Fakta Terbaru Pembunuhan Sofianti di Kaki Dian, Panggilan Sayang di Telepon hingga Dihantam Batu

Kepolisian Resor Minahasa Utara (Minut) mengungkap peristiwa tewasnya, Sofianti Andrinael (15) Desa Kawangkoan, Minahasa Utara.

Penulis: | Editor: Aldi Ponge
TRIBUNMANADO/DAVID MANEWUS/ISTIMEWA
Polres Minut Gelar Konferensi pers dan saat penemuan mayat Sofianti 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Kepolisian Resor Minahasa Utara (Minut) mengungkap peristiwa tewasnya,  Sofianti Andrinael (15) Desa Kawangkoan, Minahasa Utara.

Peristiwa ini menghebohkan warga Sulawesi Utara ketika ditemukan mayat tanpa identitas di kawasan objek wisata Kaki Dian pada Selasa (17/7/2018).

Mayat tersebut ditemukan oleh Ari Yohanes Panambunan dan Anggy Toling yang bekerja menebang pohon di sekitar lokasi kejadian yang mencium bau busuk. 

Baca: Tim Paniki Polresta Manado Ringkus Debt Collector yang Rampas Kendaraan di Jalan

Siswa SMP di Kalawat hilang sejak 18 Juni 2018. Namun proses pengungkapan kasus ini berjalan hampir 2 bulan di Polres Minut, kendati jasad korban sudah dimakamkan keluarga pada Agustus Silam.

Menurut kesaksian saudaranya, korban saat itu bersamanya dan dua pria datang ke kaki dian Minut. 

Saat malam tiba, mereka pulang. Korban membonceng motor bersama tersangka NT. Namun saat pulang mereka terpisah, dan itu merupakan pertemuanmya terakhir dengan korban.

Tersangka NT dihadapan polisi mengaku mereka alami kecelakaan saat jalan pulang dari kaki dian. Namun, dia takut memberitakan kejadian tersebut. 

kapolres mengangkat batu yang dipakai membunuh korban
kapolres mengangkat batu yang dipakai membunuh korban ()

 Kronologi

Polres Minut dalam konperensi persnya pada Rabu (12/9/2018) mengungkapkan kronologi pembunuhan Sofianti.

Tersangka Nofry Jhon Damisi bertemu dengan korban di Pasar Kawangkoan kemudian menuju ke Ruko 88 Airmadidi.

Mereka bersama saksi Yulianti Gonta bertemu dengan saksi Adlin Erangan. Yulianti dan Adlin mengajak tersangka dan korban pergi ke perbukitan Kaki Dian.

Setibanya di situ, mereka duduk berpasang-pasangan di tempat yang berbeda. Tersangka bersama korban dan Yulianti bersama Adlin.

"Karena saksi Yulianti sering  mengintip, tersangka dan korban berpindah ke gubuk yang agak jauh, dan saat itu hape korban berbunyi," kata Kepala Kepolisian Resort Minahasa Utara, AKBP Alfaris Pattiwael, Rabu (12/9/2018) saat rilis pers ditemani Kasat reskrim AKP Aprizal Nugroho SIK dan Aiptu M Pontoh

Baca: Kasus Penemuan Mayat Tanpa Identitas di Kaki Dian, Polres Minut Tetapkan NT Sebagai Tersangka

Alfaris mengatakan saat ponsel diangkat korban terdengar seorang lelaki yang mengatakan kata "sayang". Itu didengar tersangka dan membuatnya sakit hati.

Halaman
123
Sumber: Tribun Manado
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved