indeks, dicarilah saham kapitalisasi kecil yang harganya murah dan valuasi rendah," papar Lucky, Senin (24/9).
Selain itu, IHSG berulang kali mendekati 6.000, namun selalu terkoreksi karena efek perang dagang dan ekspektasi kenaikan suku bunga The Federal Reserve.
Tantangan ini menaikkan pamor saham-saham lapis kedua. "Fundamental saham-saham jawara itu netral. Harga saham pun diapresiasi pasar karena mampu eksis di tengah kondisi global," imbuh dia.
Sebagai gambaran, TCPI pada semester I-2018 membukukan kinerja positif. Pendapatan perusahaan meningkat 47% year on year (yoy) menjadi Rp 656,9 miliar. Laba tahun berjalan juga naik 28% yoy menjadi Rp 82,4 miliar.
Meski begitu, Lucky menilai, peluang pertumbuhan saham tersebut di sisa tahun ini sekitar 5%-6%. Harganya sudah sulit naik tinggi, karena mendekati tutup tahun dan adanya sentimen politik.
Selain itu, Bertoni Rio, Senior Analyst Research Division Anugerah Sekuritas Indonesia, menilai, risiko berinvestasi di saham-saham pencetak return tertinggi tersebut cukup besar. "Saham-saham tersebut tidak likuid," jelas dia. (Jane Aprilyani Siregar/Dityasa/Hanin Forddanta)
Saham
Return Q3
Harga per 24 Sept
TCPI
2.168%
Rp 3.130
ANDI
725%
Rp 1.650
PANI
340%
Rp 476
RISE
314%
Rp 675
FILM
306%
Rp 1.275
ABBA
290%
Rp 195*
LAND
225%
Rp 1.270
AKSI
159%
Rp 840**
POLL
158%
Rp 1.590
DIGI
142%
Rp 825
*penutupan 18 September 2018
** penutupan 5 September 2018
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/pantau-saham_20180831_191542.jpg)