Sabtu, 25 April 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Krisis Argentina dan Turki Berdampak ke Indonesia: Rupiah Anjlok Rp 15.750 per Dollar

Efek krisis pasar keuangan di Argentina dan Turki menyebar melalui pasar global yang sedang berkembang.

Editor: Lodie_Tombeg
Kontan
Rupiah dan Dollar AS 

TRIBUNMANADO.CO.ID, JAKARTA - Efek krisis pasar keuangan di Argentina dan Turki menyebar melalui pasar global yang sedang berkembang. Dibandingkan negara-negara lain di Asia, Indonesia yang paling terpukul dengan krisis keuangan di Argentina dan Turki.

Kurs rupiah  merosot ke level terlemahnya terhadap dollar AS sejak krisis keuangan Asia 1998 silam. Jumat pagi (31/8), nilai tukar rupiah jatuh ke Rp 14.750 per dollar AS, level terlemah sejak krisis keuangan Asia tahun 1998 atau dua dekade silam.

Jatuhnya rupiah mendorong Bank Indonesia (BI) meningkatkan upaya untuk menstabilkan mata uang.

BI telah menggunakan cadangan devisa hingga miliaran dolar dan telah menaikkan suku bunga empat kali sejak pertengahan Mei 2018 agar rupiah tak terkulai.

 
Mengapa efek krisis keuangan Argentina dan Turki cepat menular ke pasar keuangan Indonesia?

Dan apa langkah yang dilakukan otoritas moneter dan fiskal Indonesia? Berikut rangkuman ulasannya seperti disarikan dari Bloomberg.

1. Apa yang memicu aksi jual?

Sebetulnya, sebelum Argentina dan Turki memasuki mode krisis, pasar negara berkembang berada di bawah tekanan karena meningkatnya suku bunga Amerika Serikat (AS) dan dollar AS yang lebih kuat.

Bagian dari daya tarik pasar negara berkembang adalah imbal hasil yang relatif lebih tinggi dibandingkan dengan pasar negara maju. 

Nah, ketika selisih imbal hasil itu menyempit karena The Federal Reserve menaikkan biaya pinjaman, pasar negara berkembang menjadi kurang menarik.

Secara lebih luas, krisis mata uang yang semakin mendalam di Argentina melebihi di Turki telah mengurangi minat investor untuk aset berisiko, mendorong eksodus dana dari pasar negara berkembang ke tempat yang relatif aman di pasar negara maju.

2. Mengapa Indonesia menjadi sasaran?

Indonesia adalah salah satu dari beberapa pasar negara berkembang di Asia yang memiliki defisit transaksi berjalan  saat ini (begitu juga India dan Filipina).

Dan data terbaru menunjukkan bahwa defisit transaksi berjalan melebar ke level tertinggi dalam empat tahun terakhir.

Defisit yang bergantung pada aliran masuk modal asing untuk membiayai kebutuhan impor, membuat Indonesia rentan terhadap penurunan sentimen dan arus modal keluar yang tajam.

Investor asing memiliki hampir 40% dari obligasi Pemerintah Indonesia, termasuk salah satu yang tertinggi di pasar negara berkembang Asia.

Sumber: Kontan
Halaman 1/3
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved