Tekanan bagi Saham Kebun Masih Besar
Kinerja emiten perkebunan masih loyo. Di paruh pertama tahun ini, laba bersih beberapa emiten perkebunan
Penulis: Tim Tribun Manado | Editor: Lodie_Tombeg
TRIBUNMANADO.CO.ID, JAKARTA - Kinerja emiten perkebunan masih loyo. Di paruh pertama tahun ini, laba bersih beberapa emiten perkebunan turun dobel digit.
Lesunya kinerja emiten perkebunan akibat volume penjualan dan dan harga crude palm oil (CPO) yang layu.
Sebagai contoh, pendapatan PT PP London Sumatra Indonesia Tbk melorot 28,5% menjadi Rp 1,76 triliun. Penurunan pendapatan emiten berkode LSIP ini lantaran volume penjualan produk CPO turun 19,9% menjadi 171.012 ton.
Alhasil, laba LSIP juga ikut juga menyusut 47,51% menjadi Rp 224,9 miliar.
Setali tiga uang, pendapatan PT Salim Ivomas Pratama Tbk (SIMP) juga turun 22,12% menjadi Rp 6,63 triliun. Loyonya pendapatan ini karena penjualan CPO perusahaan turun 18% menjadi 355.000 ton dari sebelumnya 431.000 ton (yoy).
Alhasil, laba bersihnya ikut terpangkas 81,83% menjadi Rp 57,1 miliar.
Hanya PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) yang pendapatannya naik 5,56% menjadi Rp 9,02 triliun dibanding tahun lalu yang Rp 8,55 triliun.
Namun, laba bersih AALI terpangkas 19,90% jadi Rp 1,65 triliun akibat kenaikan beban pokok pendapatan 13,66% menjadi Rp 7,37 triliun.
Analis Semesta Indovest Aditya Perdana Putra menuturkan, kinerja emiten perkebunan kerap dipengaruhi cuaca dan harga komoditas.
"Pelemahan harga CPO membuat harga jual emiten perkebunan terpangkas," katanya. Selain itu, ada faktor global seperti sentimen proteksi dari negara tujuan ekspor.
Makanya, Aditya bilang, investor harus memperhatikan momentum jika ingin mendulang untung di sektor ini.
Meski harga sahamnya tak selalu terangkat naik, investor bisa memanfaatkan peluang lewat volume pembelian saham saat harga CPO menanjak.
Menurut Kepala Riset Narada Aset Manajemen Kiswoyo Adi Joe, umumnya kinerja emiten perkebunan akan terdongkrak di semester kedua. "Kalau lihat polanya, kinerja di semester kedua baru positif," katanya.
Aditya merekomendasikan posisi netral untuk semua emiten perkebunan. Saham yang harganya di bawah bisa jadi pertimbangan investor. Adapun target harga LSIP di level 1.080, BWPT 200, AALI 11.500 dan SSMS 1.400.
Kiswoyo rekomendasikan emiten dengan usia tanaman lebih muda, seperti PT Eagle High Plantations Tbk (BWPT) dengan target harga 400.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/sawit_20180131_002855.jpg)