Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Mencermati Daftar Saham Layak Koleksi

Saham-saham penghuni indeks LQ45 cenderung melemah sepanjang tahun ini. Ini tercermin dari kinerja indeks LQ45

Penulis: Tim Tribun Manado | Editor: Lodie_Tombeg
kontan
Pergerakan indeks harga saham gabungan 

TRIBUNMANADO.CO.ID, JAKARTA - Saham-saham penghuni indeks LQ45 cenderung melemah sepanjang tahun ini. Ini tercermin dari kinerja indeks LQ45, yang turun 11,71% per Jumat (3/8). Penurunannya hampir dua kali lipat dibandingkan IHSG, yang terkoreksi 5,23%.

Saham AKR Corporindo (AKRA) mengalami penurunan paling tajam, yakni mencapai 33,39%.

Lalu, Indocement Tunggal Prakarsa (ITMG) minus 32,57% dan Bank Tabungan Negara (BBTN) turun 31,37%.

Dari jajaran big caps penghuni LQ45, penurunan signifikan dialami HMSP, TLKM, UNVR, ASII dan BBRI. Kelima saham ini berturut-turut tergerus 20,30%, 22,10%, 19,60%, 14,20% dan 8,50% sejak awal tahun ini.

Hans Kwee, Direktur Investa Saran Mandiri, mengatakan, saham big caps terkoreksi karena tahun lalu sudah naik tinggi. "Sehingga investor memilih profit taking," kata dia, Minggu (5/8).

Apalagi, sentimen perang dagang dan kenaikan suku bunga bank sentral Amerika Serikat membayangi pasar modal. Pemodal asing pada tahun ini juga cenderung net sell karena mengatur ulang alokasi investasi.

Meski begitu, kata Hans, fundamental pasar saham dalam negeri cukup solid. Penurunan harga saham bisa dimanfaatkan untuk akumulasi beli.

Harus selektif

Hans merekomendasikan saham perbankan, yaitu BMRI dan BBRI. Di sektor konsumer, UNVR masih menarik. Sebab, tahun depan ada sentimen pilkada, yang berpotensi mendongkrak kinerja emiten konsumer.

William Hartanto, analis Panin Sekuritas, menilai, banyak saham sudah di level bottom, bahkan ada yang mulai rebound, seperti ASII dan HMSP.

Menurut dia, sejumlah saham berpotensi kembali naik ke level tertinggi, terutama saham bank, seperti BBNI dan BMRI. "Apalagi bank diuntungkan dengan adanya kenaikan bunga kredit, yang bisa meningkatkan pendapatan," ulas dia.

Sedangkan analis Paramitra Alfa Sekuritas William Siregar menyebut, peluang kenaikan saham konsumsi dan konstruksi masih terbuka hingga akhir tahun ini.

Sektor konsumer akan terdongkrak daya beli masyarakat. Sementara, konstruksi terkait erat dengan proyek pemerintah yang gencar jelang pemilu.

William Siregar menyarankan beli HMSP dengan target harga Rp 4.200 dan WSKT dengan target harga Rp 4.200 per saham.
Menurut analisa Analis Trimegah Sekuritas Rovandi, hingga akhir tahun IHSG cenderung masih akan tertekan, sehingga investor harus selektif masuk ke saham LQ45.

Sentimen negatif di pasar, seperti potensi kenaikan suku bunga AS, pelemahan rupiah dan isu perang dagang, masih terlihat. "Kenaikan harga batubara dan minyak mentah juga negatif, kecuali bagi emiten komoditas, ini justru berkah," kata dia.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved