Beginilah Potret Tukang Ojek Kebun di Kotamobagu, Waswas saat Melintas di Jembatan Gantung

Medan, gunung serta jembatan gantung kayu, menjadi tantangan utama Jamal Aringking dan kawan-kawan mencari uang.

Beginilah Potret Tukang Ojek Kebun di Kotamobagu, Waswas saat Melintas di Jembatan Gantung
TRIBUN MANADO/VENDI LERA
Ojek pengantar hasil bumi dari kebun sampai ke pusat Kota Kotamobagu, Sulawesi Utara. 

TRIBUNMANADO.CO.ID, KOTAMOBAGU - Medan, gunung serta jembatan gantung kayu, menjadi tantangan utama Jamal Aringking dan kawan-kawan mencari uang.

Bekerja sebagai ojek pengantar hasil bumi dari kebun sampai ke pusat Kota Kotamobagu, membuat Jamal Aringking Cs tak berhenti berusaha.

Pantauan tribunmanado, Selasa (24/7/2018), Jamal bersama teman lainnya pulang dari Perkebunan Mobonod, daerah perbatasan Kotamobagu dan Bolmong. Jamal yang mengunakan sepeda motor harus berhati-hati melewati jembatan gantung tua di Kelurahan Mongkonai.

Karung yang diisi hasil perkebunan dibawa mengunakan sepeda motor, di depan juga di belakang. Rasa takut sering menghantui, ketika melitas di atas jembatan.

"Rasa waswas selalu ada, saat saya melintas di atas jembatan gantung ini. Namun apa boleh buat, ini akses satu-satunya menuju keluharan Mongkonai," ujar Jamal Aringking.

Menurut dia, hasil yang diperoleh dari ojek kebun ini, lumayan banyak. Per hari bisa mendapat Rp100-200 ribu.
Tarif untuk ojek kebun ini tergantung kesepakatan antara penumpang dan tukang ojek serta jarak tempuh.
Dari Kilo 7 sampai Mongkonai tarifnya Rp70 ribu sedangkan Kilo 14 sampai Mongkonai Rp100. Kalau ada barang dihitung sendiri per karung Rp35 ribu.

Hendi Paputungan, warga Mongkonai mengatakan, jumlah ojek kebun yang bolak-balik di sini, berjumlah tujuh orang.

"Tiap hari kami selalu bergantian naik turun mengantar dan memuat barang dari perkebunan," ujar Hendi Paputungan.

Ia mengatakan, barang yang diantar paling banyak setiap hari buah nenas serta kemiri.
"Kami sudah punya langganan tetap. Untuk mengambil atau mengantar hasil perkebunan," ujar dia lagi.
Kardi Mooduto, petani Pangiang mengatakan, biasanya tiga hari baru turun dari kebun.

"Saya sudah 1980 berkebun di sini. Memang ojek kebun sangat membantu. Karena jarak ke Mongkonai cukup jauh, untuk membawa hasil perkebunan," ujar Kardi Mooduto.

Ia menambahkan, adanya perhatian Pemerintah Kotamobagu, membuat akses lebih layak lagi ke perkebunan. (ven)

Penulis: Vendi Lera
Editor: David_Kusuma
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved