Kaisar Romawi Ini Hanya Berkuasa 6 Bulan tapi Sukses Bentuk 2 Legiun Baru
Kisah Kekaisaran Romawi diserang Hannibal Barca, yang memimpin pasukan Kartago di atas Pegunungan Alpen, pada akhir 218 SM
TRIBUNMANADO.CO.ID - Kisah Kekaisaran Romawi diserang Hannibal Barca, yang memimpin pasukan Kartago di atas Pegunungan Alpen, pada akhir 218 SM
Dalam Perang Punisia Kedua, ini adalah yang paling dramatis.
Yakni saat Romawi yang tengah berkembang berada pada titik ambang kehancurannya karena bencana serangan militer.
Dalam peperangan sejauh ini, orang-orang Romawi telah kecewa kepada para jenderal mereka yang dipukul mundur oleh Hannibal.
Baca: 6 Pemilik Zodiak Ini Bisa Diandalkan jadi Sahabat Terbaik, Temanmu Termasuk?
Namun, ada masanya ketika komandan baru melangkah ke depan untuk menyelamatkan Roma dari kehancuran.
Salah satunya adalah Quintus Fabius Maximus.
Fabius si Penghambat
Lahir sekitar tahun 275 SM, Quintus Fabius Maximus berusia sekitar lima puluhan ketika bangsa Kartago menyerbu.
Baca: 7 Buah Ini Bisa Atasi Sembelit, Diantaranya Makan Pisang
Seperti kebanyakan aristokrat Romawi, ia pernah bertugas di militer dan
bertempur dalam Perang Punisia Pertama.
Dia juga merupakan salah satu dari dua konsul Roma (pemimpin militer dan politik kota) dalam dua kesempatan terpisah, pada 233 dan 228.
Setelah bencana sebelumnya, tidak ada konsul tersedia untuk memimpin tentara pada tahun 217.
Baca: (VIDEO) 2 Lagu BCL Bikin Pengunjung GBK Histeris di Penutupan Asian Games 2018
Karena itu, bangsawan Roma memutuskan bahwa untuk sementara mereka perlu menunjuk seorang diktator, seorang pejabat dengan kepemimpinan militer dan politik tertinggi.
Sebuah pertemuan pun dilakukan dan akhirnya keputusan dihasilkan untuk memilih Fabius dengan Marcus Minucius Rufus sebagai wakilnya.
Fabius memulai pekerjaan militernya dengan menopang pertahanan Roma.
Dia memastikan jalur pasokan militer, dan membentuk dua legiun baru.
Baca: Deretan Pujian Media Internasional untuk Indonesia yang Sukses Gelar Asian Games 2018
Dia mendekati tentara Hannibal tetapi menolak untuk terlibat dalam pertempuran.
Ketika orang-orang Kartago bergerak, dia membayangi mereka, dengan hati-hati memilih rutenya tersendiri.
Sehingga, Fabius akan mendapat keuntungan dari tanah jika Hannibal diserang.
Kampanye manuver ini memberi pengalaman militer untuk bekerja sama.
Baca: Simak 5 Fakta Indonesia di Asian Games 2018
Namun bagaimanapun juga, Fabius harus bertarung menyerang Kartago.
Fabius kemudian pindah ke celah dengan mengambil posisi defensif yang kuat, dia berharap untuk memaksa pertempuran dengan caranya sendiri.
Tapi dia dikalahkan oleh Hannibal, yang mengendarai kawanan gajah dengan obor di tanduk-tanduknya.
Reputasi Fabius rusak dan pada akhir kekuasaannya selama enam bulan sebagai diktator, dia meninggalkan kedudukannya dan kembali ke Roma.
Meski begitu, Fabius telah membuat Legiun Romawi lebih maju daripada sebelumnya hingga jabatannya diganti oleh Marcus Claudius Marcellus.