Breaking News
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Risiko Tinggi, Yield SUN Kian Mendaki

Imbal hasil atau yield surat utang negara (SUN) Indonesia masih terus bergerak naik. Spread alias selisih antara yield SUN dan yield

Penulis: Tim Tribun Manado | Editor: Lodie_Tombeg

Untuk target penjualan ke pasar ekspor sebesar
27.789 ton dan baru terealisasi 16.015 ton hingga Agustus 2018. Pasar ekspor TINS meliputi Eropa, Asia, Amerika dan mulai masuk pasar China.

Selama Januari-Agustus tahun ini, nilai ekspor TINS mencapai US$ 563 juta atau turun 7,55%
dibandingkan periode yang sama tahun lalu senilai US$ 609 juta.

Seorang buruh bangunan sedang mengankat material semen di area pembangunan perumahan bersubsidi di kawasan Griya Paniki Indah, Manado, Sulawesi Utara, Kamis (11/01/2018). Pertumbuhan pemukiman rumah murah berkembang pesat di Sulaesi Utara.
Seorang buruh bangunan sedang mengankat material semen di area pembangunan perumahan bersubsidi di kawasan Griya Paniki Indah, Manado, Sulawesi Utara, Kamis (11/01/2018). Pertumbuhan pemukiman rumah murah berkembang pesat di Sulaesi Utara. (Tribun Manado/ANDREAS RUAUW)

Genjot Ekspor, SMGR Cetak Kenaikan Penjualan 4%

PT Semen Indonesia Tbk (SMGR) pada periode Januari-Agustus 2018 membukukan
volume penjualan konsolidasi sebesar 20,66 juta ton. Realisasi penjualan meningkat 4% dibanding periode tahun lalu, 19,88 juta ton.

Penjualan anak usaha SMGR, Thang Long Cement Company Vietnam (TLCC), juga tumbuh 8,9% year on year (yoy) jadi 1,74 juta ton.

Yang menarik, pencapaian ekspor cukup solid. Penjualan ekspor SMGR tanpa TLCC meningkat 42,7% yoy menjadi 1,99 juta ton. Sedangkan, sales ekspor TLCC naik 95,4% yoy menjadi 654.878 ton.

Sekretaris Perusahaan SMGR Agung Wiharto mengatakan, industri semen dalam negeri sedang
dibayangi kelebihan pasokan atau oversupply hingga 40%.

Ini menyebabkan kompetisi di dalam
negeri sangat sengit. Itu sebabnya, SMGR membuat beberapa terobosan dan membenahi pemasaran dan rantai pasokan dengan mulai fokus ke pasar sekunder, yakni ekspor.

"Ini juga cara untuk meningkatkan utilisasi pabrik dalam kondisi sekarang. Utilisasi saat ini sudah 85%, kami harapkan dapat terus meningkat hingga di atas 90%," ujar Agung, Jumat (14/9).

Meskipun margin dari ekspor tidak besar, karena dibebani ongkos kirim yang tinggi, namun pasar sekunder sangat membantu di tengah kondisi domestik kurang mendukung. Tak heran, pertumbuhan ekspor menjadi cukup tinggi.

SMGR menyasar ekspor ke negara yang kurang memiliki sumber daya semen. Di antaranya adalah Maladewa, Timor Leste dan Australia.

Agung bilang, dengan strategi membidik pasar sekunder serta mempertahankan pangsa pasar
dalam negeri, perusahaan ini berharap volume penjualan sampai akhir tahun ini tumbuh 5%-6%.
Saat ini SMGR masih memimpin pasar domestik dengan porsi 33,4%.

Analis Panin Sekuritas William Hartanto mengatakan, upaya SMGR cukup bagus dalam menjaga
keberlangsungan penjualan dan meningkatkan utilitas pabrik. Dia merekomendasikan beli SMGR dengan target harga Rp 10.000 per saham dalam 1-2 bulan ke depan. Jumat, SMGR ditutup di harga Rp 9.000 per saham. (Yoliawan Hariana/Ika Puspitasari)

Halaman 3/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved