Detik-detik Bagian Sensitif Ariana Grande Diraba-raba Oknum Bishop Terekam Kamera

Seorang Bishop yang memimpin upacara pemakaman si Ratu Soul Aretha Franklin meminta maaf setelah dituduh meraba-raba kepada Grande

Detik-detik Bagian Sensitif Ariana Grande Diraba-raba Oknum Bishop Terekam Kamera
Internet
Ariana Grande 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Seorang Bishop dari Gereja Pentakosta yang memimpin upacara pemakaman si Ratu Soul Aretha Franklin meminta maaf setelah dituduh meraba-raba kepada Grande di atas panggung.

Gambar menunjukkan Bishop Charles H Ellis III, yang saat ini menjabat Presiden Majelis Gereja Pentakosta Dunia memegang tubuh Ariana tinggi di atas pinggangnya, dengan jari-jarinya bergerak di sekitar bagian sensitif atau bagian dasar dada sang penyanyi.

"Tidak akan pernah ada niat saya untuk menyentuh payudara perempuan mana pun," katanya kepada Associated Press.

Baca: Semangat Kopassus di Ekspedisi Everest Bikin Si Hantu Gunung Terpukau, Ini Kisahnya

Baca: Video Pernikahan Diobrak-abrik Mantan Jadi Viral, Orangtua Mempelai Pria Beberkan Fakta Sebenarnya

Tapi publik mengunggah rekaman upacara itu ketika Ariana bangkit untuk menyanyikan lagu Aretha (You Make Me Feel Like) A Natural Woman ,yang menunjukkan dugaan penggerayangan.

Uskup Elis III berkilah, selama upacara penghormatan bagi Aretha Franklin, sang Ratu Soul, dia memeluk semua penampil, perempuan atau lelaki.

"Mungkin saya melewati batas, mungkin saya terlalu ramah atau bersikap akrab, dan saya meminta maaf," katanya.

Namun menurut banyak wrganet, tangan Bishop Ellis tidak tepat pada tubuh Ariana Grande ketika dia berbicara kepada penyanyi berusia 25 tahun itu di panggung, dan bahwa Ariana Grande tampak tidak nyaman dengan kontak tersebut.

Baca: Dibuka Lowongan Bank Indonesia Mulai 1 September, Ini Persyaratan dan Cara Pendaftarannya

Baca: 10 Fakta di Balik Kasus Sejoli Kampus di Semarang yang Kuburkan Bayi di Belakang Masjid

Dan sebelumnya, banyak kalangan lain di media sosial justru mengecam Ariana karena pakaiannya dianggap terlalu pendek untuk datang ke gereja.

Muncul semacam perang tudingan. Misalnya, banyak yang mengatakan bahwa memfokuskan perhatian pada baju yang dikenakan Ariana, dan bukannya ulah uskup, merupakan hal yang misoginis.

Disebutkan ulah sang oknum pemimpin gereja itu seharusnya mendapat sorotan yang sepantasnya.

#RespectAriana pun jadi trending, setelah rekaman itu beredar luas.

Sebagian warganet kemudian mengunggah lagi cuitan lama Ariana Grande mengenai kesepakatan (terkait seks).

"Saya merangkul memeluk semua seniman, perempuan dan laki-laki," kata Uskup Ellis kepada AP.

"Semua orang yang naik panggung, saya menjabat tangan mereka dan memeluk mereka. Begitulah gereja. Itu semua tentang kasih."

Dia menambahkan: "Saya sungguh tidak ingin menjadi orang yang mengalihkan perhatian hari ini. Hari ini semuanya tentang Aretha Franklin."

Ariana tampil di upacara penghormatan terhadap mendiang Aretha Franklin bersama ikon-ikon seperti Stevie Wonder dan Chaka Khan.

Dalam upacara sembilan jam itu Aretha dikenang sebagai seorang bibi, nenek, teman, aktivis hak-hak sipil dan ikon keperempuanan kulit hitam.

Dia meninggal awal bulan ini akibat kanker pankreas dalam usia 76 tahun.

BBC Newsbeat telah menghubungi perwakilan Ariana Grande untuk meminta tanggapan.

Ratu Soul membuat lima sejarah

Kematian Aretha Franklin, telah membuat dunia kehilangan salah satu penyanyi terbesar di zaman ini.

Atau jika setuju dengan pandangan majalah musik Rolling Stone - yang terbesar sepanjang masa.

Bukan hanya suaranya saja yang membuat Franklin menjadi ikon.

Aretha Franklin terima gelar kehormatan dari Harvard
Dari hubungannya dengan gerakan hak-hak sipil AS hingga kisah mengejutkan di balik lagunya yang paling terkenal, Respect - Aretha tidak hanya menjual musik Soul: Dia ada di sana saat Amerika sedang membentuk dirinya sendiri.

Berikut adalah lima cara diva asal Detroit itu membuat sejarah...

1. Dia mengubah keluhan seorang suami menjadi lagu andalan feminis

Sulit untuk membayangkan, tetapi lagu Franklin yang paling terkenal - Respect - tidak dimulai dari dirinya. Penyanyi soul Otis Redding awalnya menulis dan merekamnya sebagai pesan dari seorang pria pekerja keras kepada pasangannya, dengan kalimat seperti, , "Hey, little girl, you're so sweeter than honey / And I'm about to give you all my money / But all I'm askin', hey / Is a little respect when I get home".

("Hei, gadis kecil, kau lebih manis daripada madu / Dan aku akan memberimu semua uangku / Tapi yang aku tanyakan, hey / Apakah ada sedikit rasa hormat ketika aku pulang")

Franklin mencatat versinya sendiri pada Hari Valentine pada 1967. Versinya termasuk mengeja "R-E-S-P-E-C-T" (tidak ada dalam aslinya), dan membuat saudara-saudara perempuannya Carolyn dan Erma sebagai penyanyi pendukung.

Aretha pada tahun 1968

Di tangannya (dan suaranya), lagu itu berubah dari permohonan patriarkal ke lagu kebangsaan untuk hak-hak perempuan. Lagu ini mencapai nomor 1 di tangga lagu AS dan nomor 10 di Inggris.

Diikuti oleh dua penghargaan Grammy - dan Otis Redding tidak senang. "Dia tidak menyukainya," kata penulis biografi Mark Ribowsky kepada NPR pada tahun 2015.

Tapi di Festival Pop 1967, Redding tertawa ketika dia menyatakan, "Lagu berikutnya adalah lagu yang diambil seorang gadis dari saya!"

"Dia mengatakannya dengan pesona Otis, sedikit kilatan di mata," kata Ribowsky. "Dan Otis tidak bisa iri padanya."

Franklin menjelaskan mengapa dia mengubah lagu itu pada tahun 1999, mengatakan kepada NPR: "Yah, saya mendengar versi Redding. Saya langsung menyukainya. Dan saya memutuskan bahwa saya ingin merekamnya."

"Saudara perempuan saya Carolyn dan saya berkumpul. Saya saat itu tinggal di sebuah apartemen kecil di Barat Detroit. Dan - piano di dekat jendela, melihat mobil-mobil berlalu - kalimat yang terkenal itu muncul, kalimat 'sock it to me' (memberi kesan yang kuat pada seseorang). Itu hari yang klise... Beberapa gadis mengatakan itu kepada teman-teman, "sock it to me". Tidak ada yang seksual dengan kalimat itu, dan itu bukan seksual. Itu... hanya kalimat yang klise."

2. Lagunya dipakai dalam gerakan hak sipil

Ayah Franklin, Rev C.L. Franklin, adalah seorang pendeta Baptis yang mengorganisir Detroit Walk To Freedom pada Juni 1963 - sebuah pawai besar untuk persamaan ras.

Pada saat itu, itu adalah demonstrasi hak sipil terbesar dalam sejarah AS. Martin Luther King menyampaikan versi awal dari pidato "I Have a Dream" di sana, dua bulan sebelum demo besar di Washington yang meletakkan pidato itu dalam sejarah.

Franklin, pada awal usia 20-an, mengatakan dia "kagum pada Dr King dan mendengarkan dengan saksama setiap kata yang dia katakan".

Pada tahun 1967, Respect diangkat sebagai seruan perang oleh gerakan hak-hak sipil, dan pada bulan Februari tahun itu, King memberi Aretha penghargaan kepemimpinan.

Pada tahun 1968, ia menjadi wanita Afrika-Amerika kedua yang muncul di sampul majalah Time.

Aretha (kanan) difoto pada tahun 1971 dengan ayahnya, CL (Clarence LaVaughn), dan saudara perempuannya, penyanyi Carolyn.

Ketika King ditembak mati, Franklin menyanyikan lagu gereja favoritnya, Take My Hand, Precious Lord, pada upacara peringatan.

Ditanyakan tentang King oleh majalah Ebony, Franklin berkata: "Dia dan ayah saya adalah teman baik, dan ayah saya dari waktu ke waktu, karena lebih tua, kadang-kadang menasihati Dr King. Saya selalu sangat mengaguminya dan rasa kesusilaannya, dan keadilan yang dia inginkan."

"Dia orang baik. Orang baik dan kamu tidak bisa tidak mengaguminya."

3. Dia tampil di pelantikan tiga presiden AS

Aretha tampil di tiga acara pelantikan presiden AS - dimulai dengan medley Duke Ellington untuk kandidat Demokrat Jimmy Carter pada tahun 1977.

Dia kemudian tampil di sebuah festival pra-pelantikan presiden dari Demokrat lainnya, Bill Clinton pada tahun 1993, dua hari sebelum dia dilantik.

Franklin tampil dalam inagurasi Barack Obama pada 2009.

Barack Obama adalah orang ketiga yang beruntung pada tahun 2009.

Franklin memilih untuk menyanyikan My Country, 'Tis ofee, sebuah lagu patriotik Amerika. Selalu perfeksionis, dia berkata bahwa suhu yang membeku telah mempengaruhi suaranya.

Presiden Obama jelas tidak terganggu, dan pada tahun 2015 dia terekam sedang menyeka air mata di Kennedy Center Honors, saat Franklin menyanyikan (You Make Me Feel Like) A Natural Woman.

4. Dia adalah perempuan pertama di Rock & Roll Hall of Fame

Lady Soul mengumpulkan 20 album Top 10, puluhan juta single laris dan 18 penghargaan Grammy selama karirnya selama lima dekade. Jadi mungkin tidak mengherankan kalau dia juga perempuan pertama yang masuk ke Rock & Roll Hall of Fame, pada tahun 1987.

Pada tahun yang sama dia mencetak hit nomor satu keduanya, sebuah duet dengan George Michael yang bernama I Knew You Were Waiting (for Me).

Karena Hall of Fame sering dikritik karena gagal untuk menghormati perempuan (hampir 90% isinya adalah laki-laki), fakta bahwa dia yang pertama kali mendapatkannya menunjukkan bahwa Aretha tidak mungkin diabaikan - bahkan di tempat di mana perempuan terlalu sering diabaikan.

5. Suaranya dinyatakan sebagai 'sumber daya alam' di Michigan
Suara Aretha Franklin secara resmi dinyatakan sebagai "sumber daya alam" pada tahun 1985 oleh departemen sumber daya alam negara bagian Michigan.

Franklin yang penuh emosi bersumpah dia akan menari setiap kali dia melewati 'jalannya'.

Tapi itu bukan satu-satunya cara negara itu mengabadikan bakatnya.

Di kota asalnya, Detroit, dewan kota juga menamakan sebuah jalan Aretha Franklin Way berdasarkan namanya pada tahun 2017. Diva itu, yang saat itu berusia 75 tahun, mengucapkan terima kasih kepada kota atas "kehormatan besar itu" dan bersumpah: "Setiap kali saya menyetir atau berjalan melewatinya, saya 'akan menari!"

Artikel ini sudah tayang di bbc news indonesia berjudul: Pendeta dituding gerayangi Ariana Grande di pentas penghormatan bagi 'Ratu Soul' Aretha Franklin

Artikel ini telah tayang di tribun-medan.com dengan judul Detik-detik Bagian Sensitif Ariana Grande Diraba-raba Charles H Ellis Terekam Kamera, http://medan.tribunnews.com/2018/09/02/detik-detik-bagian-sensitif-ariana-grande-diraba-raba-charles-h-ellis-terekam-kamera?page=all.

Editor: Randy P.F Hutagaol

Editor: Aldi
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved