Prospek Sektor Batubara Masih Oke
Prospek sektor batubara tahun ini tampaknya tak akan sehangat tahun lalu. Hal itu setidaknya tercermin
Penulis: Tim Tribun Manado | Editor: Lodie_Tombeg
TRIBUNMANADO.CO.ID, JAKARTA - Prospek sektor batubara tahun ini tampaknya tak akan sehangat tahun lalu. Hal itu setidaknya tercermin dari performa PT United Tractors Tbk (UNTR) yang mulai melambat tahun ini.
Perusahaan ini menargetkan penjualan 4.500 unit alat berat tahun ini, naik 18% dibanding realisasi tahun lalu, 3.788 unit. Hingga paruh waktu tahun ini, realisasi penjualan mencapai 2.400 unit, atau setara 53% dari target.
"Belum ada revisi target untuk tahun ini," ujar Sekretaris Perusahaan UNTR Sara K. Loebis kepada KONTAN belum lama ini.
Kondisi tersebut berbeda dengan tahun lalu. Anak usaha PT Astra International Tbk (ASII) ini bahkan merevisi naik target penjualan hingga dua kali. Belum genap satu semester, realisasi penjualan UNTR tahun lalu sudah mencapai 55% dari target.
Meski demikian, Sara menuturkan tidak adanya revisi bukan berarti sinyal sektor batubara akan kembali tertekan. Ini terjadi lebih karena kondisi sektornya yang mulai stabil. "Proses suplai dan permintaan sudah mulai stabil," tandas Sara.
Setali tiga uang, manajemen PT Delta Dunia Makmur Tbk (DOID) juga menyebut kondisi sektor batubara saat ini sudah bagus dan stabil.
Mulai melambatnya perolehan kontrak bukan berarti sektor ini kembali negatif. "Pembicaraan kontrak baru masih berjalan," ujar Eddy Porwanto, Direktur Keuangan DOID.
Pada tahun ini, DOID telah memperoleh kontrak penambangan batubara senilai US$ 7 miliar. Pencapaian tersebut sudah 100% dari target dan tercapai sejak kuartal satu.
Saat ini, DOID masih mengincar setidaknya tiga kontrak lagi di sisa paruh waktu tahun ini. Sayangnya, manajemen emiten tambang ini belum bersedia mengungkap kontrak mana yang jadi incaran.
Pencabutan DMO
Andy Wibowo Gunawan, Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia, juga masih bullish dengan prospek sektor batubara. Tingginya harga komoditas ini masih akan bertahan beberapa waktu ke depan.
Pergerakan harga tahun ini masih dipengaruhi oleh permintaan batubara dari China. "China akan menghadapi musim dingin semester dua," ujar Andy. Pada momen itu biasanya permintaan batubara meningkat.
Meski Indonesia termasuk produsen terbesar, Indonesia tak bisa mempengaruhi harga batubara.
Kenaikan permintaan batubara akan mengerek harga, atau minimal menjaga harga tak turun. Diperkirakan, harga batubara global akan bertahan di US$ 90 per ton dan US$ 95 per ton masing-masing untuk tahun ini dan 2019.
Karena itu, analis yakin saham batubara masih prospektif. Cuma, sektor ini memang kembali dibayangi sentimen dibatalkannya rencana pencabutan kuota domestic market obligation (DMO).
Tapi, meski DMO berlanjut, transfer kuota masih bisa mengompensasi tekanan dari perbedaan harga antara batubara DMO dan global.
Perusahaan batubara yang kelebihan kuota DMO bisa menjualnya ke perusahaan lain yang masih kekurangan.
Harga transfer kuota ditentukan business to business (B2B).
Analis menilai perusahaan yang kesulitan memenuhi kuota DMO pasti akan menyerap kelebihan produksi batubara perusahaan lain. Sebab, hukuman bagi perusahaan yang gagal memenuhi kiota berupa pemotongan kapasitas produksi.
Andy memberi overweight dengan sektor batubara. Tapi, ia memberi rekomendasi hold untuk PTBA dengan target harga Rp 5.000 per saham. "Itu karena potensi upside PTBA kurang dari 10%," kata Andy. Kemarin, saham PTBA ditutup di Rp 4.480 per saham.
Biaya Emiten Berbasis Baja Bisa Meningkat
Pemerintah tengah menggodok berbagai upaya untuk menahan potensi limpahan impor ke dalam negeri akibat perang dagang. Salah satu caranya lewat hambatan non tarif atau non tariff barriers.
Jadi, pemerintah akan menerapkan hambatan berupa persyaratan teknis yang harus dipenuhi produk sebelum masuk Indonesia. Hal ini akan berimbas pada impor bahan-bahan industri, termasuk baja dan logam.
Apakah kebijakan ini akan berimbas pada biaya produksi emiten baja? Direktur Pemasaran Krakatau Steel (KRAS) KRAS Purwono Widodo mengatakan non tariff barriers untuk mengurangi impor justru menjadi sentimen positif bagi KRAS.
"Ini akan sangat membantu KRAS karena bisa mengurangi impor baja yang terindikasi merusak harga, seperti baja paduan dari China," kata dia, kemarin (31/7).
Menurut Purwono, selama ini ada peningkatan impor baja harga murah, sehingga merusak harga di pasar domestik. Dengan kebijakan ini, volume impor baja asal China untuk dijual di pasar domestik akan berkurang.
Jika impor baja paduan yang murah berkurang, KRAS dapat memaksimalkan penggunaan produksi baja dalam negeri. Jika masih kurang, impor bisa dilakukan secara fair, sehingga tidak merusak harga di pasar domestik.
Direktur PT Pelangi Indah Canindo Tbk (PICO) Rubianto menyebut, non tariff barriers tak mempengaruhi kinerja secara langsung. Sebab, produsen kemasan berbahan metal ini tak menggunakan produk impor, melainkan dari Krakatau Steel.
Biaya produksi naik
Namun, ia tak menampik kebijakan ini bisa menyebabkan harga bahan baku baja secara global naik. Dus, harga produk KRAS berpotensi naik.
Jika ini terjadi, perusahaan menanggung kenaikan biaya, sehingga harga jual produk harus naik. "Jika nanti naik 5%, kami perlu koreksi harga," imbuh Rubianto.
Analis MNC Sekuritas Edwin Sebayang menyebut, banyak perusahaan mengimpor baja dari luar karena harganya lebih murah.
Jika kebijakan ini diterapkan, maka akan berimbas pada peningkatan biaya produksi industri baja dan logam lokal.
M. Nafan Aji, analis Binaartha Parama Sekuritas, menilai, non tariff barriers akan mempengaruhi permintaan masyarakat terhadap produk-produk dalam negeri termasuk industri baja dan logam.
Sehingga, daya saing emiten baja akan tergantung pada strategi masing-masing untuk meningkatkan kualitas produk dan penjualan dengan harga jual yang masuk akal.
Di industri baja, Nafan merekomendasikan beli KRAS dengan target harga jangka panjang di Rp 755 per saham. Ia juga menyarankan beli BTON selama bertahan di atas Rp 252. (Krisantus de Rosari Binsasi/Dityasa Hanin Forddanta)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/batubara_20180220_225306.jpg)