Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Volatilitas Rupiah Bikin Asing Kabur

Volatilitas nilai tukar rupiah yang dibarengi meningkatnya risiko investasi di negara-negara emerging market mendorong aksi jual

Penulis: Tim Tribun Manado | Editor: Lodie_Tombeg
afp
rupiah dan dollar AS 

Sebenarnya, investor asing tetap berpotensi kembali ke pasar obligasi, asalkan pergerakan rupiah kembali stabil. Setidaknya, rupiah tidak mengalami pelemahan yang tajam dalam satu hari perdagangan. "Investor asing tidak memedulikan nominalnya, namun persentase pergerakannya," cetus Desmon.

Ilustrasi asuransi
Ilustrasi asuransi (Thinkstock/Nelosa)

Bisnis Asuransi Umum Syariah Masih Melempem

Bisnis asuransi umum berbasis syariah masih belum memperlihatkan kinerja cemerlang sampai Juli 2018. Merujuk data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sampai tujuh bulan, kontribusi bruto atau premi para pelaku usaha asuransi umum syariah mencapai Rp 1,05 triliun.

Pencapaian ini masih turun tipis dibandingkan periode sama tahun kemarin yang tercatat sebesar Rp 1,08 triliun. Di sisi lain, nilai klaim bruto yang tercatat justru mengalami penurunan 12,25% dibandingkan posisi bulan Juli 2017 yang sebesar Rp 506 miliar, menyusut menjadi Rp 444 miliar.

Ketua Umum Asosiasi Asuransi Syariah Indonesia (AASI) Ahmad Sya'roni mengakui di pertengahan tahun ini tren bisnis asuransi umum syariah masih lesu. Penyebabnya, kondisi ekonomi dalam negeri yang juga masih terlihat belum menggeliat.

Alhasil, portofolio pelaku usaha yang dominan merupakan asuransi kendaraan bermotor ikut terdampak. Walau sebenarnya penjualan kendaraan bermotor sebenarnya dari industri disebutkan mengalami kenaikan.

Namun bukan hanya itu, para pelaku usaha juga melihat kebijakan insentif pada uang muka atau down payment (DP) kendaraan berbasis syariah sudah seragam dengan konvensional. Sehingga tidak ada perbedaan yang dapat mengangkat bisnis syariah.

"Kami melihat, bisnis asuransi syariah belum bisa bersaing lebih jauh dengan konvensional karena terlalu banyak komisi termasuk engineering fee," kata Sya'roni kepada KONTAN, Kamis (13/9).

Apalagi, secara umum, penetrasi asuransi syariah juga belum beranjak dari angka 5%. Padahal mayoritas penduduk Indonesia sangat dominan beragama muslim.

Menurut dia, sebetulnya potensi bisnis asuransi umum syariah masih sangat luas. Seperti menggarap segmen individual dengan mengembangkan asuransi mikro.

Saat ini, tantangan dalam memasarkan produk individu memang tidak mudah. Selain juga membutuhkan inovasi pengembangan produk agar bisa bersaing juga pada kecepatan pelayanan kepada nasabah.

Hal ini pula yang masih menjadi pekerjaan rumah bagi para pelaku industri asuransi umum. "Tahun ini kami masih optimistis dengan potensi yang ada kontribusi masih bisa tumbuh dua digit, diharapkan bisa naik hingga 15%," katanya.

Kenaikan tersebut juga bisa dikatakan dengan asumsi pertumbuhan ekonomi sesuai harapan pemerintah. Dus, hal ini juga diharapkan permintaan kendaraan bermotor juga akan ikut terkerek naik.  (Umi Kulsum/Dimas Andi Shadewo)

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved