Jokowi Nonton Perolehan Medali Emas Pertama: Defia Juarai Taekwondo
Tak hanya menghadiri acara pembukaan Asian Games 2018 di Gelora Bung Karno, Senayan, Presiden Joko Widodo (Jokowi)
Penulis: Tim Tribun Manado | Editor: Lodie_Tombeg
Defia Rosmaniar, atlet Taekwondo, peraih medali emas pertama untuk Indonesia di Asian Games mengaku sempat deg-degan saat berada di semifinal. Namun ia kemudian merasa bangga karena medali emas dikalungkan langsung oleh Presiden Joko Widodo
"Sempat deg-degan di semifinal, tapi aku lepas saja lah, sudah ada yang ngatur juga kan. Menang kalah kan wajar, cuma ya saya maksimal saja," kata Defina ketika ditemui seusasi menerima medali emas, Minggu (19/8).
Tak pelak ia memberikan ucapan terima kasih kepada suporter, terutama Presiden Joko Widodo (Jokowi). "Iya pastinya itu senang sekali. Jadi semangat banget buat aku. Ya Allah, banyak banget yang dukung aku, senang banget," kata Defia sembari menyeka air matanya.
Apa pesan yang disampaikan Jokowi? "Pak Jokowi kasih selamat kepada saya. Ia juga bilang ini emas pertama Indonesia di Asian Games," ujar Defia.
Atlet Indonesia lainnya yang memperoleh medali yaitu Edgar Xavier Marvelo. Altet Wushu itu menyumbangkan medali perak dari nomor changquan putra.
Defia mengaku mempersembahkan medali emas itu untuk sang ayah tercinta. "Ayah yang paling mendukung saya di Taekwondo," kata Defia.
Gadis kelahiran 25 Mei 1995 ini mengenal Taekwondo sejak SMP dari kakaknya. Sejak saat itu, Defia mengaku ayahnya terus mendorong agar serius di olahraga tersebut.
Ia juga mengatakan perjuangannya berlatih di Korea Selatan terbayar lunas karena raihan medali emas ini. "Sejak Maret berjuang Korea, tidak akan saya sia-siakan," katanya.
Sebagai peraih medali emas Asian Games, Defia bakal diganjar bonus Rp 1,5 miliar. Jika nantinya bonus tersebut cair, perempuan 23 tahun itu bakal membawa kedua orangtuanya beribadah ke Tanah Suci. "Yang pasti dipakai untuk yang baik-baik," ujarnya.
Hanya 4 Bulan Siapkan Pembukaan
Upacara pembukaan Asian Games 2018 telah sukses digelar di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Sabtu (18/8) malam. Namun, dibalik dari kemegahan dan keindahan pembukaan Asian Games ternyata ada cerita yang tak kalah seru.
Direktur Kreatif Asian Games, Wishnutama, bersama Kepala Badan Ekonomi Kreatif, Triawan Munaf, Deputi II Bidang Administrasi Pertandingan Inasgoc, Francis Wanandi, dan musisi Addie MS meyampaikan ceritanya di ruang konferensi pers Main Press Center (MPC).
"Prsoses ini memang tidak mudah karena kami hanya punya waktu satu tahun. Secara logika itu tidak masuk akal. Di Inggris saja yang sudah mengadakan acara seperti ini mereka mempunyai panitia tetap 10 tahun," ungkap Wishnutama.
Begitu pula diungkapkan oleh Francis Wanandi. Namun ia menilai kerja sama dan semangat gigih dari para pekerja akhirnya acara ini bisa berjalan dengan sempurna.
"Ini merupakan proses panjang. Proses sudah satu tahun tapi mengerucut menjadi enam bulan dan mulai pelatihannya empat bulan. Cukup singkat, namun komitmen dari rekan-rekan sekalian sangat luar biasa," kata Francis.
Tak hanya masalah waktu untuk persiapan. Dana harus sehemat mungkin sehingga sempat menjadi kendala. "Untuk pendanaan kami juga sudah ajukan berapa harga.
Acara pembukaan Olimpiade 2012 di London, untuk acara yang sama menghabiskan 300 juta dolar AS (Rp 4,3 triliun). Kami sangat jauh. Memang kita bukan negara yang kaya raya jadi kita harus efisiens," ujarnya.
Francis Wanandi membeberkan mengenai anggaran pembukaan dan penutupan Asian Games 2018."Untuk pembukaan dan penutupan Asian Games ini bersihnya sekitar 32 juta dolar (Rp 464 miliar), itu sudah dipotong pajak,"pungkasnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/obor_20180818_005522.jpg)