Sabtu, 2 Mei 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Dari Rela tak Makan Hingga Berutang Demi Pakai Baju Merek Ternama, Inilah Hidup Ala La Sape

Republik Demokratik Kongo bukanlah negara maju yang kaya dan masyarakatnya hidup mewah bergelimang harta.

Tayang:
Editor:
Sapeur anggota Komunitas La Sape yang mengutamakan fashion daripada kebutuhannya yang lain. 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Republik Demokratik Kongo bukanlah negara maju yang kaya dan masyarakatnya hidup mewah bergelimang harta.

Negara ini penuh dengan sejarah kemiskinan, penyakit, kekurangan gizi dan konflik berat sepanjang tahun 1990-an, yang telah merenggut ribuan nyawa warga sipil.

Namun, di tengah kekacauan Kongo, para pesolek yang mengaku diri dari sub-Sahara Afrika, menjalani kehidupan yang kontras dengan lingkungan mereka.

Panggil orang-orang ini Sapeur, diambil dari bahasa Prancis modern yang berarti "berpakaian dengan kelas."

Baca: Jouse Mourinho Kecewa 2 Pemain Ini Gagal Dibeli Manchester United

Sapeur juga merupakan akronim dari kelompok sosial mereka: La Société des Ambianceurs et des Personnes Élégantes (Masyarakat Ambianceur dan Orang Elegan).

Mereka juga dikenal sebagai komunitas La Sape, kumpulan orang-orang pencinta fashion.

Penampilan mereka sangat khas, mengenakan pakaian-pakaian bermerek dan mahal. Meski begitu mereka bukanlah orang kaya.

Sapeur adalah orang-orang yang tinggal di Brazzaville, kota besar Kongo. Pekerjaan mereka umumnya adalah supir taksi, petani, dan tukang kayu.

Meskipun hidup yang Sapeur jalani tampak mengensankan pada pandangan pertama, ini bukan tanpa sisi gelap.

Sementara sebagian besar orang menghasilkan cukup uang untuk makan adalah prioritas, bagi Sapeur, mendapatkan cukup uang untuk membeli topi dari desainer Perancis atau Italia serta pakaian merek ternama dalah yang utama.

Kemiskinan ekstrim di Kota tempat tinggal kumuh Sapeur menyebabkan kekhawatiran, fashion telah menguasai kebutuhan dasar manusia.

Lebih jauh, Sapeur justru membanggakan kemampuan mereka untuk dapat mencuci, serta tetap bersih dan higenis, ditengah negara yang persediaan airnya terbatas.

Bahkan, mereka juga mengorbankan kesempatan pindah ke rumah yang lebih baik, membeli mobil atau membayar uang sekolah anaknya, untuk dapat memenuhi hasrat fashionnya.

Banyak yang menggunakan cara ilegal untuk mendapatkan pakaian yang diinginkan, beberapa juga telah berakhir di balik terali besi.

Baca: Putri Mungil Kahiyang Lahir Melalui Persalinan Caesar, Beratnya 3,4 Kg

Asal Mula

Halaman 1/2
Tags
utang
Kongo
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved