Kisah Tan Malaka, Pendiri PKI yang Pernah Memimpikan Bersatunya Kekuatan Islam
Tan Malaka merupakan salah satu Bapak Bangsa Indonesia. Selain itu, dia juga diketahui merupakan pemimpin komunis di awal kemerdekaan.
Apa yang diutarakan teman tadi ternyata betul, sewaktu saya ke luar kamar hendak pergi guna sesuatu urusan, saya melihat Tan Malaka dari luar hendak menuju ke kamarnya.
Sedangkan dibelakangnya berjalan Mohammad Yamin dengan menenteng setumpuk buku.
Baru kemudian (di penginapan itu juga) saya tahu, bahwa buku tadi adalah karangan Mohammad Yamin sendiri.
Namanya (jika tidak keliru): Tan Malaka, Bapak Pergerakan Indonesia. Sampulnya kertas karton putih, untuk zaman itu merupakan produk tipografi yang lumayan juga.
Masih sekali saya melihat Tan Malaka, yaitu di suatu rapat umum di Alun-Alun Utara juga.
Tetapi saya melihat hanya dari arah jauh, kendatipun untuk para wartawan juga disediakan tempat di anggung.
Sejarah berputar terus. Lebih-lebih di daerah pedalaman. Di bagian negara Republik Indonesia yang tidak diduduki Belanda.
Peristiwa demi peristiwa terjadi. Yang satu diikuti oleh yang lain. Yang satu lebih hebat ketimbang yang lain.
Syahrir diculik. Persatuan Perjuangan menuntut diputuskannya perundingan dengan Belanda.
Perundingan Linggarjati, Peristiwa Juli, Pemogokan Delanggu, Pemberontakan Madiun dan seribu satu macam peristiwa lainnya lagi.
Semuanya berjalan dengan kencang dan lajunya. Tiap hari, tiap detik terjadi peristiwa bersejarah, kait berkait, sambung menyambung.
Sampai Belanda menyerbu Republik, Soekarno-Hatta dan pemimpin-pemimpin RI lainnya ditawan.
Sampai perundingan Roem-Royen sampai penyerahan kedaulatan.
Dan pasukan TNI dibenarkan kembali masuk ke kota-kota yang semula diduduki Belanda.
Untuk kali pertama jenderal mayor Sungkono dari divisi Brawijaya mengadakan pertemuan dengan pers di Hotel Oranye Surabaya. Baru saja pasukan TNI memasuki kota tersebut.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/tan-malaka_20180918_184818.jpg)